The Pharmacist Room

APAKAH HEPATITIS AKUT BERBAHAYA

            
Hepatitis akut merupakan penyakit infeksi akut dengan gejala utama berhubungan erat dengan adanya nekrosis pada hati. Biasanya disebabkan oleh virus yaitu virus hepatitis A, virus hepatitis B, virus hepatitis C, dan virus-virus lain (Mansjoer, 2005).

Patofisiologi
  • Sistem imun bertanggung jawab untuk terjadinya kerusakan sel hati melibatkan respon CD8 dan CD4 sel T serta produksi sitokin di hati dan sistemik.
  • Efek sitopatik langsung dari virus
(Sudoyo, 2007).

  Gambaran Klinis
Pada infeksi yang sembuh spontan:
·   Spektrum penyakit mulai dari asimtomatik, infeksi yang tidak nyata sampai kondisi yang fatal sehingga terjadi gagal hati akut.
·   Sindrom klinis yang mirip pada semua virus penyebab mulai dari gejala prodromal yang non spesifik dan gejala gastrointestinal seperti a) malaise, anoreksia, mual dan muntah. b) gejala flu, faringitis, batuk, coryza, fotofobia, sakit kepala , dan mialgia.
·   Awitan gejala cenderung muncul mendadak pada HAV dan HEV, pada virus yang lain secara insidious.
·   Demam jarang ditemukan kecuali pada infeksi HAV.
·    Immune complexmediated, serum sickness like syndrome dapat ditemukan pada kurang dari 10% pasien  engan infeksi HBV, jarang pada infeksi virus yang lain.
·   Gejala prodromal menghilang pada saat timbul kuning, tetap gejala anoreksia, malaise, dan kelemahan dapat menetap.
·   Ikterus didahului dengan kemunculan urin berwarna gelap, pruritus (biasanya ringan dan sementara) dapat timbul ketika ikterus meningkat.
·   Pemeriksaan fisis menunjukkan pembesaran dan sedikit nyeri tekan pada hati.
·   Splenomegali ringan dan limfadenopati pada 15-20% pasien.
(Sudoyo, 2007)

 Pencegahan
Terhadap virus hepatitis A
§ Penyebaran secara fekal-oral, pencegahan masih sulit karena adanya karier dari virus tipe A yang sulit ditetapkan.
§ Virus ini resisten terhadap cara-cara sterilisasi biasa. Sanitasi yang sempurna, kesehatan umum, dan pembuangan tinja yang baik sangat penting. Tinja, darah, dan urin pasien harus dianggap infeksius. Virus dikeluarkan di tinja mulai sekitar 2 minggu sebelum ikterus.
Terhadap virus hepatitis B
§ Dapat ditularkan melalui darah dan produk darah. Darah tidak dapat disterilkan dari virus hepatitis. Pasien hepatitis sebaiknya tidak menjadi donor darah.
§ Usaha pencegahan yang paling efektif adalah imunisasi. Imunisasi hepatitis B dilakukan terhadap bayi-bayi setelah dilakukan penyaring HB- sAg pada ibu-ibu hamil. Namun, saat ini di beberapa negara (termasuk Indonesia) bayi-bayi lahir diberi vaksinasi hepatitis B tanpa melakukan pemeriksaan penyaring pada ibunya.
Pencegahan dengan imunoglobulin
Pemberian imunoglobulin (HBIg) dalam penccegahan hepatitis infeksiosa memberi pengaruh yang baik, sedangkan pada hepatitis serum masih diragukan kegunaannya. Diberikan dalam dosis 0,02 ml/kg BB i.m dan ini dapat mencegah timbulnya gejala pada 80-90%. Diberikan pada mereka yang dicurigai ada kontak dengan pasien (Mansjoer, 2005).

 Penatalaksanaan
§  Istirahat baring pada masa masih banyak keluhan, mobilisasi berangsur dimulai jika keluhan atau gejala berkurang, bilirubin dan transaminase serum menurun, aktivitas normal sehari-hari dimulai setelah keluhan hilang dan data laboratorium normal.
§  Diit khusus tak ada, yang penting adalah jumlah kalori dan protein adekuat, disesuaikan dengan selera penderita, terkadang pemasukan nutrisi dan cairan kurang akibat mual dan muntah, sehingga perlu ditunjang oleh nutrisi parenteral, infus dekstrose 10-20% 1500 kalori/hari.
§  Hingga sekarang belum ada pengobatan spesifik bagi hepatitis virus akut. Tidak ada indikasi terapi kortikosteroid untuk hepatitis virus akut, penambahan vitamin dengan makanan tinggi kalori atau protein pada penderita yang mengalami penurunan berat badan atau malnutrisi.
(Pedoman Diagnosa dan Terapi, 2008)

