The Pharmacist Room

TUGAS MANAJEMEN FARMASI DAN JAWABANYA




SOAL :

  1. Jelaskan keterkaitan antara pernyataan kesehatan adalah hak asasi manusia dan akses terhadap obat essensial!
  2. Jelaskan bahwa obat bukan sekedar komoditas perdagangan biasa!
  3. Jelaskan mengapa penyediaan obat essensial merupakan kewajiban pemerintah dan lembaga pelayanan kesehatan public dan swasta!
  4. Jelaskan keterkaitan antara pelaksanaan otonomi daerah dapat berpengaruh pada ketersediaan obat essensial!
  5. Sebutkan tujuan pemerintah menetapkan harga obat generic untuk pelayanan kesehatan!
  6. Sebutkan dampak dari harmonisasi persyaratan teknis di bidang farmasi sesuai yang tercantum pada KONAS!
  7. Sebutkan stakeholder atau pelaku yang terkait dengan penyusunan dan pelaksanaan KONAS!
  8. Apa yang dimaksudkan dengan pengobatan rasional dan contoh ketidak rasionalan obat?
  9. Sebutkan apa saja potret kelemahan di bidang obat tradisional seperti yang disebutkan dalam analisa SWOT KONTRANAS. Dan bagaimana cara mengatasi hal tersebut diatas!
  10. Bagaimana upaya pemerintah untuk menjamin obat tradisional yang aman, bermutu tinggi, bermanfaat serta melindungi masyarakat dari penggunaan obat tradisional yang tidak tepat, sebutkan!

JAWABAN :

  1. Kesehatan adalah hak asasi manusia dan setiap penduduk berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal sesuai dengan kebutuhan tanpa memandang kemampuan membayar dan akses terhadap obat terutama obat esensial merupakan salah satu hak asasi manusia.

  1. Obat merupakan salah satu komponen yang tak tergantikan dalam pelayanan kesehatan sehingga obat berbeda dengan komoditas perdagangan lainnya karena selain merupakan komoditas perdagangan  juga obat memiliki fungsi sosial.

  1. Penyediaan dan pengelolaan anggaran untuk pengadaan obat esensial yang diperlukan mesyarakat di sektor publik menjadi tanggung jawab pemerintah daerah yang sebelumnya merupakan tanggung jawab pemerintah pusat, namun pemerintah pusat masih mempunyai kewajiban untuk penyediaan obat program kesehatan dan persediaan penyangga serta menjamin keamanan, khasiat dan mutu obat.


  1. Pelaksanaan otonomi daerah telah membawa perubahan mendasar yang perlu dicermati agar ketersediaan obat esensial bagi masyarakat tetep terjamin dan untuk daerah-daerah terpencil, perbatasan, kepulauan da daerah rawan bencana perlu dikembangkan sistem pengelolaan obat secara khusus.

  1. Tujuan pemerintah menetapkan harga obat generik untuk pelayanan kesehatan:
·         Untuk mendapatkan harga yang lebih terjangkau disektor publik.
·         Untuk menghindari monopoli
·         Untuk mengembangkan sistem informasi harga
·         Untuk menjamin pembiayaan obat bagi masyarakat.

  1. Harmonisasi persyaratan teknis membawa implikasi akan adanya persyaratan teknis terkini yang makin canggih yang mungkin tidak mendesak dan yang menimbulkan  beban tambahan bagi perusahaan domestik serta bagi konsumen.

  1. Pelaku yang terkait dengan penyusunan KONAS :
·         Pihak di pusat dan daerah
·         Lintas sektor
·         Lembaga swadaya masyarakat
·         Dunia usaha
·         Organisasi profesi
·         Akademisi
·         Para pakar

  1. Dalam pengobatan yang rasional, pasien menerima obat yang sesuai dengan kebutuhan klinisnya, dosis yang tepat, untuk jangka waktu pengobatan yang sesuai dan biaya yang terjangkau.
Contoh ketidakrasionalan obat :
·         Polifarmasi
·         Penggunaan obat non esensial
·         Penggunaan antimikroba yang tidak tepat
·         Penggunaan injeksi secara berlebihan
·         Penulisan resep yang tidak sesuai dengan pedoman klinis
·         Ketidakpatuhan pasien
·         Pengobatan sendiri secara tidak tepat

