The Pharmacist Room

PENGGUNAAN JINTAN HITAM SEBAGAI ANTI HIPERKOLESTEROL


Kolesterol merupakan salah satu komponen dari lemak, dan lemak merupakan salah satu gizi yang diperlukan oleh tubuh disamping zat gizi yang lain. Lemak menjadi salah satu sumber energi yang memiliki kalori paling tinggi dan pada lemak khususnya kolesterol berfungsi untuk membentuk dinding-dinding sel dalam tubuh dan kolesterol juga merupakan bahan utama dari pembentukan hormon steroid.
Lipid plasma yang utama yaitu kolesterol, trigliserida, fosfolipida, dan asam lemak bebas tidak larut dalam cairan plasma. Agar lipid plasma dapat diangkut dalam sirkulasi maka susunan molekul lipid tersebut perlu dimodifikasi, yaitu dalam bentuk lipoprotein yang bersifat larut dalam air. Lipoprotein dibagi menjadi 5 golongan besar yaitu :
1.    Kilomikron
Lipoprotein dengan berat molekul terbesar ini lebih dari 80% komponennya terdiri dari trigliserida dan kurang dari 5 % kolesterol ester. Kilomokron akan membawa trigliserida dari makanan ke jaringan lemak dan otot rangka, juga membawa kolesterol makanan ke hati.
2.    Lipoprotein densitas sangat rendah (VLDL, very low density lipoprotein)
Lipoprotein ini terdiri dari 60% trigliserida (endogen) dan 10-15% kolesterol. VLDL disekresi oleh hati untuk mengangkut trigliserida ke jaringan perifer. Trigliserida VLDL dihidrolisis oleh LPL menghasilkan asam lemak bebas untuk disimpan dalam jaringan adipose dan bahan oksidasi di jantung dan otot skelet.
3.    Lipoprotein densitas sedang (IDL, intermediate density lipoprotein)
IDL ini kurang mengandung trigliserida (30%), lebih banyak kolesterol (20%) dan relatif lebih banyak mengandung apoprotein B dan E. IDL adalah zat perantara yang terjadi sewaktu VLDL dikatabolisme menjadi LDL, tidak terdapat dalam kadar yang besar kecuali bila terjadi hambatan konversi lebih lanjut.
4.    Lipoprotein densitas rendah (LDL, low density lipoprotein)
LDL merupakan lipoprotein pengangkut kolesterol terbesar pada manusia (70% total). Partikel LDL mengandung trigliserida sebanyak 10% dan kolesterol 50%. Jalur utama katabolisme LDL berlangsung lewat receptor-mediate endocytosis di hati dan sel lain. Ester kolesterol dari inti LDL dihidrolisis menghasilkan kolesterol bebas untuk sintesis sel membran dan hormon steroid.
5.    Lipoprotein densitas tinggi (HDL, high density lipoprotein)
HDL merupakan lipoprotein protektif yang menurunkan resiko penyakit jantung koroner. Efek protektifnya diduga karena mengangkut kolesterol dari perifer untuk dimetabolisasi di hati dan menghambat modifikasi oksidatif LDL melalui paraoksonase, suatu protein antioksidan yang berasosiasi dengan HDL (Anonim, 2007).
Secara normal kolesterol dapat diproduksi oleh tubuh sesuai dengan kebutuhan namun dapat meningkat karena makanan yang kita makan mengandung kolesterol. Kolesterol yang berlebihan dapat membuat penumpukan di pembuluh darah dan dapat menimbulkan penyempitan, karena itulah dapat menyebabkan seseorang terserang stroke dan jantung. Kolesterol diangkut oleh lipoprotein menuju sel-sel yang membutuhkan termasuk jantung dan otak, sedangkan kelebihan kolesterol diangkut oleh HDL menuju hati yang kemudian diurai dan masuk ke empedu sebagai asam empedu. LDL memiliki kandungan lemak yang lebih banyak dibandingkan dengan dengan HDL. LDL dianggap lemak yang jahat karena dapat menempel di dinding pembuluh darah sedangkan HDL dianggap lemak yang baik karena ia membawa lemak yang berlebih menuju hati.
Hiperlipidemia didefinisikan sebagai ketinggian dari satu atau lebih dari kolesterol, ester kolesterol, fosfolipid, atau trigliserida. Lipid yang bercampur air, tidak hadir dalam bentuk bebas dalam plasma melainkan bersirkulasi sebagai lipoprotein. Hiperlipidemia dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu
1.    Hiperkolesterolemia : Adanya peningkatan kadar LDL dan kolesterol total
2.    Hipertrigliserida       : Dimana kadar trigliserida meningkat
Hiperkolesterolemia dan hipertrigliserida merupakan faktor resiko bagi atherosklerosis dan akhirnya penyakit jantung koroner khusunya angina dan infark jantung.
            Jinten hitam (Nigella sativa L.) merupakan keluarga Ranunculaceae (Steenis, dkk, 1975 ). Kandungan zat kimia yang terdapat pada jinten hitam antara lain Minyak atsiri 1,5% (terdiri dari 40 – 60% karven, d-limonen, simen, dan terpen-terpen lain), glukosida saponin, glukosida beracun melantin, zat pahit nigelin, nigelon dan thymoquinon (Anonim, 1979). Selain itu kandungan dari biji jinten hitam antara lain oleat (omega 9), linoleat (omega 6), linolenat (omega 3), fitosterol, alkaloid (nigellein dan nigellamin-n-oksida), protein, asam-asam amino (Ahsan, 2007). polisakarida, zat besi, karoten, dan kalsium (Susilo, 2006). Sedangkan zat aktif yang diduga dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah adalah thymoquinon.
Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui apakah Nigella sativa L.  dapat dimanfaatkan sebagai antihiperkolesterol.

