The Pharmacist Room

Menghitung Stok Minimum Obat di Instalasi Farmasi Rumah Sakit atau Apotek


FARMASI RUMAH SAKIT


            Farmasi rumah sakit adalah seluruh aspek kefarmasian yang di lakukan di rumah sakit. Sedangakan instalasi farmasi rumah sakit (IFRS) adalah suatu bagian/ unit/ divisi atau fasilitas dari rumah sakit, tempat penyelenggaraan semua kegiatan kefarmasian untuk keperluan di rumah sakit itu sendiri (JP Siregar, 2004).

            Tugas utama dari IFRS adalah pengelolaan, pengadaan, penyimpanan, penyiapan, peracikan, pelayanan langsung kepada penderita dan pengendalian semua perbekalan farmasi yang digunakan dalam rumah sakit (JP Siregar, 2004).

Lingkup dari IFRS adalah:

  1. Fungsi non klinik (manajerial): meliputi perencanaan, penetapan spesifikasi pemasok, pengadaan, produksi, penyimpanan, pengemasan dan pengemasan kembali, distribusi dan pengendalian semua perbekalan farmasi yang digunakan di rumah sakit
  2. Fungsi klinik: fungsi yang memerlukan interaksi langsung dengan profesi kesehatan lain, meliputi:
    • Pemantauan terapi obat (PTO)
    • Evaluasi penggunaan obat
    • Penanganan bahan sitotoksik
    • Pelayanan di unit perawatan kritis
    •  

    • Pemeliharaan formularium
  • Penelitian
  • Sentra informasi obat
  • Pengendalian infeksi nosokomial
  • Pemantauan dan pelaporan reaksi obat merugikan (ROM), (=ADR: adverse drug reaction)
  • Sistem formularium, panitia farmasi dan terapi
  • Sistem pemantauan kesalahan obat
  • Bulletin terapi obat
  • Program edukasi “in service” bagi apoteker, dokter dan perawat
  • Investigasi obat unit gawat darurat (JP Siregar, 2004)
  1. PENGENDALIAN PERSEDIAAN DAN PENGELOLAAN BARANG

Dalam melaksanakan fungsi manajemen yang berkualitas maka Instalasi Farmasi Rumah Sakit harus menyusun sistem pengendalian persediaan dan pengelolaan barang (obat) secara optimal. Persediaan merupakan harta yang besar jumlahnya, yang diinvestasikan sehingga harus dikelola dengan benar. Pengendalian persediaan yang efektif adalah dengan mengoptimalkan dua tujuan:

  • Memperkecil total investasi pada persediaan
  • Menjual berbagai produk yang benar untuk memenuhi kebutuhan pasien

Tujuan utama pengendallian persediaan:

  • Melindungi dari kerugian
  • Membuat sistem pengadaan atau manufaktur
  • Meminimalkan waktu tunggu
  • Meningkatkan efisiensi transportasi
  • Mengantisipasi fluktuasi permintaan (JP Siregar, 2004)

Secara garis besar agar terkelola dengan baik dapat digunakan siklus manajemen: seleksi, perencanaan dan pengadaan, distribusi dan pemakaian.

Seleksi adalah menetapkan jenis dan jumlah obat sesuai dengan pola penyakit dan kebutuhan pelayanan kesehatan dasar termasuk program kesehatan yang ditetapkan. Dalam kegiatan ini yang bertanggung jawab adalah PFT (Panitia Farmasi dan Terapi) untuk mengidentufikasikan pemilihan terapi, bentuk dan dosis, prioritas obat esensial, menentukan dan memperbaharui standar pengobatan (JP Siregar, 2004).

            Kriteria seleksi obat:

  • Mempunyai rasio manfaat-resiko yang paling menguntungkan penderita
  • Mutu terjamin, termasuk stabilitas dan bioavailabilitas
  • Praktis dalam penyimpanan
  • Praktis dalam penggunaan dan penyerahan
  • Menguntungkan dalam hal kepatuhan dan penerimaan oleh penderita
  • Mempunyai rasio manfaat-biaya yang tertinggi berdasarkan biaya langsung dan tak langsung

Bila terdapat lebih dari satu pilihan yang memiliki efek terapi serupa, pilihan dijatuhkan pada:

  • Obat yang sifatnya paling banyak diketahui berdasarkan data ilmiah
  • Obat yang sifatnya farmakokinetik yang diketahui paling menguntungkan
  • Obat stabilitasnya lebih baik
  • Mudah diperoleh dan sudah dikenal (JP Siregar, 2004).

 

Perencanaan meliputi proses pemilihan jenis dan harga perbekalan farmasi dalam rangka pengadaan. Perencanaan bertujuan untuk :

  • Mendapatkan jenis dan jumlah sesuai kebutuhan dan anggaran (efisiensi keuangan).
  • Menghindari kekurangan dan kelebihan obat.
  • Meningkatkan efektivitas penyimpanan (JP Siregar, 2004).

Metode perencanaan yang biasa digunakan meliputi: metode epidemiologi, metode konsumsi ataupun kombinasi dari keduanya dengan disesuaikan dengan anggaran yang tersedia. Penentuan prioritas obat yang direncanakan berdasarkan:

  • Metode VEN (Vital, Essensial dan Non Essensial)
  • Sistem ABC (Pareto)
  • PUT (Prioritas, Utama, Tambahan) (JP Siregar, 2004).

Pengadaan merupakan proses dalam merealisasikan perencanaan. Prinsip yang digunakan dalam melakukan pengadaan adalah pembelian yang tepat dalam jumlah yang benar dan dengan cara pembelian yang menguntungkan. Tahap-tahap yang perlu dilakukan dalam siklus pengadaan obat:

  • Meninjau jenis obat yang akan dipesan
  • Menentukan jumlah masing-masing obat
  • Meninjau anggaran yang ada kemudian disesuaikan
  • Memilih metode yang paling cocok
  • Memilih supplier yang cocok
  • Membuat surat perjanjian kontrak atau surat pesanan
  • Checking
  • Penerimaan dan pengecekan barang
  • Pembayaran
  • Distribusi obat
  • Pengumpulan data penggunaan obat (JP Siregar, 2004).