 Tinjauan Kolelitiasis
Kolelitiasis (batu empedu)
Pada umumnya batu empedu dapat dibagi menjadi 3 tipe, yaitu:
·      tipe kolesterol
·      tipe pigmen empedu
·      tipe campuran
Beberapa faktor resiko terjadinya batu empedu antara lain jenis kelamin, umur, hormon wanita, infeksi (kolesistitis), kegemukan, serta faktor genetik.
Terjadinya batu kolesterol adalah akibat gangguan hati yang mengekskresikan kolesterol berlebihan hingga kadarnya diatas nilai kritis kelarutan kolesterol dalam empedu.
Sedangkan tipe pigmen biasanya adalah akibat proses hemolitik atau infeksi E.coli atau Ascaris lumbricoides ke dalam empedu yang dapat mengubah bilirubin diglukuronida menjadi bilirubin bebas yang mungkin dapat menjadi kristal kalsium bilirubin (Mansjoer, 2005).

Manifestasi Klinis
            Kelainan ini frekuensinya meningkat sesuai bertambahnya umur. Mungkin tanpa gejala, mungkin pula terdapat gejala-gejala seperti perasaan penuh di epigastrium, nyeri perut kanan atas, atau dapat juga kolik bilier disertai demam dan ikterus (Mansjoer, 2005).

Komplikasi
            Komplikasi yang penting ialah terjadinya kolesistitis akut dan kronik, koledokolitiasis, dan pankreatitis. Yang lebih jarang ialah kolangitis, abses hati, sirosis bilier, empiema, dan ikterus obstruktif (Mansjoer, 2005).

Penatalaksanaan
·         Konservatif
a.       Diet rendah lemak
b.      Obat-obat antikolinergik-antispasmoidik
c.       Analgesik
d.      Antibiotik, bila disertai kolesistitis
e.       Asam empedu (asam kenodeoksikolat) 6,75-4,5 g/hari, diberikan dalam waktu lama, dikatakan dapat menghilangkan batu empedu, terutama batu kolesterol. Asam ini mengubah empedu yang mengandung banyak kolesterol (lithogenic bile) menjadi empedu dengan komposisi normal. Dapat juga untuk pencegahan, namun efek toksiknya banyak, kadang-kadang diare
·         Kolesistektomi
Dengan Kolesistektomi, pasien tetap dapat hidup normal. Umumnya dilakukan pada pasien dengan kolik bilier atau diabetes (Mansjoer, 2005).

 Kami harap dengan Ikhlas untuk segera bergabung di TEAM kami di Web di bawah ini dan Raih Uang Puluhan Juta : by Tung Desem Waringin 


DAFTAR PUSTAKA

Deska Pagana, Kathleen, James Pagana, Timothy, 2002, Mosby’s Manual of Diagnostic and Laboratory Test, 2nd edition, St. Louis: Mosby’s Inc
Ganiswara, Setiabudi R., Suyatna FD., Purwantyastuti., Nafriadi., 1995. Farmakologi dan Terapi, Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, p 48-49, 504
Mansjoer, Suprohaita., Wardhani WI., Setiowulan W., 2005. Kapita Selekta Kedokteran, jilid 2. Media Aesculapius, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, p 513-514
Sacher RA and McPherson RA., 2004. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium, edisi 11. Penerbit Buku Kedokteran ECG, p 364-365, 371
Sudoyo, Setiyohadi B., Alwi I., Simadibrata M., Setiati S., 2007. Hepatitis Virus Akut. In: Andri Sanityoso, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya : Airlangga University Press, p. 427–432
Tjokroprawiro A., Hendramartono dan Sutjahjo A.., 2008. Pedoman Diagnosa dan Terapi bag/SMF Ilmu Penyakit Dalam. Rumah   Sakit Umum Dr.Soetomo: Surabaya

GASTROENTERITIS AKUT (GEA) + CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD)

I. GASTRO ENTERITIS AKUT
DEFINISI
Gastroenteritis merupakan keadaan non-spesifik untuk berbagai macam keadaan patologis di jalur gastrointestinal. Manifestasi utama dari gastroenteritis adalah diare  (Diskin, 2009). Diare akut merupakan diare yang terjadi selama kurang dari 14 hari (Spruill & Wade, 2008).


