The Pharmacist Room: June 2020

Laktosa anhidrat

Bentuk pemerian dari Laktosa anhidrat sebuk berwarna putih dan laktosa anhidrat mengandung anhidrat b-laktosaanhidratdan a-laktosa. Laktosaanhidratbiasanyamengandung 70-80% anhidrat b-laktosadan 20-30% anhidrat a-laktosa.
Laktosa berfungsi sebagai eksipien tablet pada metode kompresi langsung, pembawa serbuk kering pada inhaler, pengisi tablet dan kapsul serta filler tablet dan kapsul. Laktosa anhidrat banyak digunakan dalam metode kompresi langsung serta sebagai filler tablet dan kapsul maupun pengikat.
Laktosa anhidrat dapat digunakan pada obat yang kelembapan sensitif karena kadar air yang rendah dan juga dapat digunakan dalam suntikan intravena. Bentuk kelarutannya larut dalam air. Pertumbuhan jamur dapat terjadi pada kondisi lembab yang nilai RH nya 80% dan diatasnya. Laktosa dapat menimbulkan warna cokelat pada penyimpanan dengan reaksi yang dipercepat oleh suhu hangat dan kondisi yang lembab. Laktosa anhidrat disimpan dalam wadah yang tertutup ditempat yang sejuk dan kering (Rowe et al., 2009).

Starch Adalah

Starch merupakan eksipien serbaguna terutama dalam formulasi padar sediaan oral yang digunakan sebagai pengikat, pengisi, dan disintegran. Bentuk pemerian dari Starch berwarna putih menyerupai fine, tidak berasa dan tidak berbau serta menyerupai bentuk butiran bulat yang sangat kecil. Starch juga digunakan dalam formulasi pada kapsul sebagai pengisi dan juga untuk meningkatkan aliran pada serbuk bahan obat. Pada konsentrasi 3-10% Starch dapat bertindak sebagai antiadheren dan lubrican pada proses pentabletan, serta pengisi pada kapsul. Pada konsentrasi 5-10% Starch digunakan sebagai pengikat pada metode granulasi basah. Rasio pengikat yang ditentukan oleh studi optimasi dengan menggunakan beberapa parameter seperti kerapuhan, kekerasan, waktu hancur dan laju disolusi obat (Rowe et al., 2009).
Starch pada konsentrasi 3-25% dapat berfungsi sebagai disintegrant pada pembuatan tablet. Pada konsentrasi 15% pada metode granulasi sangat diperlukan untuk menghindari masalah pada aliran dan segregasi. Kombinasi Starch dan Laktosa pada metode kompresi langsung dapat meningkatkan proses pentablettan dan waktu hancur tablet. Namun pada Starch yang tidak pregelatinized mempunyai kompresibilitas yang tidak baik dan cenderung meningkatkan kerapuhan tablet dan capping jika digunakan dalam konsentrasi yang tinggi. Starch mempunyai sifat yang elastis yang telah terbukti meningkatkan sifat pemadatan tablet. Kelarutannya praktis tidak larut dalam air dingin dan menjadi larut dalam air panas jika temperaturnya diatas temperatur gelatinisasinya (Rowe et al., 2009).
Starch stabil jika terlindung dari kelembapan yang tinggi. Kelarutan Starch secara fisik tidak stabil dan mudah dimetabolisme oleh mikroorganisme, oleh karena itu harus baru disiapkan bila menggunakan metode granulasi basah. Starch harus disimpan dalam wadah kedap udara di tempat yang sejuk dan kering. Starch tidak kompatibel dengan bahan oksidator yang kuat serta senyawa inklusi yang berwarna yang terbentuk dengan yodium (Rowe et al., 2009).

