The Pharmacist Room

ASEPTIC DISPENSING SERVICES


Pengertian Aseptic Dispensing Services
            Aseptic Dispensing Services didefinisikan sebagai preparasi produk medis steril yang memerlukan pengenceran ataupun manipulasi lain sebelum diberikan kepada pasien (Anonim, 2009). Preparasi ini dilakukan di unit pelayanan aseptik oleh farmasis, teknisi dan asisten yang terlatih di dalam ruangan yang kondisinya terkontrol. Preparasi ini diracik menurut resep yang diberikan kepada pasien yang bersifat individual serta di bawah pengawasan farmasis. Suatu contoh pelayanan aseptik dilakukan oleh Northumbria Healthcare NHS Foundation Trust disediakan dari unit aseptik pusat yang berada di Rumah Sakit Umum Wansbeck (Anonim, 2009).

Tujuan Aseptic Dispensing Services
Aseptic dispensing services menjamin kualitas pengobatan sebelum diberikan kepada pasien dengan tujuan sebagai berikut: mengurangi kontaminasi mikroorganisme dan partikel, memastikan cara melarutkan yang benar, menjamin stabilitas dan kompatibilitas, menjamin rute pemberian yang sesuai, menjamin keselamatan staf medis dalam peracikan terutama pada peracikan obat-obatan sitotoksik, menghindari ketidaktepatan penggunaan obat (terutama untuk obat yang mahal) (Anonim, 2009).

Penerapan Aseptic Dispensing Services
            Aseptic services disediakan oleh pusat unit aseptic yang ada di rumah sakit. Untuk menjamin penghantaran pengobatan pada waktu tertentu, maka unit tersebut harus mendapatkan resep yang telah ditanda tangani paling tidak 24 jam sebelum pengobatan dilakukan. Kadang-kadang, dengan persetujuan tertentu, unit tersebut dapat menangani resep yang diberikan kurang dari 24 jam sebelum pengobatan dilakukan.
            Staf yang terlibat pada unit aseptic diantaranya: farmasis penanggung jawab, manager pelayanan aseptic, dan asisten yang bertugas menyiapkan. Unit Aseptic memiliki Farmasis Penangung Jawab, tetapi diatur, secara full time, oleh teknisi farmasis senior. Semua perlakuan aseptik diambil alih oleh tim yang terdiri dari asisten terlatih yang bertugas untuk menyiapkan sediaan.  Penjaminan yang lebih lanjut dilakukan oleh farmasis yang telah terlatih dan teknisi farmasis, yang bekerja di unit tersebut secara bergantian. Teknisi farmasis berpartisipasi dalam pemeriksaan sistem teknis, dan bila perlu memiliki kemampuan untuk melakukan manipulasi aseptik (aseptic manipulation) (Jonathan et al., 2001).


Sediaan-sediaan yang memerlukan Aseptic Dispensing Services
1. Nutrisi Parenteral
Nutrisi parenteral merupakan pemberian nutrisi melalui rute intravena untuk pasien mengalami gangguan jika diminum secara per oral. Kebutuhan total untuk 24 jam diberikan dalam satu kantung infus yang disiapkan di departemen Pelayanan Aseptik. Infus ini dibuat berdasarkan resep dokter bersama dengan ahli nutrisi. Farmasis memberikan saran terkait dengan regimen dengan mempertimbangkan stabilitas dan kompatibilitasnya. Bahan-bahan yang dibutuhkan dicampur dan larutan yang bersifat lemak serta vitamin dimasukkan ke dalam wadah yang berbeda untuk menjaga stabilitas (Anonim, 2009).

3. Injeksi Pre-filled
Injeksi i.v secara perlahan (bolus) masih digunakan di bangsal pasien ketika dibutuhkan. Injeksi hanya boleh diberikan oleh perawat yang sudah mendapatkan pelatihan. “Injeksi yang terus menerus” untuk digunakan di pompa syringe, juga disiapkan di bangsal pediatric (Anonim, 2009).

4. Preparasi Bahan Tambahan untuk Obat Intravena
     Beberapa obat intravena perlu dilarutkan di dalam larutan infus sebelum diberikan kepada pasien. Departemen Pelayanan Aseptik dapat melarutkannya pada cairan infus yang sesuai, diberi label yang berisi satabilitas dan dosis yang dapat diberikan kepada pasien (Anonim, 2009).