  1. Kelemahan dibidang obat tradisional dalam analisa SWOT KONTRANAS :
v  Kurang ketersediaan standar & metode evaluasi mutu.
v  Belum dikelola secara optimal & profesional, iklim usaha tidak kondusif, tak ada jaminan pasar & harga
v  Eksploitasi jenis tumbuhan OT tanpa budidaya
v  Mutu simplisia kurang memenuhi syarat
v  Kurang koordinasi unsur pemerintah, industri pendidikan & penelitian, petani, provider kesehatan
v  Belum terakomodasi dalam kurikulum FK
v  Pembiayaan kurang untuk penelitian ilmiah
v  Produksi industri bahan baku kurang
v  IKOT dengan fasilitas dan Sumber daya minimal & hanya 69 dari 129 yang bersertifikat CPOTB
v  Industri OT kurang memanfaatkan hasil penelitian
v  Pasar Industri menekankan promosi dibanding dukungan ilmiah

Cara mengatasi hal diatas :
v  Perlu upaya peningkatan pemanfaatan SDA OT untuk peningkatan yankes & ekonomi
v  Pemerintah melaksanakan BINDALWAS secara profesional, pelaku usaha bertanggung jawab atas mutu & keamanan.
v  Pemerintah perlu memberikan pengarahan & iklim usaha kondusif untuk OT yang bermutu aman berkhasiat, dimanfaatkan masyarakat dan yankes formal & mendapat informasi yg benar, lengkap & tidak menyesatkan.


  1. Upaya pemerintah yang dilakukan untuk menjamin obat tradisional yang aman, bermutu tinggi, bermanfaat serta melindungi masyarakat dari penggunaan obat tradisional yang tidak tepat :
·         Penilaian keamanan, mutu da khasiat melalui proses pendaftran, pembinaan, pengawasan dan pengendalian impor, ekspor, produksi, distribusi dan pelayanan obat tradisional merupakan suatu kesatuan yang utuh dilakukan dengan kompetensi tinggi, akuntabel, transparan dan independen.
·         Adanya dasar hukum dan penegakan hukum secara konsisten dengan efek jera yang tinggi untuk setiap pelanggaran.
·         Penyempurnaan ketentuan sarana produksi bahan baku dan komoditi obat tradisional.
·         Pemberdayaan masyarakat melalui penyediaan dan penyebaran informasi terpercaya sehingga terhindar dari resiko penggunaan obat tradisional yang tidak memenuhi standard dan resiko kesalahgunaan.
·         Penyempurnaan dan pengembangan berbagai standar dan pedoman yang berhubungan dengan mutu obat tradisional.

Pengobatan Parasit Cacing ( ANTHELMINTIK)