Microcrystalline Cellulose Adalah




Microcrystalline Cellulose mempunyai bentuk pemerian yang berwarna putih , tidak berbau, tidak berasa sera sebuk kristalnya terdiri dari partikel yang berpori. Bahan ini banyak digunakan dalam bahan tambahan dalam pembuatan formula obat, terutama sebagai pengisi maupun pengikat dalam tablet dan kapsul dengan kedua metode yaitu granulasi basah dan kompresi langsung. Selain penggunaanya sebagai pengisi maupun pengikat Microcrystalline Cellulose juga memiliki fungsi sebagai lubrikan maupun sifat disintegran yang sangat berguna dalam pembuatan tablet (Rowe et al., 2009).
Microcrystalline Cellulose digunakan sebagai absorbent dalam konsentrasi sekitar 20-90%. Jika sebagai antiadherent dengan konsentrasi antara 5-20%, disintegran sekitar 5-15%, serta sebagai pengisi pada tablet maupun kapsul pada konsentrasi sekitar 20-90% (Rowe et al., 2009). Untuk kelarutannya prakis tidak larut dalam air. Microcrystalline Cellulosesangat stabil pada bahan yang higroskopis serta disimpan dalam wadah yang tertutup pada tempat yang sejuk dan kering.Microcrystalline Cellulose tidak kompatibel dengan suatu bahan oksidator kuat (Rowe et al., 2009).

Sodium Starch Glycolate

Sodium Starch Glycolate secara luas digunakan sebagai disintegran pada kapsul dan formulasi tablet dalam produk farmasetika. Dan Sodium Starch Glycolate memiliki afinitas yang sangat baik untuk air dan mengembang saat terbasahi, kemudian membantu untuk merapuhkan atau menghancurkan matriks tablet (Banker et al., 1994). Sodium Starch Glycolate ini dapat digunakan dengan metode kompresi langsung dan granulasi basah  (Rowe et al., 2009). Konsentrasi pada formula sekitar 2-8 %, dimana konsentrasi yang paling optimum adalah 4% walaupun dalam beberapa kasus 2% adalah konsentrasi yang cukup untuk sebagai disintegran. Disintegrasi terjadi karena Sodium Starch Glycolate dapat dengan cepat menyerap air sekitar 200-300% yang diikuti dengan pengembanganyang cepat dan besar (Rowe et al., 2009).



Sodium Starch Glycolateyang mempunyai bentuk pemerian serbuk putih atau hampir seluruhnya putih, tidak berbau, tidak berasa, dan serbuk bebas mengalir. Menurut farmakope Eropa yang menyatakan bahwa eksipien ini terdiri dari granul oval atau sferis, diameternya berkisar 30-100 µm, dengan beberapa granul yang kurang sferis dengan ukuran diameternya 10-35 µm (Rowe et al., 2009). Sodium Starch Glycolate adalah sebuah pati kentang yang tertaut silang. Bahannya tersedia dari berbagai pabrik di bawah sejumlah besar nama dagang seperti Explotab, Primogel, dan Vivastar. Beberapa penelitian lebih lanjut pada beberapa batch dari tiga produk sodium starch glycolate (Explotab, Primogel, dan Explosol) menginformasikan bahwa terdapat perbedaan hasil inter-brand dan inter-batch, bagaimanapun dalam konteks waktu disintegrasi dan kompatibilitas dalam model formulasi, produk secara essensial sama (Edge et al., 2002). 
Efektivitas disintegran banyak dipengaruhi oleh adanya eksipien hidrofobik seperti lubrican. Peningkatan tekanan pada kompresi tablet tidak terlalu berpengaruh pada waktu hancur (Rowe et al., 2009). Tablet yang dibuat dari eksipien ini memiliki karakteristik penyimpanan yang baik. Sodium Starch Glycolate stabil jika disimpan dalam wadah tertutup yang kedap udara untuk melindungi eksipien ini dari variasi kelembaban dan suhu yang dapat menyebabkan caking. Sifat fisik Sodium Starch Glycolate adalah tidak berubah dalam kurun waktu 3-5 tahun jika eksipien ini disimpan pada temperatur dan kelembapan yang berubah-ubah (Edge et al., 2002). Sodium Starch Glycolate hanya memiliki inkompatibilitas bila digunakan bersamaan dengan asam askorbat (Rowe et al., 2009).