5. Injeksi Sitotosik
        Injeksi sitotoksisk berbahaya untuk pasien dan tenaga kesehatan, sehingga untuk mengurangi resiko tersebut, sebaiknya  disimpan dalam bentuk yang langsung diinjeksikan. Rekam medis pasien digunakan untuk menghitung dosis sesuai dengan tinggi badan, berat badan dan luas permukaan tubuh oleh farmasis sitotoksi yang disetujui oleh konsultan onkologis (Anonim, 2009).

Fasilitas yang tersedia pada unit aseptic
            Di dalam unit aseptik, terdapat dua ruang standar Kelas C yang masing-masing dikondisikan dengan isolator bertekanan negatif. Isolator merupakan ruang yang di dalamnya memiliki standar Kelas A, yang dapat menjamin produk steril yang dihasilkan dapat terlindung dari lingkungan luar. Isolator yang bertekanan negatif juga melindungi operator dari bahaya produk di dalam isolator (Anonim, 2009). Masing-Masing dari isolator ini diakses oleh suatu sistem dengan pintu perpindahan yang tersambungkan.
Baju pelindung digunakan setiap kali personel memasuki unit aseptik. Jenis dan jumlah baju pelindung tergantung pada ruang dimana personel tersebut bekerja.
Unit aseptik juga memiliki ruang peralihan, yaitu collation room dan ruang persiapan, sedangkan aktivitas harian berlangsung di kantor yang ada di dekat unit tersebut.

Daftar Pustaka

(1)  Anonim. 2009. Pharmacy and Aseptic Services. University Hospital of South Manchester.http://www.uhsm.nhs.uk/patients/Pages/PharmacyAsepticServices.aspx. Diakses pada tangga 28 Maret 2010
(2)  Merills Jonathan, Fisher Jonathan. 2001. Pharmacy Law and Practice. Amerika Serikat: Maxwell Scientist Ltd.

GLYBURIDE AS TREATMENT IN GESTATIONAL DIABETES MELLITUS


REVIEW ARTICLE
GLYBURIDE AS TREATMENT IN GESTATIONAL DIABETES MELLITUS



Background: Insulin was primary choice in Gestational Diabetes Mellitus (GDM) treatment which diet intervention no longer give any significant responses. Sulfonilurea rarely used in pregnant women with GDM because its teratogenic and neonatal hypoglycemia effects. Since 2000, some studies reported successful treatment use glyburide.

Method: Reviewed articles reported glyburide as treatment in GDM.

Results: GDM in pregnant women could be treated with Glyburide because its safety although there are no significant difference between glyburide and insulin macrosomia risk (baby born more than 4000 gram weight); lung complication; and neonatal hipoglycemic. Beside the safety reason, glyburide has lower price than insulin. This cost model can be used by health professional to choose the medicine which has equality in effect.

Conclusion: Glyburide could be used as therapeutic and costly effective alternative treatment than insulin in GDM therapy.

Keywords: Gestational Diabetes Mellitus (GDM); insulin; glyburide

INTRODUCTION
Diabetes mellitus in pregnancy in medical terms is called gestational diabetes mellitus. Diabetes mellitus may only take place during pregnancy but can also continue though it was no longer pregnant. The disease is present in approximately 1% of women of reproductive age and 1-2% of them will suffer from gestational diabetes. Diabetes mellitus (DM) is a group of metabolic diseases with hyperglycemia characteristic (increased blood sugar levels ) that occurs cause abnormalities in insulin secretion, insulin action or both.
Classification of DM with Pregnancy by Pyke:
Class 1             : Gestational diabetes, which is diabetes that arises during pregnancy and disappears  after childbirth.
Class II            : Pregestasional diabetes, namely ranging from pre-pregnancy diabetes and continued after pregnancy.
Class III          : Pregestasional diabetes accompanied by complications of the disease blood vessels such as retinopathy, nephropathy, a disease of blood hunters pelvic and peripheral blood vessels.
Mayor of women with DM  controlled with diet and exercise, but 30% - 40% of them require pharmacological therapy. The principle arrangement of blood sugar levels in pregnant women with diet therapy is, or with additional insulin if therapy diet alone is not enough. Insulin therapy is effective for dealing with gestational diabetes but it is not comfortable and relatively expensive. Handling with sulfonilurea not recommended for pregnant women because of the the risk of defects in the fetus and neonatal risk hipoglicemia. However, some studies , glyburide and glipizide are drugs commonly used today. Glyburide or also known as glibenclamide in the treatment of gestational diabetes mellitus proven effective, safe, and inexpensive addition to insulin.
Glyburide is currently classified as category B by the FDA for use in pregnant women, which means that there is no evidence of risk in humans. In 2001, the American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) recommends that careful in applying oral agents to handle DM Gestational. particular agency is aware that further studies need to be done for safety criteria for diabetes drugs. In 2004, ACOG reported that 13% of obstetricians 1400 America use these glyburide as first-line therapy in case of failure of a dietary intervention pad GDM women diagnosed.
Use of total glyburide during pregnancy based on shared pathophysiology of GDM and type 2 diabetes. Class of drugs sulfonilurea has been used to treat type 2 diabetes for decades involving pa n pancreatic function in lowering blood sugar levels by inhibiting
effluks potassium through adenosine 5'-triphosphate (ATP). This action causes depolarization cellular and stimulate insulin from the pancreas. effect u all This drug is an m k eningkat insulin secretion. Medication sulfonilurea reduce glucose toxicity and
increase insulin secretion after a meal, thus reducing postprandial hyperglicemia. Research has show that, these drugs also can increase sensitivity of peripheral tissues to insulin.
The purpose of writing this article is to determine the safety glyburide on gestational diabetes and able to conclude that glyburide is choices therapy GDM safe, effective and in expensive.