ETIOLOGI
Agen infeksius biasanya menjadi penyebab GEA. Agen ini menyebabkan diare dengan penempelan, invasi mukosa, produksi enterotoksin dan atau produksi sitotoksin (Diskin, 2009).
Diare akut dapat juga dapat disebabkan oleh intoksikasi (poisoning), alergi, reaksi obat-obatan, dan juga faktor psikis (Zein, 2004)

PATOFISIOLOGI
Pendekatan klinis yang sederhana dan mudah adalah pembagian diare akut berdasarkan proses patofisiologi enteric infection, yaitu membagi diare akut atas mekanisme Inflamatory, Non inflammatory, dan Penetrating.
 Inflamatory diarrhea akibat proses invasion dan cytotoxin di kolon dengan manifestasi sindroma Disentri dengan diare yang disertai lendir dan darah (disebut juga Bloody diarrhea). Biasanya gejala klinis yang menyertai adalah keluhan abdominal seperti mulas sampai nyeri seperti kolik, mual, muntah, demam, tenesmus, serta gejala dan tanda dehidrasi. Pada pemeriksaan tinja rutin secara makroskopis ditemukan lendir dan/atau darah, secara mikroskopis didapati leukosit polimorfonuklear. Mikroorganisme penyebab seperti, E.histolytica, Shigella, Entero Invasive E.coli (EIEC),V.parahaemolitycus, C.difficile, dan C.jejuni.
Non Inflamatory diarrhea dengan kelainan yang ditemukan di usus halus bagian proksimal, Proses diare adalah akibat adanya enterotoksin yang mengakibatkan diare cair dengan volume yang besar tanpa lendir dan darah, yang disebut dengan Watery diarrhea. Keluhan abdominal biasanya minimal atau tidak ada sama sekali, namun gejala dan tanda dehidrasi cepat timbul, terutama pada kasus yang tidak segera mendapat cairan pengganti. Pada pemeriksaan tinja secara rutin tidak ditemukan leukosit. Mikroorganisme penyebab seperti, V.cholerae, Enterotoxigenic E.coli (ETEC), Salmonella.
Penetrating diarrhea, lokasi pada bagian distal usus halus. Penyakit ini disebut juga Enteric fever, Chronic Septicemia, dengan gejala klinis demam disertai diare. Pada pemeriksaan tinja secara rutin didapati leukosit mononuclear. Mikrooragnisme penyebab biasanya S.thypi, S.parathypi A,B, S.enteritidis, S.cholerasuis, Y.enterocolitidea, dan C.fetus.

Karakteristik Pada 3 Tipe Diare Akut
Karakteristik
Inflamatory
Non-Inflamatory
Penetrating
Gambaran Tinja
Berdarah, mukus
volume sedang
Leukosit PMN
Berair
Volume>>>
Leukosit (-)
Mukus
Volume sedikit
Leukosit MN
Demam
+
-
+
Nyeri Perut
+
-
±
Dehidrasi
+
+++
±
Tenesmus
+
-
-
Komplikasi
Toksik
Hipovolemik
Sepsis
(Zein, 2004)

MANIFESTASI KLINIS
            Beberapa manifestasi klinis dari GEA sbb:
1.      Diare, peningkatan jumlah feses dengan konsistensi yang menurun/encer, merupakan manifestasi utama dari GEA.
2.      Panas, adanya panas (dengan demam maupun tidak) secara umum menunjukkan adanya organisme invasif sebagai penyebab diare.
3.      Muntah, merupakan tanda adanya obstruksi usus
4.      Nyeri perut, berkaitan dengan lokasi infeksi karena kolonisasi bakteri
5.      Kram, berkaitan dengan ketidakseimbangan elektrolit (electrolic imbalance)
6.      Tenesmus & Fecal urgency, dorongan konstan untuk defekasi
(Diskin, 2009)

PENATALAKSANAAN TERAPI
Terapi untuk GEA merupakan terapi untuk diare akut sebagai manifestasinya. (Farthing, 2008; DuPont, 1997)
·         Terapi Cairan dan Elektrolit
Semua pasien yang mengalami diare membutuhkan evaluasi medik, terapi cairan dan elektroli harus menjadi bagian dari penanganan.
Terapi ini merupakan yang paling penting untuk mencegah atau menghindari dehidrasi. Cairan elektrolit mengandung Na 60-90 mEq/L, K 20 mEq/L, Cl 80 mEq/L, Sitrat 30 mEq/L, dan glukosa 20 g/L.
Diet yang tepat harus dibeikan sebagai pengganti energi yang terbuat dan memfasilitasi perbaruan enterosit. Pemberian susu dihindari untuk menghindari lebih parahnya diare karena intoleransi laktosa.
·         Terapi Non Spesifik
Obat yang digunakan pada terapi ini digunakan untuk mengatasi simptomatik diare, tidak mengatasi penyebab diare.
Obat antimotilitas seperti Loperamide merupakan pilihan untuk diare pada dewasa (4-6mg/ hari). Loperamide menghambat peristaltik usus. Loperamide tidak dapat digunakan pada inflamatory diarrhea.
Obat anti sekresi seperti Bismuth subsalisilat digunakan untuk pasien yang mengalami diare dengan keluhan mual dan muntah
Penggunaan adsorben seperti Kaolin-Pectin, Karbon aktif, dan Attapulgite terbukti kurang kuat untuk mengatasi diare akut pada dewasa.
·         Terapi Antimikroba
Antimikroba digunakan untuk membunuh kuman yang telah dibuktikan dari sampel feses.