Karakter dari sistem penghantaran tablet cepat larut

  • Mudah diberikan kepada pasien yang tidak dapat menelan, seperti orang tua, penderita stroke, pasien yang menderita gagal ginjal dan pasien yang menolak untuk menelan seperti pasien pediatrik, geriatrik dan psikiatrik.
  • Tidak membutuhkan air untuk menelan sediaan, yang mana hal tersebut sangat nyaman untuk pasien yang sedang dalam perjalanan dan tidak memiliki air.
  • Obat terdisolusi dan diabsorbsi secara cepat, yang mana akan menghasilkan onset yang cepat dari aksi.
  • Beberapa obat diabsorbsi dari mulut, faring, dan esofagus ketika saliva turun menuju ke lambung. Hal ini akan menyebabkan bioavaibilitas obat meningkat.
  • Absorbsi pregastrik dapat menghasilkan peningkatan bioavaibilitas dan peningkatan terapi sebagai hasil pengurangan dari efek yang tidak diinginkan.
  • Rasa yang enak pada mulut sehingga membantu untuk merubah persepsi bahwa obat itu pahit pada anak-anak.
  • Menghindari resiko tersedak pada pemberian oral sediaan konvensional yang mana akan meningkatkan keamanannya.
  • Keuntungan pada beberapa kasus seperti saat mabuk, serangan alergi yang tiba-tiba atau batuk dimana onset obat yang sangat cepat dibutuhkan.
  • Peningkatan bioavaibilitas, pada obat-obat yang tidak larut dan hidrofobik, terkait dengan disintegrasi dan disolusi yang cepat dari tablet ini.
  • Stabilitas untuk waktu yang lama, sejak diproduksi hingga dikonsumsi, sehingga mengkombinasikan keuntungan stabilitas dari sediaan padat dan bioavaibilitas dari sediaan cair.

Oral Disintegrating Tablet ( ODT )

            Bentuk sediaan padat yang umum adalah tablet dan kapsul, bentuk sediaan ini, bagi beberapa pasien sulit untuk ditelan. Pasien harus minum air untuk menelan bentuk sediaan tersebut. Sering kali pasien merasa tidak nyaman dalam menelan sediaan padat konvensional seperti tablet ketika tidak ada air, dalam kondisi mabuk (kinetosis) dan keadaan batuk selama demam, kondisi alergi dan bronkitis (Sujatha et al., 2014). Untuk alasan itulah, domperidon dibuat menjadi tablet yang cepat larut dimulut dengan menggunakan superdisintegrant yang terdisintegrasi pada rongga mulut. Tablet ODT adalahbentuksediaanpadatdariobat yangditempatkan di mulut. Tablet tersebutakanlarutatauhancur di mulutdengancepattanpaadanyaair.
Tablet ODT(Oral Disintegrating Tablet) disebut juga dengan mouth-dissolving tablets, orodispersible tablets, quick-disintegrating tablets, fast dissolving tablet, rapid-dissolving tablets, porous tablets, quick melt tablets, dan rapid melt tablets.FDA mendefinisikanODT adalahbentuksediaaanpadat yang mengandungbahanobat,yang terdisintegrasisecaracepatdalambeberapadetikketikaditempatkan di ataslidah. (Swamivelmanickam, 2010). Jenis tablet ini dirancang agar segera hancur di dalam rongga mulut dalam waktu 75 detik atau kurang. 
Beberapa kriteria dari sistem penghantaran tablet ODT seperti tidak membutuhkan air untuk menelan, tetapi harus larut atau hancur dalam mulut dengan hitungan beberapa detik, harus kompatibel tanpa menggunakan penutupan rasa, mudah dibawa dengan memperhatikan faktor kerapuhannya, memiliki aseptabilitas pada mulut (tidak ada residu di dalam mulut setelah pemberian oral), memiliki sensitivitas yang rendah terhadap kondisi lingkungan seperti pada suhu dan kelembapan, pada pembuatan tabletnya mengikuti cara konvensional beserta peralatan kemasannya dengan biaya rendah (Debjit et al., 2009). Pendekatan dasar dalam pengembangan tablet ODT adalah dengan menggunakan superdisintegran seperti karboksi metil selulosa tertaut silang (crosscarmellose), sodium starch glycolate (primogel , explotab), Crosspovidone, dan lain-lain, yang dapat memberikan disintegrasi instan dari tablet setelah diletakkan pada lidah, obat akan dilepaskan pada saliva. Bioavaibilitas dari beberapa obat dapat meningkat terkait absorbsi pregastrik dari saliva yang mengandung obat yang terlarut. Jumlah obat yang terkena first pass metabolism akan berkurang jika dibandingkan dengan tablet konvensional.
Disintegran adalah bahan atau campuran bahan tambah untuk formulasi obat yang memfasilitasi kehancuran tablet atau isi kapsul menjadi partikel yang lebih kecil dan larut lebih cepat dibandingkan ada tidaknya disintegran. Sekelompok disintegrant disebut sebagai superdisintegrant, umumnya digunakan tingkat rendah dalam bentuk dosis padat, biasanya satu sampai 10% berat relatif terhadap total berat dosis unit. Contoh superdisintegrant adalah croscarmellose, crospovidone, dan sodium starch glycolate. Superdisintegran ini sangat dianjurkan untuk mengembangkan formulasi tablet atau kapsul terdisintegrasi cepat dan mudah melarutkan bahan tambahan lain dalam tablet (Edge et al., 2002).
x