METHOD
In this article, the data used is obtained by reviewing electronic scientific articles related to gestational diabetes mellitus (diabetes that occurs during pregnancy), its handling, its effectiveness in terms of both effect and cost.
The data is taken from several websites that provide scientific journals related to gestational diabetes keyword: Gestational Diabetes Mellitus; insulin; glyburide in the search field (search).

RESULTS AND DISCUSSION
Clinical experience pe ngoba tan with glyburide for GDM has progressed. Since 2000, several studies have shown that glyburide is ernatif alt effective when compared with insulin to achieve adequate glycemic control in women with GDM. however, it should be noted that the differences in the criteria of glycemic control may affect the results. In addition, differences in population (ethnic and geographic location), sample size, method, dose of the drug could significantly affect the results.
Despite the concerns about the significant teratogenic effects and the possibility of baby makrosomia associated with the use of oral hypoglycemic medications during pregnancy, especially sulfonylurea class, Elliott et al. Showed that only a few of glyburide was detected capable placental aspirated tested in vitro perfusion model. And than, based on observations of  Langer et al, concluded that glyburide did not detect on the umbilical cord / placenta and there was no significant difference between glyburide and insulin except on the reduction of maternal hypoglycemia episodes on premises glyburide (2%) compared to insulin (20%).
To determine whether glyburide distributed into breast milk in women with a history of GDM have done research, where study previously with two first-generation sulfonylureas, tolbutamide and chlorpropamide showed that his transfer there is significant drug into breast milk. In nonrandomized controlled observation study conducted on sulfonilurea second generation, glyburide and glipizide in breast milk, suggesting that glyburide not found in breast milk and blood glucose on all infants Breastfed normaly.
A study randomized controlled trial to glyburide versus insulin showed that treatment with glyburide can provide a relatively safe alternative of insulin therapy. According Glyburide including the FDA category B drug for use in pregnant women, which means that there is no evidence of risk in humans. Then retrospective trials have shown up even wa 20% of GDM patients, especially pretreatment with substantial hyperglycemia, likely to require adjuvant or alternative therapy with insulin. At a later study showed that treatment with glyburide compared with insulin resulted in lower sugar levels and higher percentage of the 'excellent glycemic control' with fewer hypoglycemic episodes.
Most physicians assume that cost is one of the aspects to consider in deciding which nursing care they created. The cost of becoming a more important factor when physicians must choose drugs with similar effectiveness.
Glyburide significantly cheaper than insulin. Analysis / cost model can be useful for physicians in deciding the selection of drugs, especially drugs that have the same properties. It is described by Goetzl et al, that glyburide significantly cheaper than insulin for the treatment of gestational diabetes can save the cost of treatment.
CONCLUSION
Given the effects / risks of drug entry into the placenta and can harm the fetus glyburide a synthetic drug can be recommended for women with diabetes during pregnancy. Since 2000, several studies have shown that glyburide is an effective alternative to insulin to achieve adequate glycemic control in women with GDM. however, it should be noted that the difference of control glycemic criteria may affect the results. Further more, differences in populations (ethnic and geographic location), sample size, method, drug dose significantly affect the results.
A study randomized controlled trial to glyburide versus insulin showed that treatment with glyburide can provide a relatively safe alternative of insulin therapy. Further retrospective trials have shown that up to 20% of GDM patients, especially with pretreatment substantially hyperglycemia likely to require adjuvant or alternative therapy with insulin.
Some studies also show that glyburide is not found in the umbilical cord / placenta and showed that glyburide  not found in breast milk and blood glucose levels in all breastfed infants is normal. Additionally, glyburide significantly cheaper than insulin that can be used as a consideration in deciding the selection of drugs, especially drugs that have the same efficacy.
REFERENCES
Elliott, B. D, Langer O, Schenker, S, Johnson, R. F., 1991, insignificant transfer of glyburide across the human placenta Occurs. Am J Obstet Gynecol 165:807 - 812.
Goetzl, L., and Wilkins, I., 2002, Glyburide Compared to Insulin for the Treatment of Gestational Diabetes Mellitus: A Cost Analysis, Journal of Perinatology, 22: 403-406.
Langer, O., Conway, DL, Berkus MD, Xenakis, EMJ, Gonzales, O., 2000, A Comparison Of Glyburide And Insuli n In Women With Gestational Diabetes Mellitus, T he Massachusetts Medical Society, Vol ume 343.
Moore, TR, 2007, Glyburide for the Treatment of Gestational Diabetes, Diabetes Care, Volume 3.
Trojnar, AK, Marciniak, B., Gorzelak, have done, BL, Trojnar, M., Oleszczuk, J., 2008, Glyburide for the treatment of gestational diabetes mellitus, Medical University of Lublin, Staszica 16, Pharmacological Reports, 60, 308-318.