Pola kebijakan pengadaan yang sebaiknya dilakukan meliputi:

  1. Dalam jumlah waktu “order lead time” sejumlah minimum persediaan harus ada pada stok (stok minimun persediaan harus ada)
  2. Safety stock dapat digunakan untuk mengurangi biaya yang harus timbul akibat kehabisan stok.
  3. Low average inventory atau rata-rata penyimpanan sediaan yang rendah namun masih dalam batas aman, bisa mengurangi biaya yang hilang akibat penimbunan atau modal mati akibat stok yang berlebihan.
  4. Barang yang bergerak cepat harus dipesan dalam jumlah besar dalam frekuensi yang jarang, sebaliknya barang yang bergerak lambat harus dipesan dalam jumlah kecil pada frekuensi sesuai dengan penggunaan. Pola ini akan mengurangi biaya pengadaan.                         (JP Siregar, 2004).

Agar pelaksanaan pengadaan terus terkontrol dengan baik, maka perlu dilakukan pengendalian pengadaan (Inventory Control) secara rutin. Hal ini bisa dilakukan dengan :

  • Menghitung penggunaan tiap jenis obat dalam periode yang lalu
  • Koreksi terhadap kehilangan
  • Koreksi terhadap stock out (kekurangan stok)
  • Koreksi terhadap safety stock
  • Pertimbangan lead time
  • Koreksi terhadap sisa stok yang ada (JP Siregar, 2004).

Distribusi obat atau penyaluran obat di RS juga bisa mempengaruhi dalam hal pengendalian persediaan, jadi dalam distribusi ada 3 aturan penting yang harus dipenuhi yaitu: keamanan, keutuhan dan kecepatan.(Anonim, 1997)

Kebijakan manajemen tentang jumlah material yang harus ada dalam jangka waktu tertentu harus diterjemahkan sebagai pengendalian terus-menerus untuk memperoleh hasil yang optimal. Jumlah material harus tidak terlalu besar karena jumlah yang terlalu berlebihan tentunya dapat merugikan karena kadaluarsa. Penjadwalan penerimaan serta proses penggunaan material tersebut harus lancar. Faktor biaya juga harus menjadi perhatian, stok yang terlalu besar atau kecil dapat meningkatkan biaya yang tidak diinginkan, sehingga suatu keadaan seimbang harus terpelihara setiap waktu. Dalam proses pengendalian, diperlukan adanya dokumentasi ataupun pencatatan jumlah dan jenis obat yang ada, agar jumlah barang yang ada bisa terus dipantau dengan baik. Pencatatan stok yang tepat dan akurat sangat penting dalam mewujudkan pengelolaan obat yang baik. Pencatatan tersebut merupakan sumber data yang bisa digunakan untuk memperhitungkan kebutuhan. Pencatatan yang kurang baik akan menghasilkan perhitungan yang tidak tepat yang bisa menyebabkan stok kurang maupun stok kadaluarsa. .(Anonim, 1997)

Alasan yang utama melakukan pengelolaan sistem pengadaan obat adalah untuk memastikan ketersediaan tiap obat setiap waktu. Hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen pengendalian persediaan adalah tingkat pelayanan dan safety stocks. Yang dimaksud dengan tingkat pelayanan adalah ukuran penyediaan barang dari gudang, dalam hal ini safety stocks merupakan faktor yang penting. Semakin tinggi tingkat safety stock di gudang maka dapat dikatakan bahwa tingkat pelayanannya semakin bagus. Namun semakin tinggi safety stocks maka akan terjadi peningkatkan biaya penyimpanan. Metode dasar dalam menentukan safety stocks adalah dengan mengalikan waktu tunggu (lead time) dengan rata-rata penggunaan obat selama 1 bulan, namun penyesuaian perlu dilakukan untuk menanggulangi variasi penggunaan obat dan pola lead time yang kadang berubah-ubah. .(Anonim, 1997)

Sistem pengendalian persediaan yang ideal dapat diwujudkan ketika pergerakan stok obat terjadi secara optimal, dimana level penyimpanan diperkecil, konsumsi atau penggunaan obat lancar dan pengiriman obat oleh supplier tepat waktu. Namun hal ini sangat jarang ditemukan. Untuk mewujudkan hal itu perlu dilakukan perhitungan terhadap jumlah barang yang akan dipesan. Perhitungan yang digunakan cukup sederhana yaitu stok minimum-maksimum yang berdasarkan penggunaan barang. Dalam hal ini perlu diperhatikan beberapa hal antara lain:

  1. Average Monthly Consumption (rata-rata penggunaan barang dalam sebulan)
  2. Supplier Lead Time (waktu menunggu kiriman barang dari supplier)
  3. Safety Stocks (stok yang harus ada untuk mencegah kekurangan stok/stocks out)
  4. Reorder Level/ Minimum Stocks Level (tingkat persediaan minimal dimana pada saat stok mencapai nilai ini maka harus diadakan pemesanan stok kembali)
  5. Maximum Stocks Level (stok yang perlu disediakan untuk memenuhi permintaan sampai periode pemesanan berikutnya). .(Anonim, 1997)

Walaupun perhitungan sudah dilakukan, namun perlu juga dilakukan penyesuaian pemesanan barang untuk menghadapi permintaan obat musiman, perubahan yang tidak diharapkan dalam penggunaan obat ataupun perubahan harga obat, dan kemampuan dalam menyimpan persediaan obat. .(Anonim, 1997)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

            Perhitungan persediaan maksimal dan persediaan minimal didasarkan pada jumlah penggunaan obat rata-rata atau dikenal dengan metode “ The Average Monthly Consumption (AMC) “. Dalam tugas ini digunakan data persediaan rata-rata tiap bulan Instalasi Farmasi Rumah Sakit Kanker “Dharmais” berdasarkan data penggunaan obat dalam empat bulan terakhir.

Average Monthly Consumption      =          Jumlah obat yang terjual dalam 4 bulan

                                                                                                      4

Kemudian jumlah rata-rata penggunaan obat tiap bulan dikonversikan menjadi rata-rata penggunaan obat  untuk tiap 2 minggu  (The Average of Two Week Consumption).