o   Kolera
Terapi pilihan pertama: Doxycycline 300mg sekali atau Tetrasiklin 500 mg sekali sehari selama 3 hari
Alternatif dapat digunakan Azithromycin atau Ciprofloxacin
o   Shigellosis
Terapi pilihan pertama Ciprofloxacin 500mg 2dd1 selama 3 hari. Alternatif dapat digunakan Pivmecillinam 400mg 4dd1 selama 5 hari.
o   Amoebiasis
Metronidazole 750mg 3dd1 selama 5 hari, dapat diperpanjang selama 10 hari bila parah.
o   Giardiasis
Metronidazole 250mg 3dd1 selama 5 hari
o   Campylobacter
Digunakan Azithromycin

II. CHRONIC KIDNEY DISEASE
DEFINISI
 Chronic Kidney Disease (CKD) adalah suatu sindroma klinis dimana terjadi penurunan fungsi ginjal secara menetap akibat kerusakan nefron. Penurunan fungsi ginjal ini berjalan secara kronis dan progresif sehingga pada akhirnya akan terjadi gagal ginjal terminal (Tjokroprawiro et al,  2007). CKD juga merupakan kelanjutan dari gagal ginjal akut yang tidak merespon terhadap terapi yang diberikan. Gagal ginjal akut tidak memiliki definisi yang pasti. Kriterianya meliputi salah satu atau kombinasi dari perubahan nilai absolut serum kreatinin atau pengeluaran urin sehari. Definisi yang umum adalah peningkatan serum kreatinin lebih dari 1,0 mg/dl. Gagal ginjal akut ditandai oleh penurunan laju filtrasi glomerulus yang cepat (dalam beberapa jam sampai beberapa minggu) dan penimbunan produk buangan nitrogen (Brandy and Brenner, 2000).



ETIOLOGI
§  Faktor susceptible
Individu dengan faktor susceptible mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya penyakit ginjal, meskipun faktor tersebut tidak terbukti secara langsung menyebabkan kerusakan ginjal. Faktor tersebut antara lain : pertambahan usia, penurunan massa ginjal dan berat lahir rendah, ras/etnik, riwayat keluarga, pendapatan dan pendidikan yang rendah, inflamasi sistemik dan dislipidemia.
§  Faktor inisisasi
Merupakan faktor yang secara langsung dapat menyebabkan kerusakan ginjal, meliputi : diabetes melitus, hipertensi, penyakit autoimun, Polycystic Kidney Disease, toksisitas obat, infeksi saluran kemih dan obstruksi saluran kemih bawah.
§  Faktor progresif      
Merupakan faktor yang memperparah terjadinya kerusakan ginjal yang dikaitkan dengan penurunan yang cepat terhadap kerusakan ginjal akibat faktor inisiasi, yang meliputi : glikemia, peningkatan tekanan darah, merokok dan proteinuria (Joy et al, 2008).

KLASIFIKASI
CKD telah diklasifikasi menjadi beberapa tahapan atau stadium untuk mengetahui tahap kerusakan yang telah dialami.
Stadium
Definisi
Nilai GFR
(ml/menit/1,73 m2)
1