ANTHELMINTIK
         Manusia merupakan hospes defenitif beberapa nematoda usus (cacing perut), yang dapat mengakibatkan masalah bagi kesehatan masyarakat. Diantara cacing perut terdapat sejumlah species yang ditularkan melalui tanah (soil transmitted helminths). Diantara cacing tersebut yang terpenting adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus) dan cacing cambuk (Trichuris trichiura). Jenis-jenis cacing tersebut banyak ditemukan di daerah tropis seperti Indonesia. Pada umumnya telur cacing bertahan pada tanah yang lembab, tumbuh menjadi telur yang infektif dan siap untuk masuk ke tubuh manusia yang merupakan hospes defenitifnya.
A.  Cacing Gelang (Ascaris lumbricoides)
1.    Lingkaran Hidup
Manusia merupakan satu-satunya hospes cacing ini. Cacing jantan berukuran 10 - 30 cm, sedangkan betina 22 – 35 cm, pada stadium dewasa hidup di rongga usus halus, cacing betina dapat bertelur sampai 100.000 – 200.000 butir sehari, terdiri dari telur yang dibuahi dan telur  yang tidak dibuahi. Dalam lingkungan yang sesuai, telur yang dibuahi tumbuh menjadi bentuk infektif dalam waktu kurang lebih 3 minggu. Bentuk infektif ini bila tertelan manusia, akan menetas menjadi larva di usus halus, larva tersebut menembus dinding usus menuju pembuluh darah atau saluran limfa dan dialirkan ke jantung lalu mengikuti aliran darah ke paru-paru menembus dinding pembuluh darah, lalu melalui dinding alveolus masuk rongga alveolus, kemudian naik ke trachea melalui bronchiolus dan broncus. Dari trachea larva menuju ke faring, sehingga menimbulkan rangsangan batuk, kemudian tertelan masuk ke dalam esofagus lalu menuju ke usus halus, tumbuh menjadi cacing dewasa. Proses tersebut memerlukan waktu kurang lebih 2 bulan sejak tertelan sampai menjadi cacing dewasa (Gandahusada, 1998).
2.    Patofisiologi
Disamping itu gangguan dapat disebabkan oleh larva yang masuk ke paru-paru sehingga dapat menyebabkan perdarahan pada dinding alveolus yang disebut sindroma Loeffler. Gangguan yang disebabkan oleh cacing dewasa biasanya ringan. Kadang-kadang penderita mengalami gangguan usus ringan seperti mual, nafsu makan berkurang, diare dan konstipasi. Pada infeksi berat, terutama pada anak-anak dapat terjadi gangguan penyerapan makanan (malabsorbtion). Keadaan yang serius, bila cacing mengumpal dalam usus sehingga terjadi penyumbatan pada usus (Ileus obstructive) (Effendy, 1997).
3.    Gejala Klinik dan Diagnosis
Gejala penyakit Cacingan memang tidak nyata dan sering dikacaukan dengan penyakit-penyakit lain. Pada permulaan mungkin ada batuk-batuk dan eosinofelia. Orang (anak) yang menderita Cacingan biasanya lesu, tidak bergairah, konsentrasi belajar kurang.
Pada anak-anak yang menderita Ascariasis perutnya nampak buncit (karena jumlah cacing dan kembung perut); biasanya matanya pucat dan kotor seperti sakit mata (rembes), dan seperti batuk pilek. Perut sering sakit, diare, nafsu makan kurang. Karena orang (anak) masih dapat berjalan dan sekolah atau bekerja, sering kali tidak dianggap sakit, sehingga terjadi salah diagnosis dan salah pengobatan. Padahal secara ekonomis sudah menunjukkan kerugian yaitu menurunkan produktifitas kerja dan mengurangi kemampuan belajar.
Karena gejala klinik yang tidak khas, perlu diadakan pemeriksaan tinja untuk membuat diagnosis yang tepat, yaitu dengan menemukan telur-telur cacing di dalam tinja tersebut. Jumlah telur juga dapat dipakai sebagai pedoman untuk menentukan beratnya infeksi (dengan cara menghitung telur).
4.    Epidemiologi
Telur cacing gelang keluar bersama tinja pada tempat yang lembab dan tidak terkena sinar matahari, telur tersebut tumbuh menjadi infektif. Infeksi cacing gelang terjadi bila telur yang infektif masuk melalui mulut bersama makanan atau minuman dan dapat pula melalui tangan yang kotor (tercemar tanah dengan telur cacing).

  

 
Sumber : Prof. Dr. Sri Oemijati, MPHTM dalam buku “Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia Melalui Promosi Budaya Hidup Sehat Dengan Pendekatan Kemitraan.





B.  Cacing Cambuk (Trichuris trichiura)
1.    Lingkaran Hidup
Manusia merupakan hospes cacing ini. Cacing betina panjangnya sekitar 5 cm dan yang jantan sekitar 4 cm. Cacing dewasa hidup di kolon asendens dengan bagian anteriornya masuk ke dalam mukosa usus. Satu ekor cacing betina diperkirakan menghasilkan telur sehari sekitar 3.000 – 5.000 butir. Telur yang dibuahi dikelurkan dari hospes bersama tinja, telur menjadi matang (berisi larva dan infektif) dalam waktu 3 – 6 minggu di dalam tanah yang lembab dan teduh. Cara infeksi langsung terjadi bila telur yang matang tertelan oleh manusia (hospes), kemudian larva akan keluar dari telur dan masuk ke dalam usus halus sesudah menjadi dewasa cacing turun ke usus bagian distal dan masuk ke kolon asendens dan sekum. Masa pertumbuhan mulai tertelan sampai menjadi cacing dewasa betina dan siap bertelur sekitar 30 – 90 hari.