METODE
Pada artikel ini, data yang digunakan diperoleh dengan cara me-review artikel-artikel elektronik yang berkaitan dengan penggunaan Nigella sativa L. sebagai antihiperkolesterol.
            Data diambil dari beberapa situs ilmiah yang menyediakan artikel-artikel yang terkait seperti Google Scholar, Science Direct, dan Pubmed dengan memasukan kata kunci Nigella sativa, hypercholesterolemia, clinical trial pada kolom search (pencarian).

HASIL DAN PEMBAHASAN
Penyajian Data
Berdasarkan dari beberapa artikel ilmiah yang diperoleh, data yang diperoleh disusun kembali dan ditampilkan dengan cara naratif dalam bentuk tabel berikut:

N0
Judul, Nama Penggarang,  Tahun
Metode
Sampel
Hasil
1.
Effect of dietary supplementation with Nigella sativa L. on serum lipid profile, lipid peroxidation and antioxidant defense system in hyperlipidemic rabbits

Gargari, B.P., Attary, V.E., dkk (2009)
Eksperimental
24 kelinci putih  jantan New zealand
Pada kelompok black seeds
Tingkat TC, LDL.C, HDL.C, TG dan TC/HDL.C secara signifikan menurun
dibandingkan kelompok kontrol

2.
The effect of dietary supplementation of Nigella sativas L. on serum lipid profile in rats
Kocyigit Yukse, Atamer, Y., dkk (2009)







Eksperimental
75 tikus albino galur Wistar
Tikus diberi Nigella sativa dengan dosis 400 mg untuk jangka 1 minggu menunjukan peningkatan yang signifikan dalam HDL. Ada penurunan yang signifikan dalam LDL setelah 1 minggu untuk dosis 400 mg dan 600 mg. dan semua dosis setelah 2 minggu dan 4 minggu untuk 200 mg dan 600 mg jika dibandingkan dengan kelompok control. Ada penurunan yang signifikan dalam tingkat LDL yang tinggi setelah 1 minggu untuk 200 mg, 400 mg, dan 600 mg dan semua dosis untuk 2 dan 4 minggu. Untuk dosis 400 mg selama 2 minggu dan semua dosis selama 4 minggu menyebabkan penurunan yang signifikan pada tingkat trigliserida. Ada penurunan yang signifikan terhadap tingkat kolesterol total pada semua dosis setelah 4 minggu makan Nigella sativa

3.



Effect of Nigella sativa (kalonji) on serum cholesterol of albino rats
Dahri, A.H., Chandiol, A.M., dkk (2005)
Eksperimental
24 tikus albino jantan dan betina

Serum kolesterol total pada kelompok eksperimental meningkat dari 76,9 ± 6,5-117,5 ± 6,65 selama 20 minggu. Serum kolesterol HDL meningkat dari 41,7 ± 4,9-83,42 ± 5,92 selama 20 minggu dibandingkan dg kelompok kontrol. Tingkat kolesterol LDL mengalami penurunan dari 12,7 ± 6,9-8,5 ± 7,8 selama 20 minggu.