2


3


4


5
Kerusakan ginjal dengan nilai GFR normal atau meningkat

Kerusakan ginjal dengan penurunan GFR ringan

Kerusakan ginjal dengan penurunan GFR sedang

Kerusakan ginjal dengan penurunan GFR berat

Gagal ginjal tahap terminal
> 90


60-89



30-59

15-29


< 15

PATOFISIOLOGI
Berbagai faktor etiologi menyebabkan kerusakan ginjal dengan cara yang beragam. Nefropati yang progresif akan mengakibatkan kerusakan parenkim ginjal yang ireversibel, dipengaruhi oleh faktor utama seperti massa nefron, glomerular capillary hypertension dan proteinuria. Adanya faktor resiko inisiasi mengakibatkan kehilangan massa nefron. Nefron yang masih tersisa mengalami hipertrofi sebagai kompensasi kehilangan fungsi renal trersebut. Pada tahap lebih lanjut, hipertrofi ini menjadi maladaptive dan berkembang kearah hipertensi glomerular, yang kemungkinan dimediasi oleh angiotensin II. Angiotensin II, vasokontriktor poten memiliki efek lebih kuat terhadap arteriol eferen, yang menyebabkan peningkatan tekanan dalam kapiler glomerulus. Terjadinya hipertensi intraglomerular umumnya memiliki korelasi dengan hipertensi arteri sistemik. Percobaan pada hewan membuktikan bahwa tingginya tekanan intraglomerular berdampak pada fungsi permeabilitas glomerulus sehingga terjadi albuminuria dan proteinuria (Joy et al., 2008).
Sindroma ini berhubungan dengan respon fungsional terhadap hipoperfusi ginjal dan cepat sembuh sejalan dengan adanya perbaikan aliran darah ke ginjal dan tekanan ultrafiltrasi glomerulus. Hipoperfusi yang berat ini juga dapat mengakibatkan cedera parenkim ginjal akibat iskemi dan azotemia renal intrinsic (Brandy and Brenner, 2000).
Manifestasi ARF didasarkan pada komponen organ yang terlibat. Komponen tersebut diantaranya vaskularisasi (jantung), ginjal (glomerulus tubul) dan GIT (intestinum). ARF dapat dikelompokkan menjadi empat macam: prerenal (diakibatkan dari penurunan perfusi ginjal), intrinsik (diakibatkan dari struktur ginjal yang cedera), postrenal (diakibatkan dari obstruksi aliran urin), dan fungsional (diakibatkan dari perubahan hemodinamik pada tingkatan glomerular) (Joy et al., 2008). Kerusakan ginjal akut dapat bersifat tetap pada sebagian atau keseluruhan fungsi ginjal, namun kerusakan tersebut dapat kembali normal jika ginjal dapat memperbaiki diri.
Konsentrasi garam urin yang tinggi dan pH urin yang rendah tampak meningkatkan resiko gagal ginjal akut intrinsik. Pada hiperurikosuri dan hiperoksaluri yang berat dapat menyebabkan obstruksi intratubulus dan ureter yang kemudian berkembang mengarah ke gagal ginjal akut (Joy et al., 2008). Nefropati asam urat akut secara khas juga dapat menyebabkan gagal ginjal akut. Obstruksi akut pada arteri renalis atau vena renalis (misalnya trombosis) dapat menyebabkan penurunan GFR yang mendadak jika obstruksi ini terjadi bilateral atau unilateral pada pasien fungsi ginjal soliter. Pasien dengan aterosklerosis stadium lanjut dapat berkembang menjadi gagal ginjal akut secara spontan setelah trauma atau setelah manipulasi aorta ataupun arteri renalis yang disebabkan oleh embolisasi kristal kolesterol pada vaskularisasi ginjal. Kristal kolesterol dalam arteri yang berukuran kecil atau sedang  akan mengundang reaksi fibrosis atau sebuah sel raksasa pada dinding pembuluh dengan penyempitan atau obstruksi lumen (Brandy and Brenner, 2000).

MANIFESTASI KLINIS
            Kemunduran fungsi ginjal menyebabkan produksi dan kandungan urin tidak normal. Pada CKD, mengakibatkan terjadinya proteinuria akibat permeabilitas kapiler glomerulus meningkat sehingga protein ditemukan dalam urin. Selain itu terjadi uremia akibat penumpukan metabolisme protein dalam darah karena tidak dapat diekskresi. Kondisi uremia terlihat dari kadar BUN dan kreatinin serum tinggi. Kadar normal BUN 10-20 mg/dl dan SCr rata-rata 0,5-1,2 mg/dl (Pagana & Pagana, 2002). Gejala uremia antara lain mual, muntah, kejang bahkan koma.
Komplikasi penyakit gangguan ginjal sangat kompleks mengingat banyaknya fungsi ginjal. Hambatan ekskresi natrium dan air menyebabkan hipertensi, dan udem. Asidosis metabolik juga sering terjadi akibat penurunan kemampuan ginjal untuk mengekskresikan asam-asam hasil pencernaan dan metabolisme (Ganong, 2010). Abnormalitas lipid nampak pada peningkatan LDL, penurunan HDL (< 35 mg/dl) dan peningkatan konsentrasi trigliserida. Kemudian terganggunya pembentukan eritropoietin di ginjal menyebabkan pembentukan sel darah terhambat sehingga pasien mengalami anemia. Ketidakseimbangan kalsium dan metabolisme tulang dapat dialami oleh pasien CKD akibat beberapa sebab, yaitu pembentukan 1,25-dihidroksi vitamin D menurun menyebabkan penurunan kalsium serum, kemudian overproduksi PTH, asidosis metabolik, dan hambatan absorbsi kalsium di GIT. Hiperfosfatemia berperan mengakibatkan hipokalsemia yang kemudian menjadi penyebab hiperparatiroid sekunder. Peningkatan PTH menyebabkan deplesi kalsium tulang yang kemudian dapat berakibat osteoporosis pada CKD. Keseimbangan kalium pada CKD juga terganggu karena asidosis metabolik dan penurunan ekskresi kalium sehingga menyebabkan hiperkalemia.