Average of Two Week Consumption          =          Average Monthly Consumption

                                                                                                            2

Setelah mendapatkan jumlah rata-rata penggunaan obat dalam 2 minggu (14 hari), maka dihitung safety  stock. Perhitungan tersebut berdasarkan waktu safety stock yaitu 3 hari yaitu:

Safety stock  =   3/14    x   Average of Two Week Consumption

                      =   0,214   x   Average of Two Week Consumption

Setelah mendapatkan jumlah safety stock dicari buffer stock/minimal stock level dari waktu safety stock (3 hari) ditambah lead time atau waktu barang datang setelah pemesanan (2 hari) dibagi 14 hari kemudian di kalikan pemakaian rata-rata obat tersebut selama 2 minggu, yaitu:

Buffer Stock/Minimal Stock Level =   5/14     x   Average of Two Week Consumption

                                                           =    0,357  x   Average of Two Week Consumption

Untuk Maximum Stock Level , perhitungannya berdasarkan minimum stock level ditambah order interval stock dalam kurun waktu tertentu. Order interval stock adalah jarak dalam waktu pemesanan yaitu 14 hari, Maximum Stock Level = Tingkat Persediaan Maksimal

Maximum Stock Level = Tingkat Persediaan Maksimal

                                      =      19/14  x   Average of Two Week Consumption

                                      =     1,357   x   Average of Two Week Consumption

Kemudian data stok minimum dan maksimum yang telah diperoleh ditulis pada kartu stok, sehingga bisa digunakan oleh personil gudang untuk melakukan perencanaan dan pengadaan barang.

 

PEMBAHASAN

 

            Tugas ini disusun untuk menghitung stok minimum dan stok maksimum yang bisa digunakan untuk merancang sistem pengadaan obat di sebuah instalasi farmasi. Stok minimum bisa dihitung dengan menggunakan data rata-rata penggunaan obat selama 2 minggu dikalikan dengan lead time dan safety stock. Stok maksimum dihitung berdasarkan stok  minimum   ditambah order interval stock dalam kurun waktu tertentu.

            Dengan data-data tersebut maka bisa ditentukan bahwa pada saat suatu obat mencapai nilai stok minimum, maka harus dilakukan pemesanan agar tidak terjadi kekurangan obat. Nilai stok maksimum merupakan batas terbesar sejumlah obat harus dipesan, jika pemesanan obat melebihi stok maksimum maka bisa terjadi kelebihan stok, atau stok mati. Selain stok minimum dan maksimum, dihitung juga nilai safety stock dimana safety stok merupakan stok yang harusnya masih ada sebagai cadangan pada saat menunggu obat datang pada saat memesan, sehingga tidak terjadi kekosongan obat

12

            Metode ini diharapkan bisa digunakan sebagai acuan dalam hal pengadaan barang secara terjadwal. Dengan adanya perhitungan stok minimum dan maksimum maka kita bisa memperkirakan kapan waktunya untuk memesan dan berapa jumlah maksimum obat yang harus dipesan. Data-data ini harus secara terus-menerus diperbaharui, karena kemungkinan pola konsumsi dan lead time akan selalu berubah untuk masing-masing jenis obat. Jika perhitungan dilakukan secara manual maka diperlukan waktu dan tenaga khusus yang menangani hal ini, sehingga yang paling praktis dan mudah adalah menggunakan software komputer yang bisa secara otomatis memperbarui jumlah stok minimum dan maksimum obat. Penggolongan jenis obat pada sistem komputer gudang yang digunakan di Instalasi Farmasi RSKD, juga harus diperbaharui karena masih banyak ditemukan item –item obat yang tidak sesuai dengan jenis penggolongan obat.

            Instalasi Farmasi Rumah Sakit Kanker “Dharmais” saat ini sedang membenahi sistem pengadaan dengan menggunakan stok minimal dan stok maksimal yang ada di gudang farmasi sebagai upaya agar pengadaan obat sesuai dengan kebutuhan, sehingga  kebutuhan obat akan terpenuhi, sesuai dengan kebutuhan Rumah Sakit Kanker “Dharmais” dan diharapkan dengan sistem ini akan meningkatkan mutu pelayanan Rumah Sakit Kanker “Dharmais” dalam pelayanan obat.


 

  1. KESIMPULAN
    1. Sistem pengendalian persediaan bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan menghitung stok minimum dan maksimum yang digunakan sebagai acuan dalam melakukan pengadaan..
    2. Stok minimum dan maksimum harus diperhitungkan untuk setiap item obat, karena pola konsumsi untuk beberapa jenis obat memang berbeda-beda.
    3. Dengan sistem ini maka bisa diketahui gambaran pemakaian obat yang secara langsung mempengaruhi pengadaan obat yang ada.
  2. SARAN
    1. Diperlukan perbaikan terhadap penggolongan jenis obat dalam sistem komputer yang ada di gudang, agar memudahkan dalam melakukan pengamatan penggunaan obat.
    2. Perlu adanya sistem komputerisasi dalam melakukan review terhadap jenis obat agar pelayanannya bisa lebih baik.
    3. Perhitungan yang dilakukan harus terus diperbaharui agar bisa menjamin ketepatan pelayanan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

       
     
 
14
 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim, 2006, Bahan Kuliah Farmasi Rumah Sakit I,  Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta.

 

Anonim, 2006, Bahan Kuliah Farmasi Rumah Sakit II,  Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta.

 

Siregar, Charles J.P. dan Amalia, Lia, 2003, Farmasi Rumah Sakit Teori dan Penerapan, EGC, Jakarta.

 

Wolff, James A., 1997, Managing Drug Supply, Kumarian press, United States of America.

 

TERAPI ANTIBIOTIK PADA SEPSIS FEBRILE NEUTROPENIA


         Sepsis adalah sindrom respon inflamasi sistemik (SIRS) yang dipicu oleh infeksi. Sindrom respon inflamasi sistemik dapat terjadi pada pasien tanpa adanya infeksi, misalnya pada luka bakar, polytrauma atau keadaan awal di pancreatitis dan pneumonitis kimia.

Selain ditandai dengan gejala yang berhubungan dengan infeksi, sepsis ditandai dengan adanya peradangan akut di seluruh tubuh. Karena itu sering dikaitkan dengan demam dan peningkatan sel darah putih (leukositosis) atau penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia). Konsep modern sepsis adalah bahwa respon kekebalan host terhadap infeksi adalah penyebab sebagian besar gejala sepsis yang berakibat pada konsekuensi hemodinamik dan kerusakan organ. Respon host ini disebut sindrom respon inflamasi sistemik (SIRS). SIRS didefinisikan sebagai dua atau lebih hal berikut :

·    Suhu > 38 ºC atau < 36 ºC

·    Heart Rate (HR) > 90 x/menit

·    Respiratory Rate (RR) > 20x/menit atau PaCO2 < 32mmHg

·    Leukosit < 4000 sel/mm3 atau > 12.000 sel/ mm3

Berikut klasifikasi sepsis yaitu :

1.    Severe sepsis adalah sepsis dengan disfungsi organ, hipotensi, aliran darah tidak cukup (hipoperfusi) untuk satu atau lebih organ menyebabkan misalnya asidosis laktat, penurunan produksi urin, atau status mental berubah.