DEFINISI APENDISITIS


APENDISITIS

A.    DEFINISI
Apendisitis adalah peradangan dari apendiks vermiformis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering dan relatif sering timbul tanpa sebab yang jelas atau timbul setelah obstruksi apendiks oleh tinja, atau akibat terpuntirnya apendiks atau pembuluh darahnya. Peradangan menyebabkan apendiks membengkak dan nyeri yang dapat menimbulkan gangren karena suplai darah terganggu. Apendiks juga dapat pecah.
Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki-laki berusia antara 10-30 tahun.

B.     PATOFISIOLOGI
Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma. Obstuksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut semakin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrum.
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal ini dapat menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul akan meluas dan mengenai peritonium setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah kanan bawah. Keadaan  ini disebut apendisitis supuratif akut. Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendiks gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi.
Bila semua proses diatas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerk kearah apendiks sehingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrat apendikularis. Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang.
Pada anak-anak, karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang, dinding lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang amsih kurang memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah.
C.    MANIFESTASI KLINIS
  Bermula dari nyeri yang timbul mendadak di daerah epigastrum atau periumbilikus yang berhubungan dengan muntah.
  Dalam beberapa jam (antara 2-12 jam) nyeri menjadi lebih terlokalisasikan dan dapat dijelaskan sebagai nyeri tekan didaerah kuadran kanan bawah, yang akan menetap dan diperberat bila berjalan atau batuk.
  Terdapat juga keluhan anoreksia, malaise, dan demam yang tidak terlalu tinggi (37,5-38,5°C atau hingga 40°C). Biasanya juga terdapat konstipasi tapi terkadang terjadi diare, mual dan muntah.
  Nyeri lepas (nyeri yang timbul sewaktu tekanan dihilangkan dari bagian yang sakit)
  Pada permulaan timbulnya penyakitbelum ada keluhan abdomen yang menetap. Namun dalam beberapa jam nyeri abdomen kanan bawah akan semakin progresif, dan dengan pemeriksaan sesama akan terdapat satu titik dengan nyeri maksimal. Perkusi ringan pada kuadran kanan bawah dapat membantu menentukan lokasi nyeri.

D.    PERANGKAT DIAGNOSTIK
  Peningkatan hitung sel darah putih (leukositosis ringan) antara 10.000-20.000/ml dan peningkatan jumlah netrofil
  Pemeriksaan urin dilakukan untuk membedakan dengan kelainan ginjal dan saluran kemih
  Pada kasus akut tidak boleh melakukan barium enema, sedangkan pada kasus apendisitis kronis dapat dilakukan.
  Pemeriksaan USG bila telah terjadi infiltrat apendikularis

E.     KOMPLIKASI
Dapat terjadi peritonitis jika apendiks yang membengkak tersebut pecah

F.     PENATALAKSANAAN
  Pengangkatan apendiks secara bedah
  Apabila apendiks pecah sebelum tindakan bedah, maka diperlukan pemberian antibiotik untuk mengurangi resiko peritonitis dan sepsis.