Penelitian oleh Gargari, B.P., Attary, V.E., dkk dengan judul “Effect of dietary supplementation with Nigella sativa L. on serum lipid profile, lipid peroxidation and antioxidant defense system in hyperlipidemic rabbits”. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa konsentrasi serum total kolesterol, trigliserida, LDL.C, & MDA adalah menurun secara signifikan dalam kelompok biji jintan hitam ( P<0,05) dibandingkan dengan kelompok kontrol pada akhir studi, tetapi tidak ada perbedaan yang signifikan di tingkat TAS, SOD, dan GPX antara kelompok-kelompok (P>0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa jintan hitam dapat menurunkan profil lipid serum dan tingkat peroksidasi lipid pada kelinci hiperlipidemia.
            Penelitian oleh Kocyigit Yukse, Atamer, Y., dkk yang berjudul “The effect of dietary supplementation of Nigella sativas L. on serum lipid profile in rats dilakukan dengan sebanyak 75 tikus albino Wistar, 60 tikus albino  diantaranya diberi suplemen Nigella sativa dan 15 sebagai kelompok kontrol. Kelompok Nigella sativa dibagi menjadi 4 kelompok utama masing- masing 15 ekor. Empat dosis Nigella sativa digunakan ( 100, 200, 400, dan 600 mg/kg/day). Setiap kelompok dosis dibagi durasi subkelompok 3 dari 5 ekor masing-masing diberi makan benih Nigella sativa untuk 1, 2, 4 minggu. Pada kelompok kontrol dibagi menjadi 3 kelompok utama masing- masing 5 ekor tikus albino. Diperoleh hasil tikus diberi Nigella sativa 400 mg/kg/hari selama 1 minggu menunjukan peningkatan yang signifikan pada HDL-C jika dibandingkan dengan kelompok kontrol (P<0,05). Ada penurunan yang signifikan dalam LDL-C setelah 1 minggu untuk 400, dan 600 mg/kg/hari (P<0,05; P<0,001) dan semua dosis selama 2 minggu (P<0,001) dan setelah 4 minggu untuk 200 dan 600 mg/kg/hari jika dibandingkan dengan kelompok kontrol (P<0,05). Ada penurunan yang signifikan pada tingkat VLDL-C setelah satu minggu untuk 200, 400 dan 600 mg/kg/hari (P<0,001) dan untuk semua dosis setelah 2 dan 4 minggu (P<0,001). Untuk dosis 400 mg/kg/hari selama 2 minggu (P<0,05) dan semua dosis selama 4 minggu menyebabkan penurunan yang signifikan pada tingkat trigliserida (P<0,001). Dibandingkan dengan kelompok kontrol, terjadi penurunan yang signifikan terhadap tingkat kolesterol total pada semua dosis setelah 4 minggu makan Nigella sativa (P<0,05).
            Penelitian yang dilakukan oleh Dahri, A.H., Chandiol, A.M., dkk yang berjudul “Effect of Nigella sativa (kalonji) on serum cholesterol of albino rats” dilakukan dengan 24 tikus albino jantan dan betina, masing-masing 12 ekor diberi nomor dan disimpan sesuai dengan jenis kelaminnya. Sampel darah puasa 12-14 jam di ambil pada kelompok kontrol dan eksperimental pada 2 minggu awal. Sampel lainnya diambil setelah 20 minggu dengan perlakuan yang sama. Dari hasil penelitian diperoleh serum kolesterol total pada kelompok kontrol mengalami kenaikan dari 8,3 ± 3,30-13,96 ± 9,3 dan kolesterol HDL menunjukan peningkatan dari 44,4 ± 6,12-80,45 ± 5,95 serta kolesterol LDL menunjukan peningkatan  dari   8,3 ± 3,30-13,96 ± 9,3 pada 20 minggu. Pada kelompok eksperimental serum kolesterol total meningkat dari 76,9 ± 6,5-117,5 ± 6,65 selama 20 minggu. Serum kolesterol HDL meningkat dari 41,7 ± 4,9-83,42 ± 5,92 selama 20 minggu dibandingkan dengan kelompok kontrol. Tingkat kolesterol LDL mengalami penurunan dari 12,7 ± 6,9-8,5 ± 7,8 selama 20 minggu.

KESIMPULAN
            Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan terhadap Nigella sativa L. menunjukan adanya penurunan yang signifikan pada serum kolesterol LDL dan peningkatan pada serum kolesterol HDL. Sehingga dari hasil penelitian yang diperoleh dapat diketahui bahwa Nigella sativa L. dapat dimanfaatkan sebagai antihiperkolsterol.

DAFTAR PUSTAKA
Dahri, A.H., Chandiol, A.M., Rahoo, A.A., Memon, R.A., 2005, Effect of Nigella sativa (kalonji) on serum cholesterol of albino rats, Department of Pathology, Peoples Medical College, Nawabshah.

Gargari, B.P., Attary, V.E., Rafraf,M., Gorbani, A., 2009, Effect of dietary supplementation with Nigella sativa L. on serum lipid profile, lipid peroxidation and antioxidant defense system in hyperlipidemic rabbits, J. of Med. Plants R., Volume 3 (10), 815-821.

Kocyigit Yukse, Atamer, Y., Uysal, E., 2009, The effect of dietary supplementation of Nigella sativa L. on serum lipid profile in rats, Saudi Med. J., Volume 30 (7), 893-896.