2.    Septic shock adalah severe sepsis dengan hipotensi responsive terhadap resusitasi cairan.

Febrile neutropenia adalah Kondisi yang ditandai dengan demam dimana jumlah neutrofil yang  lebih rendah dari nilai normal dalam darah, yaitu jumlah neutrofil absolute (ANC) yang kurang dari 1000 sel/mm3 dan suhu tubuhnya lebih besar atau sama dengan 38 º C atau jika pasien secara sistemik tidak sehat dengan klinis kecurigaan sepsis. Neutrofil adalah jenis sel darah putih yang membantu melawan infeksi terutama infeksi bakteri. Neutropenia dapat disebabkan oleh penyakit leukemia. Selain itu dapat juga terjadi sebagai akibat pengobatan untuk kanker seperti kemoterapi dan radioterapi. Neutropenia merupakan efek samping yang umum dari kemoterapi dan dapat menempatkan pasien pada resiko infeksi yang parah.

Infeksi merupakan penyebab kematian yang paling umum pada pasien kanker. Neutropenia dikaitkan dengan gangguan mendalam pada respon inflamasi yang gejala infeksinya seperti eritema, bengkak, panas, nyeri dan pembentukan nanah. Pasien dengan jumlah neutrofil kurang dari 1000 sel/mm3 memiliki resiko peningkatan infeksi bakteri terutama dari endogen yang diperoleh bakteri dari kulit, hidung, dan tenggorokan atau flora saluran pencernaan. Komplikasi utama febrile neutropenia adalah septic shock dan pengobatan diarahkan untuk mencegah pengembangan dari komplikasi ini.

Berikut ini merupakan factor resiko febrile neutropenia :

1.    High risk patient

Pasien dengan kanker ditambah setidaknya satu atau lebih hal berikut

·    Keganasan hematologis

·    Myelosuppresive kemoterapi

·    Kemoterapi dan radioterapi

·    Usia > 60 tahun

·    Co-morbiditas, misalnya diabetes, status gizi buruk

·    Kanker sumsum tulang

·    Penyembuhan yang tertunda pada bedah atau luka terbuka

·    Jumlah neutrofil yang rendah

·    Riwayat neutropenia

2.    Low risk patient

Pasien dengan kanker dan :

·    Solid tumor (keganasan no hematological)

·    Tidak ada co-morbiditas

·    Darah dan kultur urin normal

·    X – Ray dada normal

·    Tidak ada kecurigaan sepsis

 

 

METODE PENULISAN

Metode yang digunakan adalah review jurnal (studi pustaka) yang berkaitan dengan terapi antibiotik pada sepsis febrile neutropenia melalui jurnal-jurnal ilmiah dengan mengumpulkan data-data dan teori yang mendukung penulisan ini. Jurnal yang digunakan adalah jurnal yang relevan dengan karya tulis dan merupakan jurnal eksperimental. Jurnal ilmiah tersebut didapat dari searching elektronik melalui situs ilmiah yang dilakukan dengan memasukkan kata kunci “treatment, antibiotik, sepsis, febrile, neutropenia”, diperoleh 7 jurnal yang relevan dengan karya tulis dan merupakan jurnal eksperimental. Jurnal hasil seleksi dipaparkan ke dalam karya tulis kemudian data dianalisis.

 

HASIL

Berdasarkan kata kunci yang digunakan yaitu “treatment, antibiotik, sepsis febrile, neutropenia”, terdapat 7 jurnal yang relevan dengan karya tulis. Jurnal tersebut dipaparkan pada tabel I.

 

Judul Jurnal    Pengarang, Tahun    Ringkasan      

Management of febrile neutropenia    Saman kannangara, MD., 2006    Monoterapi dengan cephalosporin generasi III/ IV atau dengan Carbapenem sama efektifnya dengan terapi kombinasi pada pasien dengan febrile neutropenia.      

Guidelines for the management of neutropenic sepsis    Moyra taylor, dkk ., 2007    Penatalaksanaan pasien yang memiliki resiko yang tinggi adalah dengan monoterapi penggunaan meropenem sedangkan duoterapinya bisa dengan penggunaan antipseudomonal penicilin (misalnya Tazocin 4,5 g) ditambah dengan gentamicin (3-5 mg/kg BB) atau Meropenem ditambah gentamicin. Sedangkan yang memiliki resiko yang rendah terapinya dengan kombinasi IV Ciprofloxacin dan Co-amoxiclav.      

Guidelines for the management of febrile neutropenia in oncology patients.    Rena Chauhan, dkk., 2009    Pada pasien yang tidak alergi terhadap penisillin bisa diberikan piperasillin / tazobactam 4,5g IV 3 x sehari. Pada pasien dengan status alergi penisillin yang tidak berat (sedang) pilihan obat yang digunakan adalah meropenem 1g IV 3 x sehari. Sedangkan pada pasien dengan status alergi penisillin yang berat pilihan obat yang digunakan adalah ciprofloxacin 750mg PO 2 x sehari atau jika tidak bisa secara oral bisa dengan IV 400mg 2 x sehari yang dikombinasi dengan Vancomycin 1g IV 2 x sehari (>65 th bisa dengan oral 1g vancomicin 1 x sehari). Pada semua status alegi, jika pasien mengalami shok bisa diberikan Gentamisin.      

Management of febrile neutropenia in adult    Gippsland Oncology Nurses Group., 2010    Bagi pasien dengan resiko tinggi terapi yang diberikan adalah dengan Ceftazidime 2g IV 3 x sehari atau Ciprofloxacin 400mg IV 2 x sehari yang dikombinasi dengan Gentamicin IV 1x sehari. Bila ada sepsis terapi bisa ditambah dengan Vancomycin 1g IV 2 x sehari (modifikasi dosis bagi yang memiliki gangguan ginjal). Sedangkan untuk pasien dengan resiko rendah dapat diterapi dengan Ceftazidime 2g IV 3 x sehari atau Ciprofloxacin 400mg IV 2 x sehari saja.