G.    APPENDIKTOMI
Merupakan tindakan eksisi pada apendiks vermiformis. Untuk mencapai apendik ada tiga cara yang secara teknik operatif mempunyai keuntungan dan kerugian.
a.       Insisi menurut Mc. Burney (grid incision atau muscle spiltting incission). Sayatan dilakukan pada garis yang tegak lurus pada garis ynag menghubungkan spina iliaka anterior superior (SIAS) dengan ambilikus pada batas sepertiga lateral (titik Mc Burney). Sayatan ini mengenai kutis, subkutis dan fasia. Otot-otot dinding perut dibelah secara tumpul menurut arah serabutnya. Setelah itu akan tampak peritoneum parietal (mengkilat dan berwarna keabu-abuan) yang disayat secukupnya untuk meluksasi sekum. Sekum dikenali dari ukurannya yang besar, mengkilat, lebih kelabu atau putih, mempunyai haustrae dan tenia koli, sedangkan illeum lebih keci, lebih merah dan tidak mempunyai haustrae atau taenia koli.basis aendiks dicari pada pertemuan ketiga taenia koli. Kauntungan dari teknik ini tidak terjadi benjolan dan tidak mungkin terjadi herniasi, trauma operasi minimum pada alat-alat tubuh dan masa istirahat pasca bedah yang lebih pendekkarena penyembuhan lebih cepat. Kerugiannya adalah lapangan operasi terbatas, sulit diperluas, dan waktu operasi lebih lama. Lapangan operasi dapat diperluas dengan memotong otot secara tajam.
b.      Insisi menurut Roux (muscle cutting incision). Lokasi dan arah sayatan sama dengan Mc Burney, hanya sayatannya langsung menembus otot dinding perut tanpa memperdulikan arah seabut sampai tampak peritonium. Keuntungannya adalah lapangan operasi lebih luas, mudah diperluas, sederhana dan mudah. Sedangkan kerugiannya adalah diagnosis yang harus tepat sehingga lokasi dapat dipastikan, lebih banyak memotong saraf dan pembuluh  darah sehingga perdarahan menjadi lebih banyak, masa istirahat pasca bedah lebih lama karena adanya benjolan yang mengganggu pasien, nyeri pasca operasi lebih sering terjadi, kadang-kadang ada hematoma yang terinfeksi dan masa penyembuhan lebih lama.
c.       Insisi pararektal. Dilakukan sayatan pada garis batas lateral m. rektus abdominis dekstra secara vertikal dari kranial ke kaudal sepanjang 10 cm. Keuntungannya teknik ini dapat dipakai pada kasus-kasus apendiks yang belum pasti dan kalauperlu sayatan dapat diperpanjang dengan mudah. Sedangkan kerugiannya, sayatan ini tidak secara langsung mengarah ke apendiks atau sekum, kemungkinan memotong saraf dan pembuluh darah lebih besar dan untuk menutup luka operasi diperlukan jahitan penunjang.