PENATALAKSANAAN TERAPI
Tujuan terapi pada pasien CKD adalah mencegah progresivitas penyakit ginjal yaitu dengan pengawasan terhadap progresifitas CKD meliputi pemeriksaan teratur untuk menentukan penurunan GFR, konfirmasi keberhasilan terapi, deteksi dan penanganan komplikasi yang akan memperparah CKD (Joy et al., 2008).

Terapi Infeksi
Masalah utama dalam memilih obat untuk terapi infeksi saluran kemih pada pasien dengan kelainan ginjal adalah bagaimana memperoleh konsentrasi obat yang adekuat dalam urine tanpa menyebabkan toksisitas sistemik. Obat yang ideal seharusnya memiliki kriteria tidak toksik walaupun pada konsentrasi serum yang tinggi dan terekskresi dalam keadaan tidak berubah (tidak dimetabolisme) di urine, dan dieliminasi melalui sekresi tubular ginjal. Namun belum ada obat yang memenuhi semua kriteria ini (Fish and Sahai, 1995).

Terapi Anemia
Untuk keberhasilan terapi dan memaksimalkan respon eritropoetin, maka terapi ini harus mampu menjaga jumlah besi, asam folat, dan vitamin B12 dalam darah, mengkoreksi  adanya anemia yang bukan disebabkan adanya kerusakan fungsi ginjal, dan memperhatikan rute pemberian eritropoetin sesuai dengan tujuan terapi yang diinginkan (Krauss and Hak, 2000).

Terapi Hiperkalemia
Terdapat tiga cara untuk mengatasi hiperkalemia. Yang pertama adalah pemberian agen antagonis terhadap efek hiperkalemia pada jantung, yaitu kalsium. Yang kedua adalah pemberian agen yang memindahkan kalium dari ekstra sel (dalam plasma) menuju intra sel. Terdapat tiga agen yang dapat digunakan: insulin dan glukosa, agonis b-2, dan natrium bikarbonat. Yang ketiga adalah penggunaan agen yang meningkatkan eliminasi kalium. Sodium polystyrene sulfonate yang merupakan resin penukar kation yang akan mengikat dan menghambat absorpsi kalium di usus besar kemudian meningkatkan ekskresi melalui feses (Lau & How, 1995).

Terapi Dislipidemia
HMGCo reductase inhibitor merupakan golongan obat yang paling efektif digunakan pada pasien CKD yang mengalami peningkatan kadar LDL dan kolesterol total. Turunan asam fibrat akan lebih efektif menurunkan kadar lemak yang diakibatkan meningkatnya trigliserida (Krauss and Hak, 2000).

Terapi Hipertensi
Pada CKD, hipertensi dapat menjadi penyebab maupun manifestasi klinis yang muncul. Sebagian besar penderita CKD mengalami hipertensi karena retensi air dan garam juga karena stimulasi pada sistem renin angiotensin aldosteron (Ganong, 2010). Obat yang sering digunakan untuk mengatasi hipertensi pada pasien CKD adalah diuretik furosemid dan ACEI.

Terapi Hiperurisemia
Pada pasien dengan fungsi ginjal yang baik, terapi hiperurisemia adalah pengaturan pemasukan cairan untuk mengatur konsentrasi asam urat dan menjaga pH urine 6-6,5. Namun apabila tidak berhasil dan pasien tidak dapat mentoleransi cairan maka kolkisin dan allopurinol dapat diberikan (Mc Nally, 1998). Allopurinol merupakan terapi obat pilihan pada pasien hiperurisemi yang mempunyai riwayat batu ginjal atau gangguan renal (Schwinghammer, 2006)

 SEBELUM MASUK KE DAFTAR PUSTAKA MOHON MENGISI FORM YANG ADA DI WEB DI BAWAH INI :



 
 
DAFTAR PUSTAKA


Brandy, H.R. and Brenner, B.M., 2000. Gagal Ginjal Akut. In: Isselbacher J. (Eds.), Harrison Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam, Jakarta: EGC.