 

Empirical antibiotic monotherapy for febrile neutropenia : systemic review and meta-analysis of randomized controlled trials.    Mical paul, dkk., 2005    Penggunaan cefepime untuk febrile neutropenia harus dipertimbangkan dan hati-hati karena memiliki tingkat mortalitas yang tinggi. Penggunaan Carbapenem secara empiris menggunakan sedikit modifikasi tetapi memberikan peningkatan  pada colitis pseudomembran. Ceftazidime, piperacillin/tazobactam, imipenem/cilastatin dan meropenem merupakan agen yang cocok digunakan secara monoterapi.

 

Meropenem monotherapy versus combination therapy with ceftazidime and amikacin for emprical treatment of febrile neutropenic patients    Behre, dkk., 1997    monoterapi meropenem sama efektifnya dengan terapi kombinasi dengan ceftazidime dan amikacin  untuk terapi empiris pada pasien febrile neutropenia.

 

Meropenem versus ceftazidime in the treatment of cancer patient with febrile neutropenia : a randomized, double-blind trial    Ronald Feld, dkk., 2000    monoterapi dengan  menggunakan meropenem merupakan pilihan yang cocok untuk terapi awal empiris antibiotic pada pasien demam dengan kanker neutropenia.   

 

PEMBAHASAN

Sepsis adalah sindrom respon inflamasi sistemik (SIRS) yang dipicu oleh infeksi. Selain ditandai dengan gejala yang berhubungan dengan infeksi, sepsis ditandai dengan adanya peradangan akut di seluruh tubuh. Karena itu sering dikaitkan dengan demam dan peningkatan sel darah putih (leukositosis) atau penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia). SIRS didefinisikan sebagai dua atau lebih hal berikut :

·    Suhu > 38 ºC atau < 36 ºC

·    Heart Rate (HR) > 90 x/menit

·    Respiratory Rate (RR) > 20x/menit atau PaCO2 < 32mmHg

·    Leukosit < 4000 sel/mm3 atau > 12.000 sel/ mm3 

Febrile neutropenia adalah Kondisi yang ditandai dengan demam dimana jumlah neutrofil yang  lebih rendah dari normal dalam darah. Neutrofil adalah jenis sel darah putih yang membantu melawan infeksi. Dimana jumlah neutrofil absolute (ANC) yang kurang dari 1000 sel/mm3. Memiliki jumlah neutrofil terlalu sedikit meningkatkaan resiko terjadinya infeksi.

Berdasarkan literatur yang disusun oleh Saman kannangara, MD (2006) dengan judul “Management of febrile neutropenia” disebutkan bahwa monoterapi dengan cephalosporin generasi III/ IV atau dengan Carbapenem sama efektifnya dengan terapi kombinasi pada pasien dengan febrile neutropenia.

Dari hasil guidelines yang disusun oleh Moyra taylor, dkk (2007) yang berjudul “Guidelines for the management of neutropenic sepsis”, febrile neutropenia ditangani berdasarkan keadaan pasien. Bagi pasien yang memiliki resiko tinggi seperti mereka yang sudah rawat inap ketika demam yang berkembang menjadi neutropenia, pasien yang membutuhkan perawatan rumah sakit akut untuk masalah selain demam dan neutropenia, pasien dengan kanker tidak terkendali (misalnya leukemia akut,tumor dan selama terapi antikanker), dalam keadaan hamil, penyakit HIV, dalam penggunaan antibiotik (dalam waktu 72 jam sebelumnya), nyeri abdomen, mual, muntah, diare, gagal ginjal (clearance kreatinin < 30ml/min) dan gagal hati. Sedangkan pasien yang memiliki resiko yang rendah adalah mereka yang tidak termasuk dalam kategori resiko tinggi di atas. Jika penggolongannya ragu maka pasien dianggap memiliki resiko yang tinggi.

Penatalaksanaan pasien yang memiliki resiko yang tinggi adalah dengan monoterapi penggunaan meropenem sedangkan duoterapinya bisa dengan penggunaan antipseudomonal penicilin (misalnya Tazocin 4,5 g) ditambah dengan gentamicin (3-5 mg/kg BB) atau Meropenem ditambah gentamicin. Sedangkan yang memiliki resiko yang rendah terapinya dengan kombinasi IV Ciprofloxacin dan Co-amoxiclav.

Berdasarkan hasil guidelines yang disusun oleh Rena Chauhan, dkk (2009) yang berjudul “Guidelines for the management of febrile neutropenia in oncology patients” membagi pengobatan sepsis febrile neutropenia berdasarkan status alergi pasien terhadap penicillin. Pada pasien yang tidak alergi terhadap penisillin bisa diberikan piperasillin / tazobactam 4,5g IV 3 x sehari. Pada pasien dengan status alergi penisillin yang tidak berat (sedang) pilihan obat yang digunakan adalah meropenem 1g IV 3 x sehari. Pada kondisi tertentu kedua status alergi ini bisa dikombinasikan dengan vancomycin 1g IV 2 x sehari ( pada pasien dengan gangguan ginjal dosis di sesuaikan). Sedangkan pada pasien dengan status alergi penisillin yang berat pilihan obat yang digunakan adalah ciprofloxacin 750mg PO 2 x sehari atau jika tidak bisa secara oral bisa dengan IV 400mg 2 x sehari yang dikombinasi dengan Vancomycin 1g IV 2 x sehari (>65 th bisa dengan oral 1g vancomicin 1 x sehari). Pada semua status alegi, jika pasien mengalami shok bisa diberikan Gentamisin.

Dilihat dari hasil guidelines yang disusun oleh Gippsland Oncology Nurses Group (2010) yang berjudul “Management of febrile neutropenia in adult” juga membagi terapi sepsis febrile neutropenia berdasarkan keadaan pasien tetapi berbeda terapi. Bagi pasien dengan resiko tinggi terapi yang diberikan adalah dengan Ceftazidime 2g IV 3 x sehari atau Ciprofloxacin 400mg IV 2 x sehari yang dikombinasi dengan Gentamicin IV 1x sehari. Bila ada sepsis terapi bisa ditambah dengan Vancomycin 1g IV 2 x sehari (modifikasi dosis bagi yang memiliki gangguan ginjal). Jika terjadi kondisi klinis oropharyngeal kandidiasis atau penggunaan steroid dosis tinggi perlu ditambahkan Fluconazole 400mg IV atau oral 1 x sehari. Apabila febrile atau demam telah mereda selama 48 jam dengan kultur yang negatif dan tidak ada indikasi klinis dari sepsis maka penambahan Vancomycin dapat dipertimbangkan. Jika demam masih berlanjut >48 jam maka yang dipertimbangkan adalah penambahan Fluconazole 400mg IV 1 x sehari. Sedangkan untuk pasien dengan resiko rendah dapat diterapi dengan Ceftazidime 2g IV 3 x sehari atau Ciprofloxacin 400mg IV 2 x sehari saja.