1.      Tindakan Anestesi
a. Obat Yang Digunakan
1)      Premedikasi anestesi
a). Fentanyl, golongan analgetik narkotik
Indikasi  :  sedasi, suplemen analgetik narkotik pada anestesi general, meningkatkan efek anestesia
KI           :  Hopersensitivitas terhadap fentanyl atau komponennya, meningkatkan tekanan intrakranial, depresi pernafasan berat, insufisiensi renal atau liver yang berat, serangan asma akut
ESO       :  depresi nafas, kekakuan otot, hipotensi, bradikardia, laringospasm, mual dan muntah, menggigil, tidak bisa istirahat, halusinasi pasca operasi, gejala ekstrapiramidal bila digunakan dengan trankuilizer seperti donperidol
IO           :  depresan CNS, phenotiazide, anti depresan trisiklik, nitrogen oksida
Dosis      :  Premedikasi 100 μg I.M. 30-60 menit sebelum operasi; pasca operasi 50-100 μg I.M. dapat diulangi dalam 1-2 jam jika perlu
b.      Atropin sulfat, golongan antimuskarinik
Indikasi :         Mengeringkan sekret, malawan bradikardia yang berlebihan, bersama neostigmin untuk mengembalikan penghambatan neuromuskuler kompetitif, Midriatikumz pra dan pasca operasi.
KI           :  Hipersensitivitas terhadap atropin sulfat atau komponennya, glaukoma, takikardi, tirotoksikosis, obstruksi penyakit pada GI Tract, obstruksi uropaty
ESO       : Konjungtivitas folikuler, penyumbatan pembuluh darah, edema, dermatitis kontak eksudatf atau dermatitis alergi.
Dosis      : dewasa: 0,4-0,6 mg 30-60 menit sebelum operasi dan diulangi setiap 4-6 jam jika diperlukan, secara I.M, I.V, atau S.C
c). Dormicum (Midazolam) golongan benzodiazepin, hipnotik sedatif
Indikasi : premedikasi sebelum induksi anestesi (I.M), induksi dan pemeliharaan  selama anestesi.
KI           :  Mistenia  gravis, depresi, shock
ESO       : gangguan kardiorespiratory, mual, muntah, sakit kepala, laringospasme, dispnea, halusinasi, kantuk berlebih, ataksia, ruam kulit, reaksi paradoksal, episode amnesia.
Dosis      :  dewasa: preoperatif sedasi I.M 0.07-0.08 mg/kg BB 30-60 menit presurgery
d). Prostigmin (Neostigmin); golongan kolinergik, neuromuscular blocking agent, antodotum
Indikasi  :  distensi sesudah operasi dan retensi kemih sesudah penyumbatan mekanik saluran cerna atau saluran kemih, memperbaiki efek blok neuromuskulus nondepolarisasi sesudah operasi
KI           :  hipersensitivitas, pasien peka bromida, peritonitis atau penyumbatan mekanik saluran cerna atau saluran kemih
ESO       :  gangguan fungsi saraf, gangguan pembuluh darah, intoksikasi saluran cerna
e). Remopain (ketorolac thromethamine), golongan NSAID
Indikasi  :  terapi jangka pendek  untuk nyeri akut berat postoperatif
KI           :  hipersensitif terhadap obat ini dan komponennya, ulkus peptik akut, gangguan ginjal berat batau beresiko gagal ginjal, proses persalinan,  pasien dengan atau dicurigai perdarahan cerebrovaskuler, laktansi, gangguan hemostasis, diatesis hemoragik, mendapat obat NSAID lain dan probenesid
ESO       :  edema, hipertensi, pruritis, ruam, gangguan GI, purpurea, mengantuk, pusing, berkeringat, nyeri pada tempat injeksi.
Dosis      :  awal 30 atau 60 mg IM, dapat dilanjutkan dengan dosis 15 mg atau 30 mg tiap 6 jam maksimal 120 mg/hari, lama terapi maksimal 5 hari.
f). Metoclopramid (antiemetik)
Indikasi  :  pengatasan mual dan muntah akibat penggunaan obat setelah pembedahan
KI           :  Hipersensitif terhadap obat ini  atau komponennya, obstruksi intestinal, feokromositoma, epilepsi, perfoirasi atau hemorrhage, 3-4 hari setelah operasi gantrointestinal, riwayat penyakit seizure
ESO       :  reaksi ekstrapiramidal, pusing, lelah, mengantuk, sakit kepala, depresi, gelisah, gangguan GI, hipertensi.
Dosis      :  I.M 10 mg diberikan pada saat operasi hampir selesai.
2)      Induksi dan maintenance anestesi intravena
T  Recofol injeksi (Propofol)
Indikasi  :  Induksi dan maintenance anestesi umum
KI           :  Hipersebsitivitas, hiperlipidemia
ESO       :  Rasa sakit di tempat injeksi, hipotensi dan apnea, sakit kepala, mual muntah (setelah sadar/bangun), edema pulmonal, gerakan epilepsi, kejang, henti jantung, perubahan warna urin, perubahan perilaku seksual.
Dosis      :  dewasa : 4ml (40 mg) bolus I.V lambat dengan interval 10 detik, dosis lazim 2,0-2,5 mg/kg BB
3). Anestesi Inhalasi
T  Dinitrogen Oksida
Indikasi  :  anestesi dan maintenance pada anestesi umum. Khasiat analgetiknya kuat namun khasiat anestesinya lemah dan tidak memiliki sifat merelaksasi otot
KI           :  N2O sangat berbahaya bila digunakan pada pasien pneumotoraks, pneumomediastinum, obstruksi, emboli udara dan timpanoplasti
ESO       :  hipoksia, setelah penggunaan lama dapat menyebabkan anemia megaloblaster, mual dan muntah pasca bedah
Dosis      : dipakai kombinasi bersama oksigen, dengan perbandingan N2O:O2
60%:40%   , 70%:30%, 50%:50% : sebagai anestesi umum
20% : 80%             : untuk mendapatkan efek analgetik
80% : 20%             : induksi anastesi
70% : 30%             : maintenance
T  Enthtrane (Enflurance)
Merupakan obat anestetik eter berhalogen berbentuk cairan, mudah menguap, tidak mudah terbakar, tidak bereaksi dengan soda lime,
Indikasi  :  Induksi dan maintenance pada anestesi umum
KI           :  diketahui atau diduga memiliki kerentanan genetik terhadap hipertemia malignan
ESO       :  Muscle twiching, hipotensi, depresi dan aritmia selintas, , gangguan pencernaan, jarang: hepatotoksik; menggigil, mual dan muntah pasca bedah
Dosis      :  digunakan dengan alat penguap khusus yang dikaliberasi, untuk induksi ditingkatkan secara bertahap dari 0,4% hingga maksimum 4,5% dalam udara, oksigen atau N2O-O2 sesuai dengan respon penderita, dosis pemeliharaan 0,5-3% dalam N2O-O2
b. Infus yang digunakan
1)      Ringer lactat
Komposisi :  per liter mengandung: Na lactate 3,1 g, NaCl 6 g, KCl 0,3 g, CaCl2 0,2 g, WFI ad 1000 ml
Indikasi     :  mengembalikan keseimbangan elektrolit pada dehidrasi karena tindakan operasi
KI              : hipermatremia, kelainan ginjal, kerusakan sel hati, laktasidosis
ES             :  panas, infeksi pada tempat penyuntikan, trombosis vena atau plebitis yang luas  dari tempat penuyuntikan, ekstravasasi
IO              :  larutan yang mengandung fosfat
2)      Asering
Komposisi :  Per Liter mengandung : Na 130 meq, K 4 meq, Cl 109 meq, Ca 3 meq, asetate 28 meq,  asering-5 juga mengandung anhidrous dekstrose 50 g
Indikasi     :  terapi cairan pengganti yang hilang secara akut akibat tindakan operatif
KI              :  penderita gagal jantung kongestif, kerusakan ginjal, edema paru  yang disebabkan oleh retensi Na dan hiperproteinemia, penderita hipermatremia, hiperkloremia, hiperkalemia, hiperhidrasi.
ES             :  demam, infeksi pada tempat injeksi, trombosis vena atau plebitis yang luas  dari tempat penuyuntikan, ekstravasasi
c.       Alat yang digunakan
1)      Infus Set
Alat yang digunakan pada pemberian cairan elektrolit seperti ringer laktat atau asering
2)      I.V Catheter no 20
Catheter yang dimasukkan ke dalam vena dan berlaku sebagai vena tambahan (perpanjangan vena) untuk pengobatan secara intravena jangka lama atau untuk pemberian cairan infus,  dapat digunakan dalam jangka waktu lebih dari 24 jam
3)      Spuit Injeksi no 2,5: 5; 10
Alat ini terdiri dari 3 bagiam yaitu silinder berkala, tutup dan tempat menempel jarum pada ujungnya, piston dan pegangannya. Terbuat dari plastik dengan jarum logam/metal. Digunakan sebagai alat penyuntik sediaan obat injeksi ke pasien
4). Electrode Medicator
Merupakan  alat yang disambungkan pada pasien dengan alat EKG sebagai alat diagnostik untuk mengetahui ada tidaknya kelainan jantung dengan membaca grafik yang terbentuk pada kertas kardiogram.