PERBANDINGAN EFEKTIVITAS DIHYDROPYRIDIN CALCIUM CHANEL BLOCKER PADA PASIEN HIPERTENSI


PENDAHULUAN
Dalam populasi dewasa  hipertensi adalah kondisi umum, yang mempengaruhi 43 juta people. Prevalensi yang disesuaikan menurut umur sangat tinggi terhadap penyakit hipertensi  yaitu sebesar , 32,4%. Kesadaran dan tingkat perawatan telah membaik selama 2 dekade terakhir, tetapi hanya 27% - 29% dari semua penderita hipertensi telah mencapai tekanan darah sistolik (SBP) dibawah 140 mm Hg dan BP diastolik (DBP) di bawah 90 mm Hg. channel blockers long-acting kalsium (CCBS) adalah di antara obat yang direkomendasikan oleh Gabungan Komite Nasional untuk Perlakuan terhadap Hypertension. Baru-baru ini studi menunjukkan bahwa obat ini efektif bila diresepkan sebagai monoterapi pada pasien hypertensi. Hipertensi, monoterapi dengan CCBS tampaknya unggul bahwa dengan  b-blocker atau angiotensin-converting enzyme inhibitor dapat menurunkan tekanan darah . Tidak seperti kebanyakan kelas antihipertensi, yang CCBS relatif senyawa heterogen diwakili oleh phenylalkylamines (misalnya, verapamil hidroklorida), benzothiazepines (misalnya, hidroklorida diltiazem), dihydropyridines (misalnya, besylate amlodipine, felodipine, hidroklorida nicardipine, nifedipin, dan nisoldipine) .Perbandingan dari subtipe yang sama atau berbeda dari CCBS sedikit, khususnya berkenaan dengan sejumlah besar hipertensi. Tujuan dari artikel ini adalah  membandingkan langsung efektifitas menurunkan tekanan darah dari 3 CCBS dihydropyridine berikut long-acting: besylate amlodipine (Norvasc), nifedipin (Adalat CC), dan nifedipin gastrointestinal terapeutik sistem (GITS) (Procardia XL) setelah 8 minggu terapi di  hipertensi
SUBYEK DAN METODE
DESAIN
Me-review artikel-artikel elektronik tentang efektifitas penggunaan antihipertensi golongan dihidropyridin calcium chanel blocker (CCB) pada pasien hipertensi. Data diambil dari beberapa situs ilmiah yang menyediakan artikel-artikel yang terkait seperti medline, medscape, Science Direct, dan Pubmed.
STUDY POPULASI
Pria dan perempuan (rentang usia, 18-75 tahun) dengan rata-rata (rata 2 ukuran standar) DBP 95-110 mm Hg dan SBP 140-179 mm Hg yang memenuhi syarat untuk pengacakan. Persyaratan ditentukan  subjek  tidak menerima antihipertensi selama sedikitnya 3 minggu. Studi kriteria eksklusi Mayor termasuk kadar serum kreatinin di atas 212 / proteinuria µmol L (2,4 mg / dL), 4 + pada urine rutin, diabetes mellitus tidak terkendali (kadar gula puasa, > 11mmol/ L [198 mg / dL]), aspartat aminotransferase tingkat yang lebih besar dari 1,5 kali batas normal atas, 1 + atau edema pretibial lebih pada hasil pemeriksaan klinis, diketahui penyebab sekunder hipertensi, kondisi komorbiditas kardiovaskuler (stroke sebelumnya, penyakit arteri koroner, aritmia, atau gagal jantung), kehamilan atau kehamilan yang direncanakan selama studi, konsumsi alkohol rata-rata 3 atau lebih minuman per hari, dan (karena pemantauan BP secara rawat jalan) bekerja shift malam atau memiliki lingkar lengan tengah-atas lebih besar dari 37,5 cm seperti yang berlaku teknis komputerisasi BP rekaman kurang mungkin. Semua pusat harus mendapat persetujuan dewan meninjau kelembagaan sebelum menerima antihipertensi, dan semua pasien memberikan persetujuan tertulis sebelum pendaftaran.





PENGUKURAN
Tekanan darah diukur dalam posisi duduk, dengan menggunakan lengan yang sama (kanan). Pengamat menggunakan protokol pengukuran eksplisit mengikuti rekomendasi terbaru dari American Heart Association. Ukuran dipilih menurut midarm lingkar (dewasa untuk 22,6-30,0 cm, lengan besar untuk 30,1-37,5 cm, dan pediatrik untuk 16,0-22,5 cm).. Denyut jantung merupakan nilai jumlah kedua dari denyut nadi, dikalikan dengan 24 jam pemantauan berjalan, BP melakukan pengacakan hari sebelumnya dan pada akhir pengobatan 8 minggu menggunakan monitor BP rawat jalan (Spacelabs model 90207, Medifacts Ltd, Rockville, Md) dengan pengukuran setiap 15 menit setiap hari dan setiap 20 menit di malam hari. Sebuah rekaman dasar teknis berlaku dengan minimal 24 jam setelah dosis terakhir plasebo adalah prasyarat untuk pengacakan. Sebuah kuesioner awal standar diberikan untuk memastikan usia, ras, status pendidikan (jumlah tahun), merokok (ya atau tidak), riwayat penggunaan antihipertensi, dan sejarah kondisi komorbiditas (misalnya, diabetes). Edema dievaluasi pada setiap kunjungan protokol menggunakan hasil klinis pemeriksaan dan riwayat dilaporkan sendiri, baik yang digunakan dalam analisis. Efek samping yang ditimbulkan pada pengacakan dan setiap kunjungan tindak lanjut protokol. Ini termasuk daftar yang kemungkinan gejala potensial berkaitan dengan hipertensi atau antihipertensi dan evaluasi klinis obyektif oleh para peneliti.