Berdasarkan hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Mical paul, dkk (2005) yang berjudul “Empirical antibiotic monotherapy for febrile neutropenia: systemic review and meta-analysis of randomized controlled trials”diperoleh hasil kesimpulan bahwa penggunaan cefepim untuk febrile neutropenia harus dipertimbangkan dan hati-hati karena memiliki tingkat mortalitas yang tinggi. Penggunaan Carbapenem secara empiris menggunakan sedikit modifikasi tetapi memberikan peningkatan  pada colitis pseudomembran. Ceftazidime, piperacillin/tazobactam, imipenem/cilastatin dan meropenem merupakan agen yang cocok digunakan secara monoterapi.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh G. Behre, dkk (1997) yang berjudul “Meropenem monotherapy versus combination therapy with ceftazidime and amikacin for emprical treatment of febrile neutropenic patients” diperoleh hasil bahwa monoterapi meropenem sama efektifnya dengan terapi kombinasi dengan ceftazidime dan amikacin  untuk terapi empiris pada pasien febrile neutropenia.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Ronald Feld, dkk (2000) yang berjudul “Meropenem versus ceftazidime in the treatment of cancer patient with febrile neutropenia : a randomized, double-blind trial” diperoleh hasil bahwa monoterapi dengan  menggunakan meropenem merupakan pilihan yang cocok untuk terapi awal empiris antibiotic pada pasien demam dengan kanker neutropenia.

 

Kesimpulan

Dari beberapa hasil penelitian, guidelines maupun literatur yang diperoleh dapat di simpulkan bahwa :

1.    Pengobatan sepsis febrile neutropenia dapat diatasi dengan menggunakan mono atau duo terapi antibiotik. Ceftazidime, piperacillin/tazobactam, imipenem/cilastatin dan meropenem merupakan agen yang cocok digunakan secara monoterapi.

2.    Pengobatan terapi febrile neutropenia pada pasien dengan resiko tinggi bisa dengan mono terapi meropenem atau duo terapi meropenem /  ceftazidime / ciprofloksasin plus gentamicin. Sedangkan pada pasien dengan resiko rendah bisa dengan monoterapi antara ceftazidime atau ciprofloxacin atau dengan duoterapi yaitu kombinasi antara ciprofloxacin plus co-amoxiclav. Bila ada sepsis maka bisa dikombinasikan dengan Vancomycin.

3.    Pengobatan sepsis febrile neuropenia dapat dibagi berdasarkan status alergi terhadap penisillin. Pada pasien yang tidak alergi bisa diberikan piperasillin / tazobactam, pada pasien dengan status alergi yang sedang bisa dengan menggunakan meropenem pada kedua status ini bisa ditambahkan vancomycin jika dalam keadaan tertentu dibutuhkan, sedangkan pada status alergi berat pada penisillin bisa diberikan ciprofloxacin plus vancomycin. Pada semua status alergi jika pasien mengalami shok bisa ditambah dengan penggunaan gentamycin.

4.    Pengobatan dengan cara monoterapi lebih efektif jika dibandingkan dengan terapi kombinasi misalnya monoterapi dari golongan cephalosporin generasi III/ IV atau dengan golongan Carbapenem.

5.    Meropenem adalah alternatif pengobatan monoterapi yang lebih efektif.

 

REKOMENDASI

    Golongan carbapenem dan golongan cephalosporin generasi III/IV adalah agen yang cocok digunakan sebagai pengobatan untuk pengobatan sepsis febrile neutropenia. Namun pengobatan dengan cara monoterapi lebih efektif jika dibandingkan dengan terapi kombinasi. Misalnya terapi febrile neutropenia pada pasien dengan resiko tinggi bisa dengan monoterapi meropenem atau duo terapi yaitu meropenem/ceftazidime/ciprofloksasin dikombinasikan dengan gentamicin. Sedangkan pada pasien dengan resiko rendah bisa dengan monoterapi ceftazidime/ciprofloxacin atau dengan duo terapi yaitu kombinasi antara ciprofloxacin plus co-amoxiclav. Bila ada sepsis maka bisa dikombinasikan dengan Vancomycin

 

DAFTAR PUSTAKA

Behre, G.; Link, H.; Maschmeye, G.; P. U. Paaz, Meyer; Wilhelm, M.; Hiddemann,W., 1998, Meropenem monotherapy versus combination therapy with ceftazidime and amikacin for emprical treatment of febrile neutropenic patients,  journal of Department of Hematology/Oncology,  University of Göttingen, Germany.

Chauhan, Rena; Potter, Dr Vanessa, 2009, Guidelines for the management of febrile neutropenia in oncology patients, Guidelines. Nottingham Antibiotic Guidelines Committee.

Feld, Ronald; DePauw, Ben; Berman, Steven; Keating, Armand; Ho, Winston, 2000, Meropenem versus ceftazidime in the treatment of cancer patient with febrile neutropenia : a randomized, double-blind trial, Journal of Clinical Oncology, Vol 18, American Society of Clinical Oncology.

Gippsland Oncology Nurses Group, 2010, Management of febrile neutropenia in adult Guidelines.

Kannangara, Saman; MD, 2006, Management of febrile neutropenia. Division of Infectious Diseases, Pennsylvania Hospital, University of Pennsylvania Health System, Philadelphia, PA.

Paul, Mical; Yahav, Dafna; Frase, Abigail; Leibovici, Leonard, 2005, Empirical antibiotic monotherapy for febrile neutropenia : systemic review and meta-analysis of randomized controlled trials. Journal of Antimicrobial Chemotherapy, Department of Medicine E, Rabin Medical Center, Beilinson Campus, Israel.

Taylor, Moira; Mutton, Ken; Mutton, Ken, 2007, Guidelines for the management of neutropenic sepsis, Guidelines, Consultant Microbiologist, Stepping Hill Hospital, Consultant Virologist, Christie Hospital & MRI.

