The Pharmacist Room

CHRONIC OBSTRUCTIVE PULMONARY DISEASE dan PNEUMONIA

COPD (Chronic Obstructive Pulmonary Disease)
1.1 Definisi
COPD (Chronic Obstructive Pulmonary Disease) adalah penyakit yang ditandai adanya hambatan aliran udara yang dapat irreversible (Reilly et al, 2008). Hambatan aliran udara tersebut bersifat progresif dan disertai dengan respon inflamasi abnormal dari paru terhadap partikel atau udara yang masuk ke pernafasan (Bourdet and Williams, 2008). COPD meliputi emfisema dan bronkitis kronik. Emfisema adalah kondisi yang ditandai dengan kerusakan dan membesarnya alveoli paru, sedangkan bronkitis kronik adalah kondisi yang ditandai dengan batuk menahun, berdahak, dan adanya pengecilan bronkialis (Reilly et al, 2008).

1.2 Etiologi
Faktor utama dari perkembangan PPOK adalah merokok. PPOK dapat dihubungkan dengan kombinasi faktor resiko yang lain. Faktor resiko yang dihubungkan dengan PPOK dapat digolongkan menjadi faktor host dan faktor lingkungan. Faktor host yaitu kecenderungan genetik yaitu kekurangan α1 Antitripsin dan faktor lingkungan seperti asap rokok, paparan debu dan paparan bahan kimia (Williams and Bourdet, 2008).

1.3  Klasifikasi COPD (Bourdet, S.V., et al. 2008).
STAGE I MILD                                             STAGE III SEVERE
-          FEV1/FVC < 70%                                          -  FEV1/FVC < 70%
-          FEV1 ≥ 80%                                                   -  30% < FEV1 < 50%
-          Dengan atau tanpa symptom                          - Dengan atau tanpa symptom

STAGE II MODERATE                                STAGE IV VERY SEVERE
-          FEV1/FVC < 70%                                          -  FEV1/FVC < 70%
-          50% < FEV1 < 80%                                       -  FEV1 < 30% atau < 50%
-          Dengan atau tanpa symptom                          - Terdapat gagal nafas kronis


1.4 Patofisiologi
            Pada keadaan sistem saluran pernafasan yang normal terjadi pergantian O2 dan CO2. O2 dibawa ke darah dan CO2 dipindahkan dari darah. Ketika nilai PaCO2 meningkat, ventilasi distimulasi, menghasilkan peningkatan perpindahan CO2. Terjadinya obstructive pulmonary disease menyebabkan pergantian udara terganggu dan pada saluran pernafasan akan terjadi kontraksi otot halus, inflamasi, edema dan peribronkolar fibrosis. Ketidaknormalan saluran pernafasan menyebabkan perubahan pH arteri dan PaCO2 pada pasien COPD, terjadinya hipoksia berperan besar pada keadaan ini. Terjadinya inflamasi dalam saluran pernafasan perifer dan parenkim paru merupakan proses yang dominan terjadi pada COPD (Goldsmith and Weber, 2000).
            Keadaan eksaserbasi ditandai dengan memburuknya kondisi pasien dibandingan kondisi stabilnya, onsetnya akut dan membutuhkan obat-obatan di luar yang biasanya diberikan. Mediator inflamasi termasuk neutrofil dan eusinofil meningkat pada sputum. Perubahan fisiologis primer yang sering adalah memburuknya arterial gas result yang memperlihatkan buruknya pertukaran gas. Pada pasien eksaserbasi kronis, gejala hipoksemia dan hiperkapnea disertai asidosis respiratori dan gagal napas dapat muncul (Bourdet, S.V., et al. 2008).