ANALISIS DATA
Titik akhir primer dari penelitian ini adalah perubahan DBP rawat jalan rata-rata 24-jam setelah 8 minggu monoterapi. hipotesis adalah bahwa 3 rejimen pengobatan akan menghasilkan setara penurunan DBP rawat jalan 24-jam. Kami merancang penelitian untuk mendeteksi 3-mm Hg atau perbedaan yang lebih besar dalam 24-jam berubah DBP berjalan dengan daya 90% (yaitu, 10% kemungkinan dari kesalahan) dalam perbandingan berpasangan antara CC nifedipine dan amlodipine atau GITS nifedipin. perkiraan ukuran sampel didasarkan pada  intraperson  SD DBP rawat jalan dari 5.5mmHg dan skor kesalahan 5%. Sebanyak 174 peserta dievaluasi diperlukan untuk memenuhi asumsi statistik. Namun, total 210 peserta itu harus acak (yaitu, 70 dalam setiap kelompok), mengingat asumsi  bahwa 17%  dari peserta akan putus atau tidak dievaluasi. Titik akhir sekunder termasuk perubahan dalam SBP rata-rata rawat jalan 24 jam,  pengurangan DBP, laju responden (DBP, 90 atau dikurangi dengan  10mmHg, dan keselamatan dan CCB keamanan tolerabilitas 8 minggu monoterapi. Randomisasi dilakukan dengan menggunakan amplop yang berisi nomor urut dan tugas pengacakan untuk setiap pasien. Untuk setiap, pengacakan itu bertingkat sesuai dengan menggunakan antihipertensi sebelumnya (ya atau tidak), sehingga pasien diberi nomor acak yang telah ditentukan dari ujung opposit kode acak mereka. Stratified pengacakan dilakukan untuk menyeimbangkan tugas pengobatan tergantung pada apakah peserta telah menggunakan antihipertensi sebelumnya, sebuah variabel yang dapat mengacaukan hubungan paparan respons pengobatan dan BP . Cek Logic dikembangkan untuk bidang entri data, dan sebuah sampel acak 5% rekeyed untuk tujuan kontrol kualitas. Analisis kovarians dengan efek untuk klinik dan obat-obatan sebelumnya ini digunakan untuk menilai kesetaraan. Tingkat Responden dibandingkan menggunakan Mantel-Haenszel x2 statistik, dikelompokkan berdasarkan klinik. Untuk variabel kontinyu (misalnya, tinggi, berat, detak jantung), analisis varians multivariat digunakan (dengan efek untuk pengobatan, klinik, dan obat-obatan sebelumnya) sebagai metode utama analisis.
HASIL DAN PEMBAHASAN
N0
Judul, Nama Penggarang
Metode
Sampel
Hasil
1.
Efficacy and Safety of Nifedipine Coat-Core versus Amlodipine in Patients With Mild to Moderate Essential
Hypertension: Comparison of 24-Hour Mean Ambulatory Diastolic Blood Pressure.
Byyny RL, Shannon T, Schwartz LA, dkk
This multicenter, double blind, prospective, randomized
Penelitian ini membandingkan pemberian 1 X Sehari  nifedipin CC 30 mg dengan 1 X  sehari 5 mg amlodipine pada subyek dengan hipertensi esensial ringan sampai sedang
Nifedipin CC dan amlodipine dihasilkan rata – rata setara penurunan tekanan darah diastolik, sebagaimana ditentukan oleh pemantauan tekanan  darah selama 24 jam, secara rawat jalan. Pengurangan rata tekanan darah diastolik 5,4 mmHg dan 5,8 mmHg untuk nifedipin CC dan amlodipine, masing-masing. Kedua obat ini ditoleransi dengan baik dan pengobatan tidak menghasilkan perubahan yang signifikan  dalam denyut jantung.
Nifedipin CC 30 mg sekali sehari adalah sebanding dengan amlodipine 5 mg sekali sehari untuk mengurangi tekanan darah
2.
Treatment of mild-to-moderate hypertension with calcium channel blockers: a multicentre comparison of once daily nifedipine GITS with once-daily amlodipine.
Kes S, Caglar N, Canberk A, Deger N, dkk
Randomised multicentre trial with an open comparison of treatments
155 patients with essential hypertension
(diastolic blood pressure 95-109 mmHg).
Setelah 12 minggu pengobatan, tekanan darah diastolik rata-rata 83,1 dan 81,9mmHg,pada kelompok nifedipin dan amlodipine, masing-masing(p=0,436). Penurunan rata tekanan darah sistolik (28,5+/- 11,9dan28,2+/-11,2 mmHg pada kelompok nifedipine dan amlodipine, masing-masing) dan penurunan rata-rata tekanan darah diastolik (16.4A+/- 7,0 dan17,5+/-6,9 mmHg pada kelompok nifedipin dan amlodipine, masing-masing), serta tingkat responden tersebut (88,1% dan 92,1%, di nifediplne dan kelompok amlodipine, masing-masing) adalah sebanding pada akhir penelitian. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok yang terdeteksi Dalam parameter keberhasilan dinilai dalam studi ini. Kedua obat tersebut dapat ditoleransi. Insiden keseluruhan kejadian buruk adalah 7,9% pada kelompok nifedipine dan 10,1% pada kelompok amlodipine. Namun, lebih banyak pasien menghentikan pengobatan sebelum waktunya pada kelompok amlodipine (13 pasien;19,7%),dibandingkan pada kelompok nifedipin (4 pasien; 5,6%).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nifedipin sekali sehari dalam pembentukan GITS dan amlodipine adalah pilihan pengobatan comparably aman dan efektif pada pasien dengan hipertensi esensial ringan hingga sedang


3
Efficacy and safety of a therapeutic interchange from high-dose calcium channel blockers to a fixed-dose combination of amlodipine/benazepril in patients with moderate-to-severe hypertension
DE Hilleman, AP Reyes,dkk
Creighton University School of Pharmacy and Allied Health Professions, 2500 California Plaza, Omaha,
Nebraska 68178, USA; 2Creighton University Cardiac Center, 3006 Webster Street, Omaha, Nebraska
68131, USA
Randomised multicentre
A total of 75 patients were switched from amlodipine (n = 25), felodipine (n = 25), and nifedipine-GITS (n = 25) to amlodipine/benazepril

Our data indicate that a therapeutic interchange from selected high-dose calcium channel blockers to a fixed-dose combination of amlodipine/benazepril can be successfully accomplished in the majority of patients.

4.