TEKNIK ASEPTIS DALAM STERILISASI

I.Teknik Aseptis

Kata aseptik berasal dari bahasa yunani dan dapat diturunkan menjadi dua kata “a” berarti tanpa dan “sepsis” berarti kontaminasi. Jadi dapat disimpulkan proses aseptik adalah sebuah proses tanpa kontaminasi (Northumbria Healthcare NHS Foundation). Teknik aseptis yang baik rekat hubungannya dengan preparasi produk steril di rumah sakit maupun industri. Tujuan teknik aseptis untuk menjamin preparasi tersebut bebas dari mikroba, partikel dan kontaminasi pirogen pada waktu penggunaan, sebagai tambahan untuk syarat dasar sediaan obat selain kemurnian dan potensi. Dikarenakan sterilitas tidak dapat diukur atau dijamin, praktek aseptik yang baik memiliki peran yang penting pada keseluruhan sistem penjaminan kualitas (Crowe & Fenton May, 2009).

 

II.Aseptic Dispensing service dan Contoh Sediaan Aseptis

Aseptic dispensing service yang bisa disebut pelayanan pembuatan secara aseptis adalah suatu teknik preparasi dan penyediaan dari produk medis steril, termasuk di dalamnya proses pengenceran atau proses lainnya sebelum obat diberikan. Preparasi ini dilakukan di dalam departemen pelayanan aseptik farmasi oleh beberapa teknisi yang terlatih, farmasis beserta asistennya di bawah kondisi yang terkontrol. Preparasi/pembuatan secara aseptis dilakukan karena adanya kebutuhan dari pasien (missal melalui resep) di bawah pengawasan dari seorang farmasis. Ketentuan Aseptic dispensing sebenarnya tidak diatur dalam Perundang-undangan obat-obatan, namun dalam preparasinya harus sesuai dengan Standards of Quality Assurance yang berlaku dan di bawah pengawasan. Preparasi Clinical research trials juga dilakukan dalam Departemen Pelayanan Aseptik.

Aseptic dispensing dilakukan untuk menjamin manajemen terapi dan untuk meningkatkan kualitas dari pelayanan dan mengurangi resiko yang mungkin terjadi seperti resiko kontaminasi mikroba, resiko kontaminasi partikel, menjamin ketepatan pengenceran, menjamin stabilitas dan kompatibilitas,menjamin kesesuaian rute dan laju administrasi dan mengurangi kesalahan penggunaan dari obat-obatan mahal. Contoh sediaan yang persiapannya dilaksanakan secara aseptis yaitu nutrisi parenteral dewasa, nutrisi parenteral pada anak-anak, pre-filled syringes, intravenous drug additives,  injeksi sitotoksik (University Hospital of South Manchester-NHS Foundation Trust).

 

III. Karakteristik Lingkungan Pelaksanaan Aseptis

Untuk keperluan penjaminan sediaan steril sanitasi area bersih sangat penting. Pemantauan harus dilakukan secara berkala untuk mendeteksi munculnya galur mikroba yang resisten. Desinfektan dan deterjen harus dipantau terhadap kontaminasi mikrobanya, pengenceran harus dibuat dalam wadah yang telah dibersihkan sebelumnya dan hanya boleh disimpan dalam periode waktu tertentu.

Area bersih untuk pembuatan sediaan steril digolongkan berdasarkan karakteristik lingkungan yang dipersyaratkan. Tiap pelaksanaan pembuatan membutuhkan suatu tingkat kebersihan lingkungan yang sesuai dengan tahapan pelaksanaan untuk memperkecil resiko kontaminasi partikel atau kontaminasi mikrobiologis terhadap produk atau bahan yang ditangani.

Untuk memenuhi kondisi saat beroperasi area ini harus dirancang untuk mencapai suatu tingkat kebersihan udara tertentu.

Untuk pembuatan sediaan farmasi steril, dibedakan atas empat tingkat ruang yakni:

  1. Tingkat A   : Zona lokal untuk pelaksanaan yang beresiko tinggi, contohnya pengisian dan pengoneksian sediaan aseptis. Kabinet laminar air flow merupakan kabinet yang memenuhi kriteria zona A.
  2. Tingkat B   : merupakan zona latar untuk zona tingkat A
  3. Tingkat C dan D    : merupakan area bersih untuk melaksanakan tahap yang kurang membutuhkan kondisi aseptis.

Tabel 3.1 Perbandingan perbedaan sistem klasifikasi partikel yang terbawa di udara untuk area bersih. (WHO, 2007)

WHO

 (GMP)

Amerika Serikat

(209E)

Amerika Serikat

(biasa)

ISO/TC

(209)

EEC

(GMP)

Tingkat A

Tingkat B

Tingkat C

Tingkat D

M 3,5

M 3,5

M 5,5

M 6,5

Kelas 100

Kelas 100

Kelas 10000

Kelas 100000

ISO 5

ISO 5

ISO 7

ISO 8

Tingkat A

Tingkat B

Tingkat C

Tingkat D

IV.Aturan Personelia

  1. Semua karyawan (termasuk petugas bagian pembersihan dan pemeliharaan) yang bekerja di area tersebut harus menerima pelatihan awal dan rutin dalam bidang yang berkaitan dengan pembuatan produk steril yang benar.
  2. Jumlah karyawan yang bertugas dalam area bersih harus dibatasi. Staf lain selain yang digunakan dalam proses pembuatan yang sedang berlangsung tidak boleh memasuki area produk steril kecuali telah mengikuti prosedur dekontaminasi yang ditetapkan secara teliti dan jelas.
  3. Standart higienis dan kebersihan karyawan harus tinggi dan karyawan yang terlibat dalam pembuatan sediaan steril  harus diinstruksikan untuk melaporkan semua kondisi yang dapat menyebabkan penyebaran kontaminan, diperlukan pemerikasaan kesehatan secara berkala untuk kondisi tersebut.
  4. Pakaian yang dipakai dari rumah tidak boleh dibawa ke dalam area bersih dan karyawan yang masuk ke ruang ganti harus sudah memakai pakaian pelindung kerja standar (Jas, masker, topi dan sarung tangan). Penggantian dan pencucian pakaian harus sesuai prosedur. Pakaian yang dipakai dan mutunya harus sesuai dengan proses dan tingkat area kerja.
  5. Arloji dan perhiasan tidak boleh dipakai dalam area bersih, dan kosmetik yang dapat melepaskan partikel tidak boleh digunakan (WHO, 2007).

