The Pharmacist Room

Mengenal Alkaloid Pada Tanaman

             Lada atau merica adalah rempah-rempah berwujud biji-bijian yang dihasilkan oleh tanaman Piper nigrum. Piperin merupakan suatu senyawa yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Piperin banyak ditemukan pada simplisia yang termasuk keluarga Piperaceae. Selain mengandung piperin, lada juga mengandung minyak atsiri, piperitina, piperidina, filandrena, dan alkaloid piperina. Kandungan piperin dapat merangsang cairan lambung dan ludah, lada yang sifatnya pedas dapat menghangatkan dan melancarkan peredaran darah.  Senyawa aktif pada lada hitam adalah piperin yang merupakan senyawa amida berupa Kristal berbentuk jarum, berwarna kuning, tidak berbau, tidak berasa lama-kelamaan pedas. Larut dalam etanol, asam cuka, benzene, dan klorofrom. Senyawa ini termasuk dalam alkaloid golongan piridin.   

 Alkaloid

Alkaloid merupakan metabolit skunder dari tanaman yang digunakan untuk mempertahankan diri dari serangan luar, yang terbentuknya berdasarkan teori terbentuknya campuran, berikut adalah fungsi dari alkaloid bagi tanaman:

a.       Racun untuk menolak gangguan serangga dan hewan herbivora

b.      Sebagai hasil akhir dari metabolisme atau metabolit sekunder dengan fungsi untuk detoksifikasi senyawa toksik

c.       Regulasi faktor pertumbuhan

d.      Sebagai cadangan unsur N (Nitrogen)

      Adanya unsur N pada alkaloid menunjukkan adanya hubungan dengan pembentukan asam amino menjadi protein oleh tanaman, biasanya dalam cincin heterosiklik. Alkaloid dibagi menjadi tiga bagian yaitu :

a.       Elemen yang mengandung unsur N yang terlibat pada pembentukan alkaloid.

b.      Elemen tanpa unsur N yang ditemukan dalam molekul alkaloid.

c.       Reaksi yang terjadi untuk pengikatan khas elemen-elemen pada alkaloid.

      Struktur dan klasifikasi alkaloid dalam botani dan biokimia mempunyai banyak variasi. Perbedaannya hanya terdapat pada efek farmakologi yang ditimbulkan. Oleh karenaya para ahli botani mempermudah pengelompokan alkaloid menjadi dua kelompok besar yaitu :

a.       Alkaloid nonheterosiklik atau atipikal alkaloid biasanya disebut portal alkaloid atau amino biologi.

b.      Heterosiklik atau tipikal alkaloid yang dibagi menjadi 14 kelompok pada struktur cincicn.

Berikut struktur kimia macam-macam alkaloid yang terdapat dalam tanaman:





Mengenal Flavonoid dari tanaman

             Jambu biji (Psidium guajava) pertama ditemukan di Amerika Tengah oleh Nikolai Ivanoviah Vavilov antara tahun 1887-1942. Jambu biji ini merupakan tanaman perdu bercabang banyak. Buahnya sangat bergizi karena mengandung asam askorbat ( 50-3000 mg/100g berat segar) tiga sampai enam kalilebih tinggi dari jeruk. Buah jambu biji juga mengandung zat kimia, seperti kuersetin, guajaverin, asam galat, leukosianidin, dan asam elagat. Kuersetin merupakan senyawa flavonoid dari kelompok flavonol.

 Flavonoid adalah senyawa yang terdiri dari




Flavonoid pada umumnya terdapat pada tumbuhan sebagai glikosida. Gugusan gula bersenyawa pada satu atau lebih gruphidroksil fenolik. Gugus hidroksil selalu terdapat pada karbon no.5 dan no.7 pada cincin A. pada cincin B gugus hidroksil atau alkoksil terdapat pada seluruh bagian tanaman, termasuk pada buah, tepung sari, dan akar.