Comparison of the Efficacy of Dihydropyridine Calcium Channel Blockers in African American Patients With Hypertension
W. Dallas Hall, MD; James W. Reed, MD; dkk
study centers were randomly assigned to double-blind
192 hypertensive patients

163 pasien dievaluasi untuk keberhasilan setelah 8 minggu. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam DBP rata-rata rawat jalan 24-jam (-8,5, -9,0, dan-6.1mmHg, masing-masing) atau SBP (-14,3, -15,7, dan -11,8 mm Hg, masing-masing) reduksi. Rata-rata kantor SBP dan DBP direduksi untuk tingkat sebanding (19-22 mm Hg [P = .50] dan 12-14 mm Hg [P = 51], masing-masing). Tingkat Responden (DBP, 90 atau berkurang  10 mmHg) adalah sama (P = 38). Tingkat Penghentian dan frekuensi adverse event dibagikan sama di 3 kelompok perlakuan

Khasiat, keamanan, dan tolerabilitas dari 3 blockers dihydropyridine kalsium channel setara dengan tahap 1 dan 2 hipertensi.

 


Pada kelompok amlodipine, efek samping (serius; obat-istimewa) dilaporkan oleh 6 dari 56 pasien. Acara serius serangan iskemik sementara, tidak diberikan obat. Pada kelompok CC nifedipin, kejadian buruk (mungkin obat terkait tidak serius) dilaporkan oleh 3 dari 57 pasien. Pada kelompok GITS nifedipin, kejadian buruk ( mungkin obat-terkait serius) dilaporkan oleh 2 dari 59 pasien. Acara serius menjadi takikardia supraventricular, yang dikembalikan ke kardioversi irama normal sinus berikut. Tidak ada kematian yang dilaporkan
dalam pengobatan group. Kejadian buruk yang dialami oleh pasien di masing-masing kelompok belajar yang diringkas dalam


Bila dibandingkan dengan gejala awal, 10 dari 14 efek samping yang tidak berhubungan dengan studi obat. Cukup melaporkan efek samping dinilai tidak berhubungan dengan pengobatan aktif adalah merata di setiap kelompok perlakuan.
Studi double-blind adalah yang pertama dari jenisnya untuk memberikan perbandingan langsung dari 3 CCBS. Titik akhir primer, perubahan DBP rawat jalan rata-rata, tidak berbeda untuk amlodipine, nifedipin CC, atau GITS nifedipin (-8,5, -9,0, dan -6,1, masing-masing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap perbedaan kemanjuran 8 minggu 3 CCBS luas digunakan relatif kecil di dosis yang ditentukan. Menghasilkan pengurangan keseluruhan 19 sampai 22 mm Hg pada SBP dan 12 sampai 14 mm Hg dalam DBP. Setiap perbedaan secara keseluruhan di respon hemodinamik kecil, dan 3 obat sama-sama efektif dalam mengurangi BP.
Analisis Keselamatan mengungkapkan tidak ada perbedaan besar dalam dampak buruk antara amlodipine, CC nifedipin, dan GITS nifedipin. Persentase yang sama pasien
Dijelaskan kejadian buruk seperti yang didefinisikan oleh dari 21 gejala terkait. Namun demikian, tidak adanya kelompok kontrol plasebo membuat interpretasi dari nilai absolut sulit, mengingat bahwa banyak gejala-gejala ini juga terkait dengan hipertensi. Selanjutnya, frekuensi, jenis, dan distribusi efek samping relatif rendah dan sama antara kelompok perlakuan, menunjukkan bahwa obat ini ditoleransi dengan baik di. Terjadinya edema pada pemeriksaan klinis dalam dosis yang biasa digunakan dalam populasi tertentu, meskipun itu dilaporkan oleh 14,3%, 10,5%, dan 8,5% dari peserta yang menerima amlodipine, CC nifedipin, dan GITS nifedipin, masing-masing. Selain itu, peserta studi potensial dikecualikan jika mereka memiliki 1 + atau edema lebih pada awal. Hasil mendukung hipotesis bahwa 3 CCBS dihydropyridine dapat digunakan secara bergantian tanpa memperhatikan perbedaan potensial dalam keberhasilan atau keselamatan pada pasien. Ini menegaskan hasil klinis yang ditunjukkan dalam studi sebelumnya yang dilakukan pada campuran pasien populations. Jadi, pola penggunaan dari masing-masing obat akan ditentukan oleh obat mana yang berhubungan dengan kepatuhan terbaik dan biaya paling rendah secara keseluruhan.
Comparable efikasi dan keamanan nifedipin lambat-release dan amlodipine telah dilaporkan, walaupun kejadian edema lebih besar di group Amlodipine yang diobati, Namun, penelitian lain menyarankan bahwa amlodipine besylate (5 mg / hari) lebih unggul daripada slow-release nifedipin (20 mg dua kali sehari) respon terapi, kepatuhan, dan kejadian yang merugikan. Dua penelitian lain menunjukkan bahwa CC nifedipine dan GITS nifedipin menurunkan BP ke serupa degree.  Observasi sebelumnya telah menunjukkan bahwa pasien yang diasuransikan  bisa beralih dari GITS nifedipin untuk nifedipin CC tanpa efek jelas pada kontrol BP, kejadian reaksi obat yang merugikan, atau biaya kesehatan tanpa resep.
Keterbatasan penelitian kami termasuk yang relatif singkat durasi  8 minggu, dimasukkannya pasien dengan tahap 1 dan 2 hipertensi saja, dan daya yang terbatas untuk menilai perbedaan dalam kategoris. Hasil penelitian kami, bagaimanapun, dukungan dan memperpanjang hasil studi yang lebih kecil bahwa dibandingkan CC nifedipin dengan amlodipine