V.Penatalaksanaan Pembuatan Sediaan Secara Aseptis

Setelah pencucian, komponen harus ditangani sedikitnya dalam lingkungan tingkat D. Penanganan bahan awal dan komponen yang steril harus dalam lingkungan tingkat A dengan latar belakang tingkat B, kecuali tujuan sterilisasi atau penyaringan melalui suatu saringan penahan mikroba pada proses yang paling akhir.

Penyiapan larutan yang akan disaring secara steril selama proses harus dilakukan dalam lingkungan tingkat C, bila tidak disaring secara steril, penyiapan bahan dan produk harus dilakukan dalam lingkungan tingkat A dengan latar belakang tingkat B. Penangan dan pengisian produk yang disiapkan secara aseptis, dan juga penanganan peralatan steril yang terpajan, harus dilakukan dalam lingkungan tingkat A dengan dengan latar belakang tingkat B.

Larutan dan cairan tertentu yang tidak dapat disterilisasi dalam wadah akhirnya dapat disaring melalui saringan melalui saringan steril dengan ukuran nominal pori 0,22µm (atau lebih kecil), atau yang sama kemampuannya menahan mikroba, ke dalam wadah yang telah disterilkan sebelumnya. Saringan tersebut dapat menghilangkan bakteri dan jamur, namun tidak menghilangkan semua virus dan mikroplasma.  Sterilisasi cara saring menyebabkan resiko tambahan yang lebih potensial dibandingkan proses sterilisasi lain, dianjurkan untuk melakukan penyaringan kedua atau lapisan saringan ganda melalui saringan penahan mikroba yang steril segera sebelum pengisian. Penyaringan steril akhir harus dilakukan sedekat mungkin dengan titik pengisian (WHO, 2007).

 

DAFTAR PUSTAKA

Crowe, D & Fenton May, V, 2009. Good Aseptic Technique. Diterima : 27 Maret 2010, dari www.portal.nelm.nhs.uk/wpresources/DownloadDoc.aspx?id=2160

 

Northumbria Healthcare-NHS Foundation. Aseptic Service. Diterima : 17 Maret 2010, dari www.northumbria.nhs.uk/getfile.asp?id=99459

 

University Hospital of South Manchester-NHS Foundation Trust. Pharmacy Aseptic Services. Diterima : 27 Maret 2010, dari http://www.uhsm.nhs.uk/patients /Pages/PharmacyAsepticServices.aspx

 

World Health Organization, 2007. Quality Assurance of Pharmaceuticals : A Compendium of Guidelines and Related Materials Vol 2 Ed 2th. Diterima : 17 Maret 2010, dari http://whqlibdoc.who.int/publications/2007/9789241547086 eng.pdf

 

 

 

 

 

 

 

 

STERILISASI DALAM CSSD ADALAH


STERILISATOR CSSD

Berdasarkan metodenya,  sterilisasi dibagi berdasarkan :

  1. Metode In Aktivasi Mikroorganisme

Metode In aktivasi mikroorganisme dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya :

  1. Sterilisasi Panas

Sterilisasi Panas dibagi lagi berdasarkan mekanisme kerja yang dilakukan menjadi :

Sterilisasi Panas Basah 

Mekanisme : Koagulasi dan denaturasi protein mikroorganisme

Cara sterilisasi :

Dimasak dalam air

Pendidihan dengan zat anti mikroba

Pemanasan dengan uap air 1 atm

Pemanasan dengan uap air jenuh tekanan tinggi (> 1 atm)

Pemanasan dengan uap air jenuh tekanan tinggi (> 1 atm) ini sering dilakukan dengan alat yang disebut Otoklaf. Prinsip kerja Otoklaf :

 

Sterilan : uap air panas yg jenuh

 

Kontak dengan m.o (yg suhunya dingin)

Supersaturasi

Kondensasi :

Kontraksi volume (uap air mengisi daerah yg negatif)

                                                               Pelepasan energi termal yg sangat besar

 ↓

Denaturasi protein m.o

 

Sterilisasi Panas Kering

Mekanisme : Dehidrasi kemudian dilanjutkan proses oksidasi

Cara Sterilisasi :

  • Oven
  • Pemijaran

Contoh Penggunaan :

  • Alat gelas
  • Porselen
  • Alat logam
  • Minyak dan lemak
  • Serbuk
  • Bahan alam : talk, NaCl

Keuntungan dan kerugian penggunaan panas kering :

Kerugian

 keuntungan

  • Efisiensi rendah
  • Butuh suhu tinggi dan waktu lama
    • Tidak merusak gelas
    • Bisa untuk alat yang tertutup rapat
    • Bisa untuk bahan padat dan tak tahan lembab
    • Hasil kering
 
  1. Sterilisasi Gas
  2. Sterilisasi Radiasi
  1. Metode Pemisahan Mikroorganisme (Sterilisasi Filtrasi)
  • Menurut Farmakope Edisi IV:

Filtrasi adalah penyaringan yang dapat menahan mikroba hingga mikroba yang dikandung dapat dipisahkan secara fisika

  • Prinsip : Pemisahan mikroorganisme dan atau substansi molekular
  • Keuntungan sterilisasi filtrasi (dengan membran filter) :

Dapat mensterilkan bahan-bahan (ex. Obat-obat, cerra, vitamin, media, nutrient khusus, dll) yang tidak tahan dengan pemanasan.

Membran filter relatif tidak mahal

Dapat menyaring dalam volume besar

Membran filter dapat diautoklaf atau dibeli dalam kondisi steril

  • Kerugian sterilisasi filtrasi (dengan membran filter) :

Dapat meloloskan virus dan beberapa mycoplasma

Dapat mengabsorbsi filtrat dalam jumlah tertentu

Dapat menyebabkan ion logam masuk ke dalam filtrat

SAL kurang dari sterilisasi panas basah dan panas kering

Membran filter dpt tersumbat, dan mungkin terjadi kebocoran àhindari dg buble point test

 

Adapun cara sterilisasi masing-masing bahan adalah sebagai berikut :

Nama bahan

Fungsi

Stabilitas terhadap Panas

Cara sterilisasi

HES

Bahan Utama

 

Melunak pada 135-140°C, terdekomposisi pada 205°C

Autoklaf 121°C selama 15 menit

NaCl

Pengisotoni

 

Mendidih pada 1413°C

 

Oven 180°C Selama 30 menit

 

WFI

Pembawa

-

Autoklaf 121°C selama 15 menit

Sehingga dapat disimpulkan bahwa cara sterilisasi sediaan dengan cara sterilisasi panas basah dengan otoklaf pada suhu 121OC selama 30 menit.