Domperidone antiemetik

Domperidon merupakan antiemetik pilihan pertama di banyak negara. Antiemetik adalah obat yang dapat mengatasi muntah dan mual. Antiemetik diberikan kepada pasien yang mempunyai penyakit terhadap mabuk kendaraan dan efek sampingnya berupa analgesik opioid, anestetik umum dan kemoterapi terhadap kanker (Sujatha et al., 2014). Domperidone merupakan antagonis reseptor dopamin danterutama digunakan dalam pengobatan emesis.Dopamin mempunyai fungsi yaitu mengeblok secara spesifik pada reseptor dopaminyang disebabkan kecepatan gerak peristaltik pada gastrointestinal. Sehingga terjadinya pelepasan prolaktin, dan digunakan sebagai antiemetik yang mempunyai mekanisme dopaminergik. Domperidon menjadi obat antiemetik dengan mekanisme kerja menghambat aksi dopamin dengan menginhibisi dopamin pada reseptornya. Obat ini memiliki afinitas yang cukup kuat pada reseptor dopamin D2 dan D3 yang ditemukan dalam CTZ (Chemoreceptor Trigger Zone) yang berada pada bagian luar sawar darah otak yang berfungsi untuk meregulasi (mengatur) mual dan muntah (Sujatha et al., 2014). Domperidon tidak dapat menembus sawar darah otak sehingga tidak menimbulkan gangguan ekstrapirimidal dan lebih aman digunakan bila dibandingkan dengan menggunakan metoklopramid. Domperidon juga efektif dalam mengatasi gastroporesis, gastroesophageal pediatrik (muntah bayi), dan juga dapat mengontrol penyakit pada pasien parkinson (Sweetman, 2009).

    Saat digunakan secara peroral, Domperidon mengalami First Pass Metabolism pada lambung dan hepatik yang cukup ekstensif sehingga menghasilkan bioavaibilitas yang rendah (sekitar 15%). Walaupun domperidon dinyatakan lebih aman daripada metoklopramid namun pemberiannya tetap perlu mendapatkan perhatian khusus, karena domperidon memiliki efek samping dapat merangsang kadar prolaktin plasma yang jangka panjang dapat menyebabkan galaktore dan ginekomastia(Sweetman, 2009). Di samping itu, domperidon dilaporkan dapat menyebabkan efek samping seperti pada sistem jantung dan endokrin, pada sistem ekstrapirimidal. Domperidon tidak dianjurkan dengan penderita yang hipersensitif dengan domperidon, pada penderita yang kronis serta digunakan sebagai profilaksis rutin untuk mual dan muntah pasca operasi. Domperidoneharusdigunakandenganhati-hatijikadiberikan secara intravena, karena risiko aritmia, terutama pada pasien cenderung untuk aritmia jantung atau hipokalemi