DAFTAR PUSTAKA
Byyny RL, Shannon T, Schwartz LA, Rotolo C, Jungerwirth S, for the Hypertension Study Group. Efficacy and safety of nifedipine coat-core versus amlodipine in patients with mild-to-moderate essential hypertension: comparison of 24 - hour mean ambulatory diastolic blood pressure. J Cardiovasc Pharmacol Ther. 1997;2:77-84.
W. Dallas Hall, MD; James W. Reed, MD; John M. Flack, MD, MPH; Carla Yunis, MD, MPH;John Preisser, PhD; and the ISHIB Investigators Group. Comparison of the Efficacy of Dihydropyridine Calcium Channel Blockers in African American Patients With Hypertension. 1999
DE Hilleman, AP Reyes, RL Wurdeman and M Faulkner. Efficacy and safety of a therapeutic interchange from high-dose calcium channel blockers to a fixed-dose combination of amlodipine/benazepril in patients with moderate-to-severe hypertension. 2001
Varrone J. A study of the efficacy and safety of amlodipine for the treatment of hypertension in general practice.1992
Ongtengco1, D Morales, J Sanderson,dkk. Persistence of the antihypertensive efficacy of amlodipine and nifedipine GITS after two ‘missed doses’: a randomised, double-blind comparative trial in Asian patients.
Florent F.R & Stephane Laurent. Effi cacy and safety profi les of manidipine compared with amlodipine: A meta-analysis of head-to-head trials

PENGERTIAN ANATOMI DAN FISIOLOGI



Anatomi
Anatomi ialah kajian terhadap struktur-struktur tubuh badan dan
perkaitan antara setiap struktur tersebut. Anatomi berasal
daripada perkataan Yunani ‘ana’ bermaksud asingkan dan
‘tome’ bermaksud memotong.

Fisiologi
Fisiologi ialah kajian tentang fungsi struktur tubuh.

SEJARAH ANATOMI
Sejarah anatomi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari kronologi masalah anatomi mulai dari kejadian pemeriksaan kurban persembahan pada masa purba hingga analisa rumit akan bagian-bagian tubuh oleh para ilmuwan modern. Dalam perkembangannya, manusia kian memahami fungsi-fungsi dan struktur tubuh melalui ilmu anatomi. Metode pemeriksaan selalu berkembang, dari pemeriksaan tubuh hewan, pembedahan mayat, sampai ke teknik-teknik kompleks yang dikembangkan pada satu abad terakhir.

Anatomi kuno

Masa ini dimulai setidaknya pada permulaan tahun 1600 SM, saat dikeluarkannya papirus ilmu anatomi oleh ilmuwan peradaban Mesir kuno. Pada saat itu telah dapat dikenali beberapa organ dan pengetahuan dasar akan pembuluh darah.
Hippokrates adalah ilmuwan kedokteran Yunani kuno yang karyanya masih diakui hingga sekarang. Ia adalah seorang dokter pada akhir abad ke-6 SM atau awal abad ke-5 SM. Hippokrates telah dapat memahami ilmu dasar mengenai sistem rangka dan otot, dan awal pemahaman lebih dalam akan kerja organ seperti ginjal. Namun, banyak karya lainnya yang didasarkan pada spekulasi bukan pada penelitian keilmuan.
Pada abad ke-4 SM, Aristoteles memulai penelitian yang lebih baik mengenai sistem tubuh melalui pembedahan tubuh hewan. Ia berhasil membedakan pembuluh balik (vena) dengan pembuluh nadi (arteri) dan hubungan organ-organ yang lebih akurat.
Penggunaan tubuh mati manusia atau mayat untuk penelitian ilmu anatomi dimulai pada abad ke-4 SM, saat Herophilos dan Erasistratus mempertunjukkan pembedahan mayat di Iskandariyah di bawah bantuan dinasti Ptolemais. Herophilos adalah orang yang pertama kali mengembangkan ilmu anatomi berdasarkan struktur asli tubuh manusia.
Ilmuwan yang cukup penting dalam masa anatomi kuno adalah Galen (abad ke-2 M). Ia banyak mengumpulkan ilmu-ilmunya dari ilmuwan terdahulu dan banyak memahami fungsi organ dengan melakukan pembedahan hidup-hidup pada hewan. Banyak koleksi gambar anatominya berdasarkan anatomi anjing, dan dianggap sebagai "Gray's Anatomy" pada dunia kuno selama 1500 tahun. Karya-karya aslinya banyak yang hilang, dan kebanyakan hanya diketahui oleh dokter pad masa renaisans. Oleh karena larangan agama untuk pembedahan manusia hidup-hidup, Galen menganggap struktur anatomi manusia serupa dengan anatomi anjing.