2.      Tindakan Pembedahan
a.       Jarum Bedah dan Benang Bedah
Jarum bedah disebut juga suture needles atau surgical needles.Digunakan untuk menjahit luka pada operasi, terbuat dari logam (stainless steel). Biasanya jarum bedah dijual tersendiri, tetapi sekarang telah ada yang dijual dengan benangnya yang disebut Atraumatic needle. Atraumatic Needle adalah jarum bedah yang disertai benang bedah sehingga tidak menimbulkan trauma karena ujung benang langsung dijepit oleh ujung jarum yang lain. Benang bedah disebut suture. Ada 2 golongan benang bedah yaitu terabsorpsi oleh tubuh, misalnya benang dengan bahan colagen, polygelatin 910 dan poliglicolic acid. Benang bedah tidak terabsorpsi yaitu linen, sutera, polypropilen, nylon, polyamid, polyester, stainless steel. Atraumatic needle yang digunakan pada pembedahan ini adalah:
1).  Cat Gut Plain no 2/0, Round body
Terbuat dari kolagen yang berasal dari jaringan usus sapi, jaringan submukosa kambing. Benang ini dapat diabsorpsi oleh tubuh. Cat gut plain merupakan benda asing dalam tubuh sehingga dapat mempengaruhi penyembuhan luka. Benang ini memiliki waktu absorpsi sekitar 10 hari. Cat gut plain digunakan untuk mengikat lapisan subkutan dan untuk menutupi kulit dikstrum dan perineum. Round body adalah benang bedah dengan jarum bedah yang tidak terlalu lancip
2). Cat gut Cromic no 1 RH 37,75 C, Round body
Merupakan benang bedah yang terbuat dari kolagen yang berasal dari usus halus kucing atau domba. Merupakan jenis benang terabsorpsi, Cat Gut Cromic yang setara dengan garam kromium memiliki waktu absorpsi sekitar 20 hari. Benang ini dapat menyebabkan reaksi inflamasi dan tidak terbukti dapat menyebabkan reaksi alergi. Cat Gut Cromic diabsopsi disesuaikan dengan PH badan. Benang ini digunakan untuk menjahit bagian peritonium
3). Vicril no 4/0, Cutting
Benang bedah tidak terabsorpsi yang digunakan untuk mengikat lapisan fasia dan lapisan kulit (skin). Cutting adalah benang bedah dengan jarum bedah lancip
b.      AMHP dan BMHP
Merpakan alat medis dan bahan medis yang digunakan pada tindakan pemnbedahan dan habis dipakai pada tindakan pembedahan.
1)      Gaas Hyrdophyl. Merupakan kassa hidrofil steril yang digunakan pada pembedahan untuk menutupi luka pembedahan dan menghindari kontaminasi
2)      Alkohol. Digunakan oleh pasien  seabagai antiseptik untuk menghilangkan kontaminasi pada permukaan tubuh yang akan dilakukan insisi dan untuk menghilangkan lemak
3)      Povidon Iodin. Digunakan sebagai anttiseptic pada daerah yang akan dibuka agar tidak terjadi infeksi  setelah bagian kulit yang akan dilakukan insisi. Dioleskan setelah bagian kulit tersebut dioleskan alkohol.
4)      Steril Stripe, merupakan kassa/plester steril penutup luka yang mengandung antibiotik dan tahan terhadap air.
5)      Aesculap no 18. Berupa pisau dengan ukuran tertentu yang digunakan untuk melakukan insisi pada dinding perut
6)      Bio Touch steril adalah sarung tangan yang digunakan untuk melundungi pemakai dari lingkungan sekitarnya untuk keperluan kedokteran pada saat pembedahan dan untuk menjamin kesterilan pada saat melakukan pembedahan.
7)      NaCl 0, %
Mengandung NaCl 9 gram dalam WFI (water for injection) 1000 ml. NaCl digunakan untu8k mengembalikan keseimbangn elektrolit pada dehidrasi karena pada saat dilakukan pembedahan pasien banyak membutuhkan cairan untuk mengembalikan osmolaritas tubuh.