2.    Patofisiologi
Cacing cambuk pada manusia terutama hidup di sekum dapat juga ditemukan di dalam kolon asendens. Pada infeksi berat, terutama pada anak cacing ini tersebar diseluruh kolon dan rektum, kadang-kadang terlihat pada mukosa rektum yang mengalami prolapsus akibat mengejannya penderita sewaktu defekasi. Cacing ini memasukkan kepalanya ke dalam mukosa usus hingga terjadi trauma yang menimbulkan iritasi dan peradangan mukosa usus. Pada tempat pelekatannya dapat menimbulkan perdarahan. Disamping itu cacing ini menghisap darah hospesnya sehingga dapat menyebabkan anemia.
3.    Gejala Klinik dan Diagnosis
Infeksi cacing cambuk yang ringan biasanya tidak memberikan gejala klinis yang jelas atau sama sekali tanpa gejala. Sedangkan infeksi cacing cambuk yang berat dan menahun terutama pada anak menimbulkan gejala seperti diare, disenteri, anemia, berat badan menurun dan kadang-kadang terjadi prolapsus rektum. Infeksi cacing cambuk yang berat juga sering disertai dengan infeksi cacing lainnya atau protozoa. Diagnosa dibuat dengan menemukan telur di dalam tinja.
4.    Epidemiologi
Penyebaran penyakit ini adalah terkontaminasinya tanah dengan tinja yang mengandung telur cacing cambuk. Telur tumbuh dalam tanah liat, lembab dan tanah dengan suhu optimal + 30oC. Infeksi cacing cambuk terjadi bila telur yang infektif masuk melalui mulut bersama makanan atau minuman yang tercemar atau melalui tangan yang kotor.


 
Sumber : Prof. Dr. Sri Oemijati, MPHTM dalam buku “Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia Melalui Promosi Budaya Hidup Sehat Dengan Pendekatan Kemitraan.



C.  Cacing Tambang (Ancylostoma duodenale & Necator americanus)
1. Lingkaran Hidup
Hospes parasit ini adalah manusia, Cacing dewasa hidup di rongga usus halus dengan giginya melekat pada mucosa usus. Cacing betina menghasilkan 9.000 – 10.000 butir telur sehari. Cacing betina mempunyai panjang sekitar 1 cm, cacing jantan kira-kira 0,8 cm, cacing dewasa berbentuk seperti huruf S atau C dan di dalam mulutnya ada sepasang gigi. Daur hidup cacing tambang adalah sebagai berikut, telur cacing akan keluar  bersama tinja, setelah 1 – 1,5 hari dalam tanah, telur tersebut menetas menjadi larva rabditiform. Dalam waktu sekitar 3 hari  larva tumbuh menjadi larva filariform yang dapat menembus kulit dan dapat bertahan hidup 7–8 minggu di tanah. Setelah menembus kulit, larva ikut aliran darah ke jantung terus ke paru-paru. Di paru-paru menembus pembuluh darah masuk ke bronchus lalu ke trachea dan laring. Dari laring, larva ikut tertelan dan masuk ke dalam usus halus dan menjadi cacing dewasa. Infeksi terjadi bila larva filariform menembus kulit atau ikut tertelan bersama makanan. 
2.    Patofisiologi
Cacing tambang hidup dalam rongga usus halus tapi melekat dengan giginya pada dinding usus dan menghisap darah. Infeksi cacing tambang menyebabkan kehilangan darah secara perlahan-lahan sehingga penderita mengalami kekurangan darah (anemia) akibatnya dapat menurunkan gairah kerja serta menurunkan produktifitas. Tetapi kekurangan darah (anemia) ini biasanya tidak dianggap sebagai cacingan karena kekurangan darah bisa terjadi oleh banyak sebab.
3.    Gejala Klinik dan Diagnosis
Gejala klinik karena infeksi cacing tambang antara lain lesu, tidak bergairah, konsentrasi belajar kurang, pucat, rentan terhadap penyakit, prestasi kerja menurun dan anemia (anemia hipokrom micrositer). Disamping itu juga terdapat eosinofilia.
4.    Epidemiologi
Kejadian penyakit (Incidens) ini di Indonesia sering ditemukan pada penduduk, terutama di daerah pedesaan, khususnya di perkebunan atau pertambangan. Cacing ini menghisap darah hanya sedikit namun luka-luka gigitan yang berdarah akan berlangsung lama, setelah gigitan dilepaskan dapat menyebabkan anemia yang lebih berat. Kebiasaan buang air besar di tanah dan pemakaian tinja sebagai pupuk kebun sangat penting dalam penyebaran infeksi penyakit ini (Gandahusada, 1998).
Tanah yang baik untuk pertumbuhan larva adalah tanah gembur (pasir, humus) dengan suhu optimum 32oC – 38oC. Untuk menghindari infeksi dapat dicegah dengan memakai sandal/sepatu bila keluar rumah.