Zaman pertengahan hingga awal anatomi modern

Kemajuan kecil pada ilmu anatomi terjadi setelah kejatuhan kekaisaran Romawi. Ilmuwan Arab banyak memberi kemajuan bagi ilmu lainnya, tetapi tidak dengan ilmu anatomi karena berbagai larangan dan tabu.
Setelah masa Galen, terjadi perkembangan anatomi di Bologna pada abad ke-14 hingga abad ke-16. Para imuwan mempelajari lebih lanjut hal-hal yang mereka bisa temukan pada mayat. Akhirnya, mereka dapat memahami lebih baik lagi mengenai fungsi organ tubuh. Ahli anatomi yang cukup berperan pada masa ini adalah Mondino de Liuzzi dan Alessandro Achillini.
Pada abad ke-16, Vesalius menerbitkan gambar-gambar anatominya dari hasil perjalanan Leuven hingga Padua dengan cara membedah korban eksekusi gantung. Ia berhasil menunjukkan perbedaan besar mengenai gambaran anatomis tubuh manusia dengan anjing (gambaran Galen).
Ilmuwan pada abad ke-16 dan 17, berhasil memahami mengenai sistem sirkulasi, penemuan katup pada pembuluh balik, aliran darah dari ventrikel jantung kiri ke kanan, dan vena hepatika yang diidentifikasi berbeda dengan sistem sirkulasi lainnya. Begitu pula dengan penemuan sistem limfatik.

Anatomi abad ke-17 dan 18


Ilmu anatomi berjaya pada abad ke-17 dan 18. Dengan hadirnya perusahaan pencetakan, pertukaran ide dan pendapat dapat dengan mudahnya dilakukan di seluruh Eropa. Sejak ilmu anatomi berkonsentrasi pada penelitian dan penggambaran, ketenaran ahli anatomi pasti sebanding dengan mutu kemampuan menggambarnya, daripada kemampuan bahasa Latin.
Banyak seniman ternama yang turut mempelajari anatomi, melakukan pembedahan, dan menerbitkan gambarnya untuk uang, dari Michaelangelo hingga Rembrandt. Untuk pertama kalinya, universitas terkemuka membuka jurusan anatomi melalui penggambaran. Namun, hambatan kadang kali datang dari kalangan gereja.
Walaupun masa ini adalah masa panen bagi ilmuwan, namun dapat berbahaya, seperti yang dialami oleh Galileo Galilei. Beberapa ilmuwan takut untuk bergerak seperti Descartes. Walaupun semua dokter setuju bahwa ilmu anatomi akan mendukung perkembangan ilmu kedokteran, hanya ahli anatomi tertentu dan berijin saja yang boleh melakukan pembedahan. Pembedahan biasanya didukung oleh dewan kota dan selalu mematok pemungutan biaya. Banyak kota-kota di Eropa seperti Amsterdam, London, Kopenhagen, Padua, dan Paris memiliki ahli anatomi kerajaan yang terikat dengan pemerintah setempat. Walaupun pembedahan sangat sulit dilakukan, tetapi menghadiri pembedahan adalah hal yang legal. Hal ini membuat banyak mahasiswa anatomi mengembara berkeliling Eropa.
Banyak masyarakat Eropa, yang tertarik akan ilmu anatomi, menuntut ilmu ke Italia sebagai pusat pendidikan ilmu anatomi. Hanya di Italia beberapa penelitian penting dilakukan seperti pembedahan pada tubuh wanita.
Realdo Colombo dan Gabriele Falloppio adalah murid dari Vesalius (ahli anatomi abad ke-16). Colombo, yang akhirnya menjadi profesor di Roma, banyak melakukan perkembangan pada anatomi tulang, memperbaiki fakta mengenai bentuk dan ruangan jantung, pembuluh nadi paru-paru, aorta dan katup-katupnya, penggambaran baru tentang otak dan pembuluhnya, pembetulan mengenai pemahaman bagian dalam telinga, dan mengenai ruangan pada laring.

Anatomi abad ke-19

Pada abad ke-19, banyak ilmuwan yang memberikan gambaran anatomi lebih mendalam dibandingkan abad sebelumnya. Selain itu, dikembangkan pula ilmu mengenai anatomi mikro yaitu histologi pada manusia dan hewan. Penelitian anatomi berkembang dimana-mana dengan Inggris sebagai pusatnya.
Permintaan akan mayat semakin meningkat. Untuk itu berbagai cara dilakukan, bahkan pembunuhan. Melihat perkembangan yang tidak baik ini, parlemen Inggris mengeluarkan Undang-undang Anatomi 1832, yang memberikan batas-batas hukum untuk penyediaan jenazah. Pembatasan ini membuat dimulainya pengerjaan sebuah buku teks ilmu anatomi yang akhirnya terkenal, Gray's Anatomy.

Anatomi modern

Penelitian anatomi pada ratusan tahun lalu banyak membantu perkembangan pemahaman pada ilmu-ilmu baru seperti biologi molekuler. Berbagai perkembangan juga terjadi pada alat-alat canggih untuk memahami tubuh manusia (terutama tubuh hidup), yakni melalui alat MRI dan pemindaian CAT.

Peraturan Anatomi di Indonesia

Pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah Tentang Bedah Mayat Klinis dan Bedah Mayat Anatomis serta Transplantasi Alat dan atau Jaringan Tubuh Manusia pada 1981. Hal ini dilakukan untuk menjaga dan menghormati jenazah sebagai peninggalan manusia.
Beday mayat klinis yang dimaksud adalah tindakan otopsi yang dilakukan untuk mengetahui sebab kematian pasien atau dalam kasus kriminal, dan memperoleh pengetahuan yang dianggap perlu. Bedah mayat anatomis adalah bedah mayat dalam rangka pendidikan.