Kegunaan bagi tumbuhan yaitu untuk menarik serangga yang membantu proses penyerbukan. Kedua yaitu untuk menarik perhatian binatang yang membantu penyerbukan biji. Bagi manusia, pada dosis kecil flavon bekerja pada stimulant jantung, hesperidin mempengaruhi pembuluh darah kapiler. Selain itu flavon terhidroksilasi bekerja sebagai diuretic dan antioksidan pada lemak.

Klasifikasi :

a.    Flavon

b.   Flavonol

c.    Flavonon

d.   Flavonolol

e.    Isoflavon

f.     Calkon

g.   Dihidrokalkon

h.   Auron

i.     Antosianidin

j.     Katekin

k.   Flavon 3-4-diol

Struktur flavonoid

Pada pengukuran dengan spektroskopik dapat ditetapkan struktur beberapa flavonoid. Interkonvensi di antara struktur dalam kelompok ini penting untuk penerangan struktur flavonoid.


Katekin





Flavan 3, 4 diol


Pengobatan Neisseria Gonorrhoeae

Bentuk yang paling berbahaya pada oftalmia neonatorum  adalah yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae. Penyakit ini terjadi pada hari ke 3-4 kehidupan, tetapi bisa juga muncul lambat sampai 3 minggu. Organisme ini biasanya mengkontaminasi bayi melalui kontak langsung lewat jalan lahir ibu yang terinfeksi.

Gejala klinis didapatkan konjungtiva hiperemia ringan sampai kemosis, sekret purulen berlimpah yang mungkin dengan cepat menyebabkan ulkus kornea sampai perforasi. Infeksi sistemik bisa menyebabkan sepsis, meningitis dan artritis.

Diagnosis didasarkan pada gambaran klinik, usia bayi dan pemeriksaan Gram dari sekret konjugtiva. Pewarnaan gram eksudat konjungtiva menunjukkan diplococcus intraselular gram negatif memungkinkan suatu diagnosis presumtif infeksi N.gonorrhoeae, dan terapi harus dimulai segera. Oftalmia neonatorum dari meisseria meningitidis pernah dilaporkan; dua organisme neisseria yang tidak dapat dibedakan menggunakan pewarnaan gram. Diagnosis definitif didasarkan pada kultur discharge konjungtiva. Spesimen harus dikultur pada media selektif (thayer-martin) ataupun non-selektif (agar coklat). Diinkubasi pada 37C.

Terapi : Pengobatan oftalmia neonatorum karena Neisseria gonorrhoeae : irigasi pada mata sangat berguna untuk menghilangkan sekret yang banyak minimal 2 kali sehari dengan larutan garam fisiologis. Antibiotik topikal dalam bentuk tetes misalnya penisilin 15.000-150.000 UI/ml tiap 15 menit 1 tetes pada 6 jam pertama, dilanjutkan 1 tetes tiap jam. Gentamisin salep mata dapat juga ditambahkan 4 kali/hari. Bagi yang alergi terhadap penisilin dapat diberikan obat lain misalnya ofloxasin tetes mata sesering mungkin. Injeksi penicilin dengan dosis 50.000-100.000 IU/kgBB atau menggunakan ceftriaxson.

ASUHAN KEPERAWATAN PENYALAHGUNAAN DAN KETERGANTUNGAN NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif Berbahaya Lainnya) Part 2

 PERILAKU PASIEN PENGGUNA GANJA

  • Perilaku sangat gembira.
  • Mondar-mandir tampak cemas.
  • Gerakan tidak terkoordinir.
  • Mengantuk.
  • Tampak lebih bodoh; karena terganggu proses kognitif.
  • Perilaku tampak kecemasan.


PERILAKU PASIEN PENGGUNA ALKOHOL

  • Sikap bermusuhan.
  • Kadang2 bersikap murung, berdiam diri (depresi).
  • Suara keras, bicara cadel, dan kacau.
  • Agresif.
  • Minum alkohol tanpa kenal waktu.
  • Koordinasi motorik terganggu,akibatnya cenderung mendapat kecelakaan.