DAFTAR PUSTAKA


Anderson, P.O, Knoben, J.,E., Troutman, W. G., 2002, Handbook of Clinical Drug Data, McGraw-Hill, Medical Publishing Devision, USA

Anonim, 1995, Farmakologi dan Terapi, Bagian farmakologi Fakultas Kedokteran UI, Jakarta

---------, 2003, Informasi Spesialite Obat Indonesia volume 38, Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia, Jakarta

---------, 2004, British National Formulary 48th Edition, British Medical Association, Royal Pharmaceutical Society of Great Britain, UK

---------, 2005, MIMS edisi bahasa Indonesia volume 6 no 2, PT Info Master, Jakarta

Corwin, E. J.,  2000, Buku Saku Patofisiologi, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta

Lacy, C. F., Amstrong, L.L, Ingrim, N., B.,1999, Drug Information Handbook 6th Edition jilid I dan II, American pharmaceutical Association, Lexi-Comp Inc, Hudson, Ohio, USA

Mansjoer, A., Triyanti, K., Savitri, R., dkk., Kapita Selekta Kedokteran jilid II, Media Aesculapius, Fakultas Kedokteran UI, Jakarta

Perwitasari, D. A., Sofia, V., 2002, Petunjuk Praktikum Farmasi Perapotikan dan Alat Kesehatan, Laboratorium Farmasetika Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta

Tan, H. T., Rahardja, K., 2002, Obat-Obat Penting, edisi kelima cetakan kedua, PT Elek Media Komputindo, Kelompok Gramedia, Jakarta.