  1. PENGOBATAN
Dietilkarbamazin
Ø  Menyebabkan paralisis dan perubahan pada permukaan membran mikrofilaria hancur.
Ø  Cepat diabsorpsi diusus, ekskresi lewat urin,70% bentuk metabolitnya
Levamisol
Ø  Dosis tunggal digunakan untuk Ascaris dan
Ø  Trichostrongylus,efektifitas sedang untuk A.duodenale dan rendah untuk N.americanus.
Ø  Cara kerja : meningkatkan aksi potensial dan  menghambat  transmisi neuromukular cacing paralisis
Ø  Absorpsi oral cepat dan lengkap.
 60% obat diekskresi bersama ureum
Mebendazol
Ø  Efektif mengobati cacing gelang, cacing kremi, cacing tambang dan T.trichiura, cacing pita.
Ø  Efeknya bervariasi S. stercolarlis
Ø  Kerjanya merusak subseluler dan menghambat sekresi  asetilkolinesterase cacing, menghambat ambilan glukosa.
Ø  Absorpsi oral buruk, ekskresi terutama lewat urin dalam bentuk utuh.
Niklosamid
Ø  Untuk cacing pita (Cestoda), E. granulosus dan E.vermicularis.
Ø  Kerjanya menghambat fosforilasi anaerobik ADP
Niridazol
Ø  Efektif untuk S. haematobium dan S. mansoni.
Ø  Ekskresinya dalam bentuk metabolit melalui urine dan tinja.
Ø  Hati-hati pada penderita gangguan fungsi hati, ginjal dan darah.



Piperazin
Ø  Efektif terhadap A.lumbricoides dan E.vermicularis.
Ø  Kerjanya menyebabkan blokade respon otot cacing terhadap asetilkolin  paralisis dan cacing mudah dikeluarkan oleh peristaltik usus.
Ø  Absorpsi melalui saluran cerna, ekskresi melalui urine.
Pirantel Pamoat
Ø  Untuk cacing gelang, cacing kremi dan cacing tambang.
Ø  Kerjanya menimbulkan depolarisasi pada otot cacing dan meningkatkan frekuensi imfuls, menghambat enzim kolinesterase.
Ø  Absorpsi melalui usus tidak baik, ekskresi sebagian besar bersama tinja, <15% lewat urine.
Pirazikuantel
Ø  Efektif terhadap Cestoda dan Trematoda, seperti S.mansoni dan S. japonicum.
Ø  Kerjanya menimbulkan peningkatan aktivitas otot cacing karena hilangnya Ca ion intrasel  kontraktur dan paralisis spastik cacing lepas dari tempatnya.
Ø  Absorpsi oral baik, ekskresi sebagian besar bersama urine
Tiabendazol
Ø  Efektif terhadap strongyloidiasis,askariasis,oksiuriasis dan larva migrans kulit.
Ø  Kerjanya menghambat enzim fumarat reduktase cacing dan enzim asetilkolinesterase cacing cacing mati
Ø  Absorpsi lewat usus, 90% obat diekskresi bersama urine.