Diskin, Arthur. 2009. Gastroenteritis. www.medscape.com diakses 11/06/2010

DuPont, Herbert L. 1997. Guidelines on Acute Infectious Diarrhea in Adults. In: The American Journal of Gastroenterology. The American College of Gastroenterology.

Farthing, M. 2008. World Gastroenterology Organisation Practice Guideline: Acute Diarrhea. World Gastroenterology Organisation

Fish, D.N. and Sahai, J.V., 1995. Urinary Tract Infections, In: Koda-Kimble, M.A. and Young, L.Y. (Eds.), Applied Therapeutics The Clinical Use of Drugs, 6th edition, Vancouver: Applied Therapeutics Inc.

Ganong, W.F., 2010. Review of Medical Physiology, 23rd edition, San Fransisco: Appleton and Lange.

Hassan, Yahya., Abdul Aziz, Noorizan., Al-Rumahi, Rowa. 2007. Handbook of Medication Dosing ini Renal Failure for Healthcare Professional. School of Pharmaceutical Sciences, Universiti Sains Malaysia

Joy, M.S., Kshirsagar, A., and Franceshini, N., 2008. Chronic Kidney Disease: Progression-Modifying Therapies. In: Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach 7th edition. The McGraw-Hill Companies, Inc

Krauss, A.G. and Hak, L.J., 2000. Chronic Renal Disease, In: Herfindal, E.T. and Gourley, D.R. (Eds.), Textbook of Therapeutics Drug and Disease Management, 7th edition, Philadelphia: Lippicott William and Wilkins

Lacy, Charles F., et al, 2009, Drug Information Handbook, 18th Edition, Lexi Comp Inc, North America

Lau, Alan & How, Priscilla. 2009. Fluid and Electrolyte Disorders. In: Koda-Kimble, Mary Anne. Applied Therapeutics: The Clinical Use Of Drugs, 9th Edition. Lippincott Williams & Wilkins

Mc Nally, K., 1998. Chronic Renal Disease, In: Hughes, J., Donelly, R., and Chatgilaou, G.J. (Eds.), Clinical Pharmacy, Australia: Macmilland Education Australia PTY Ltd.

Pai, A.Barton & Conner, T.A. 2009. Chronic Kidney Disease. In: Koda-Kimble, Mary Anne. Applied Therapeutics: The Clinical Use Of Drugs, 9th Edition. Lippincott Williams & Wilkins
Pagana, K.D. & Pagana, T.J. 2002. Mosby’s Manual of Diagnostic and Laboratory Test. 2nd ed. Missouri: Mosby, Inc.

Panitia Medik Farmasi dan Terapi. 1992. Pedoman Penggunaan Antibiotik Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo. Surabaya

Schwinghammer, T.L., 2006. Bone and Joint Disorders, in: Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach 6th edition. The McGraw-Hill Companies, Inc

Spruill,J.William & Wade, E.William. 2008. Diarrhea, Constipation, and Irritable Bowel Syndrome in: Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach 7th edition. The McGraw-Hill Companies, Inc

Tjokroprawiro, A., Setiawan, P.B., Santoso, D., Soegiarto, G., 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Surabaya : Airlangga University Press.

Zein, Umar. 2004. Diare Akut Infeksius Pada Dewasa. Bag. Ilmu Penyakit Dalam, Universitas Sumatera Utara.

Maximize Your Unlimited Potential

Setiap manusia dilahirkan dan dibesarkan dengan harapan menjadi seseorang yang berguna, paling tidak bagi dirinya sendiri. Dan selalu ada ilmu apapun yang mereka pelajari.

Didalam karirnya mereka terus bertumbuh dan belajar untuk mengejar karir/prestasi yang jauh lebih tinggi lagi. Dan begitu juga dengan Anda, tentunya terus mengejar karir yang jauh lebih tinggi lagi.

Tapi bagaimana dengan generasi dibawah kita ? Bukankah mereka juga membutuhkan napak tilas dari generasi diatasnya ? So, melalui ini adalah jembatan untuk yang memiliki pengetahuan, pengalaman atau apapun dibidang yang Anda tekuni saat ini. Mari berbagi sehingga teman-teman kita diluar sana yang baru akan memulai karir di bidang yang mungkin sama dengan Anda, bisa merasa terbantu dan berterimakasih.