PERILAKU PASIEN PENGGUNA OPIOIDA

  • Terkantuk-kantuk.
  • Bicara cadel.
  • Koordinasi motorik terganggu.
  • Acuh terhadap lingkungan,krg perhatian.
  • Perilaku manipulatif untuk mendapatkan zat adiktif.


PERILAKU PENGGUNA KOKAIN/AMFETAMIN/EKSTASI

  • Hiperaktif.
  • Euphoria,elasi sampai agitasi.
  • Irritabilitas.
  • Perilaku curiga.
  • Kewaspadaan yg berlebihan.
  • Semangat kerja meningkat.
  • Perilaku tampak gembira.


PERILAKU PENGGUNA HALUSINOGEN

  • Tingkah laku yg tak dapat diramalkan.
  • Tingkah laku merusak diri sendiri.
  • Halusinasi,ilusi.
  • Distorsi waktu dan jarak.
  • Sikap merasa diri besar.
  • Depersonalisasi.
  • Pengalaman yg gaib/ajaib.


MEKANISME KOPING

Penyalahgunaan zat adiktif adalah suatu representasi dari mekanisme pertahanan diri yg tidak sukses dan tingkah laku adaptif yg tdk adekuat atau tidak berkembang. Mekanisme yg biasa digunakan pd penyalahgunaan zat adiktif adalah :

  1. Denial dari masalah.
  2. Proyeksi merupakan tingkah laku untuk melepaskan diri dari tanggung jawab.
  3. Rasionalisasi.

DIAGNOSIS KEPERAWATAN

  • Masalah keperawatan sehubungan dg gangguan penggunaan zat adiktif terutama masalah : gangguan proses pikir, 
  • Gangguanpersepsi sensori (visual, pendengaran, rasa, raba, penciuman),
  • Gangguan konsep diri (HDR).


Menurut NANDA diagnosis keperawatan adalah sebagai berikut :

  1. Gangguan persepsi sensori pada penggunaan halusinogen 
  2. Gangguan hubungan sosial manipulatif 
  3. Gangguan konsep diri:HDR
  4. Tidak mampu mengenal kualitas yg positif dari diri sendiri.
  5. Gangguan pemusatan perhatian 
  6. Partisipasi keluarga yg kurang dalam program pengobatan pasien 
  7. Menolak mengikuti aktifitas program 


PERENCANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

Tujuan yg ingin dicapai dalam memberikan tindakan keperawatan pd pasien dg gangguan penggunaan zat adiktif adalah Agar tidak terjadi ancaman terhadap kehidupan. Tidak memburuknya keadaan kesadaran pasien Aman dari kecelakaan terutama pd kondisi intoksikasi.


Setelah masa detoksifikasi :

  • Termotivasi untuk mengikuti program terapi jangka panjang.
  • Mengenal hal2 positif pada dirinya.
  • Menggunakan koping yg sehat dalam mengatasi masalahnya.
  • Keluarga bekerjasama dalam program terapi pasien.
  • Mempunyai pengetahuan untuk merawat pasien dirumah. 


TINDAKAN KEPERAWATAN

  1. Pendidikan kesehatan jiwa untuk pencegahan penggunaan zat adiktif.
  2. Mengganti koping respon yg sehat, pengganti tingkah laku menyalahgunaan zat.
  3. Membahas dg pasien tingkah laku menyalahgunakan zat dan resiko penggunaan.
  4. Membantu pasien untuk mengidentifikasi masalah menyalahgunakan zat.
  5. Memotivasi pasien agar mau mengikuti /berpartisipasi dalam program terapi.
  6. Konsisten memberikan dukungan dan pengalaman bahwa pasien mempunyai kekuatan untuk menghadapi masalah yg akan datang.
  7. Memberikan perawatan fisik;observasi tanda vital,makanan,keseimbangan cairan dan kejang.
  8. Memberikan pengobatan ssi dg terapi detoks.