Karena kebahagiaan terbesar, bukanlah saat Anda menerima uang. Uang akan datang dengan sendirinya ke tempat Anda, tapi jika ucapan terimakasih yang datang ketempat Anda, itu akan jauh lebih menyenangkan. Terlebih dari orang yang tidak kita kenal sebelumnya.

Mari kita mulai tongkat estafet ini dari sekarang :

Cedera Kepala


Cedera kepala adalah suatu bentuk trauma yang menginduksi perubahan struktural dan/atau gangguan fisiologi dari fungsi otak sebagai akibat dari benturan eksternal yang menghasilkan beberapa gejala klinis seperti hilang atau menurunnya tingkat kesadaran /level of consciousness (LOC), hilangnya ingatan sebelum atau sesudah benturan secara tiba-tiba /post traumatic amnesia (PTA), perubahan mental (bingung, disorientasi, lambat berpikir), neurological deficits (lemah, paresis/plegia, sensory loss, change vision), lesi intrakranial (Yates et al, 2007; Cifu et al, 2009).
Klasifikasi Cedera Kepala
(Yates et al, 2007; Darmadipura, 2008; Cifu et al, 2009)
Kriteria
Ringan
Sedang
Berat
Gambaran struktur
normal
Normal atau abnormal
Normal atau Abnormal
LOC
0-30 menit
30’- 24jam
>24jam
Perubahan mental
Saat kejadian sampai 24 jam
>24jam , keparahan tergantung dari kriteria lain
PTA
0-1 hari
1-7 hari
>7 hari
GCS (merupakan pengukuran yang terbaik pada 24 jam pertama)
13-15
9-12
3-8


Fraktur
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh trauma. Fraktur dapat dibagi menjadi (Mansjoer, 2000):
1.      Fraktur tulang tertutup, bila tidak ada hubungan antara frakmen tulang dengan jaringan luar
2.      Fraktur terbuka, bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit.

Fraktur mandibula merupakan fraktur yang yang terjadi pada daerah tulang rahang (mandibula). A. Pogrel dan L. Kaban mengklasifikasikan fraktur mandibula dalam 5 kategori berdasarkan pada tempat terjadinya fraktur, yaitu: Condylar fractures, Ramus fractures, Angle fractures, Body fracture, dan Fractures of symphysis and parasymphysis (Mihailova, 2006)

1.2 Etiologi
            Karena adanya gaya mekanik, dapat berupa benturan dan guncangan. Benturan memberikan fenomena kontak berupa tekanan yang berlebihan, tegangan dan patahan. Benturan yang terjadi menyebabkan perubahan posisi tulang, patahan, kerusakan saraf, otot, dan jaringan pembuluh darah disekitar benturan.

1.3 Gejala Klinis
Gejala Klinis cedera kepala
Fisik: pusing, nyeri, mual, muntah, gangguan tidur, sensitif terhadap cahaya dan suara, pening, lelah, letih, pandangan kabur, gangguan keseimbangan, transient neurological abnormalities.
Kognitif: gangguan perhatian, konsentrasi, memori, kecepatan memproses, keputusan.
Tingkah laku/emosi: depresi, cemas, agitation, mudah marah, impulsif, agresif (Darmadipura, 2008; Cifu et al, 2009; Yates et al, 2007).

Gejala Klinis Fraktur
·   Rasa nyeri dan tegang : nyeri umumnya menghebat bila dilakukan      gerakan.
·         Hilangnya fungsi : diakibatkan oleh rasa nyeri  atau tidak mampu untuk   melakukan gerakan.
·         Deformitas : disebabkan oleh pembengkakan atau akibat perdarahan dan posisi fragmen tulang berubah (Darmadipura, 2008)
 
1.4 Terapi
Penatalaksanaan fraktur:
  1. Reposisià memperbaiki posisi tulang yang patah agar sebisa mungkin kembali pada posisi anatomisnya
  2. Fiksasià upaya menahan agar tulang tulang yang sudah dikembalikan ke normal tidak bergeser.
  3. Rehabilitasià latihan yang dikerjakan secara teratur untuk mencapai tujuan penanganan fraktur yang optimal.
Penatalaksanaan cedera kepala:
(Yates et al, 2007; Darmadipura, 2008; Cifu et al, 2009)
  • Bedrest
  • Resusitasi cairan
  • Neurokognitif
  • Terapi untuk mengatasi gejala  spesifik yang timbul (seperti: pusing, nyeri, mual, muntah dll