1.5  Komplikasi
-          Gangguan Keseimbangan Asam-Basa
Respiratori asidosis sering terjadi pada pasien PPOK. Hipoventilasi pada pasien PPOK merupakan salah satu penyebab terjadinya respiratori asidosis. Pada pasien PPOK sering terjadi peningkatan tekanan karbondioksida di arteri (Paco2) yang kemudian dikompensasikan dengan terjadinya metabolik alkalosis (Schwinghammer, T.L., 2009).
-          Retensi cairan
Retensi cairan sering terjadi pada pasien PPOK khususnya retensi Na oleh ginjal. Mekanisme retensi Na yang terjadi pada pasien PPOK yaitu terjadinya penurunan dari perfusi renal sebagai akibat adanya abnormalitas pertukaran udara yang terjadi pada pasien PPOK khususnya hipoksemia dan hipercapnia.
-          Polisitemia
Polisitemia adalah peningkatan jumlah produksi sel darah merah yang berlebihan. Hipoksia kronik yang terjadi pada pasien PPOK merangsang ginjal untuk memproduksi eritropoietin, yang akan merangsang pembentukan sel darah merah, sehingga terjadi polisitemia sekunder (Wilson, 1992).
-          Hipertensi Pulmonale
Hipertensi pulmonale adalah peningkatan tekanan arteri pulmonal yang disebabkan oleh karena penyakit parenkim paru atau meningkatnya tekanan pengisian jantung bagian ventrikel kiri, ataupun dapat keduanya. Hipertensi pulmonal merupakan komplikasi mayor pada PPOK dan berhubungan dengan terjadinya Cor Pulmonale.
-          Cor pulmonale
Cor Pulmonale merupakan suatau keadaan dimana timbul hipertrofi dan dilatasi ventrikel kanan tanpa atau dengan gagal jantung kanan; timbul akibat dari penyakit yang menyerang struktur atau fungsi paru-paru atau pembuluh darahnya. Sebelum timbul kor pulmonale biasanya terjadi peningkatan resistensi vaskular paru dan hipertensi pulmonal. Hipertensi pulmonal yang sering terjadi pada pasien PPOK pada akhirnya meningkatkan beban kerja dari ventrikel kanan, sehingga mengakibatkan hipertrofi dan kemudian gagal jantung (Wilson, 1992).

1.6  Penatalaksanaan Terapi
Terapi obat yang diterima pasien PPOK ditujukan untuk mengurangi keluhan, frekuensi kejadian serta komplikasinya. Terapi ini didasarkan pada gejala yang terjadi, faktor resiko, biaya, dan keuntungan terapi. Sedangkan untuk pasien ekserbasi akut antara lain berkurangnya resistensi saluran udara, mengobati infeksinya, memperbaiki saturasi oksigen, dan memperkuat fungsi otot saluran pernafasan.
Penatalaksanaan PPOK  eksaserbasi akut antara lain (PDT, 2005):
·         Oksigen terkontrol
·         Bronkodilator, yaitu  β2-agonis, antikolinergik dan jika terapi inhalasi belum adekuat ditambah derivat  xantin yaitu teofilin
·         Antibiotik
·         Kortikosteroid
·         Cairan dan elektrolit

1.7  Gejala Klinis
Gejala klinis PPOK adalah pasien tidak dapat bernafas, berbicara atau batuk dan marasa seperti dicekik. Agitasi, panik dan nafas tersengal-sengal dan diikuti sianosis. Selanjutnya akan terjadi gagal nafas yang dapat berkembang menjadi obstruksi komplet. Letargi, gagal nafas dan hilangnya kesadaran merupakan tanda akhirnya (Riyanto, 2006).

PNEUMONIA
Definisi
Pneumonia merupakan infeksi pada parenkim paru yang disebabkan oleh beberapa bakteri yang berbeda, virus, parasit, dan fungi sehingga terjadi peradangan pada parenkim paru ( alveolitis ) dan terakumulasinya eksudat penyebab radang pada jalan nafas  ( McPhee, 2006 ).

Etiologi
Penyebab pneumonia antara lain (Glover and Reed, 2005) :
1.      Bakteri penyebab pneumonia pada orang dewasa terutama Streptococcus pneumoniae, bakteri patogen lainnya antara lain bakteri anaerob, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenza, Chlamydia pneumoniae, C. Psittaci, C. Trachomatis, Moraxella (Branhamella) catarrhalis, Legionella pneumophila, Klebsiella pneumoniae dan bakteri gram negatif lainnya. Mycoplasma pneumoniae organisme mirip bakteri menyerang anak dan dewasa muda.
2.      Patogen pulmonar lainnya adalah virus yaitu virus syncytial respiratory, virus influensa A dan B dan virus varicella zoster.
3.      Nocardia dan Actinomycetes sp; mycobacteria, including Mycobacteria tuberculosis dan strains atypical (terutama M. Kansasii dan .avivum-intracellular).
4.      Fungi antara lain Histoplasma capsulatum, Coccidioides immitis, Blastomyces dermatitis, Cryptococcus neoformans, Aspergillus fuigatus dan Pneumocystis carinii dan rickettsiae terutama Coxiella burnetii (Q fever)
Faktor predisposisisi yang menyebabkan pneumonia antara lain infeksi virus pernafasan atas, alkoholisme, perokok, gagal jantung, penyumbatan saluran nafas kronik, umur, debilitas, pasien immunocompromised seperti diabetes melitus dan gagal ginjal kronik (Glover and Reed, 2005).

Patogenesis
Mikroorganisme masuk alveoli melalui inhalasi dan aspirasi melalui orofaring kemudian masuk pada saluran nafas bawah dan menghambat mukosilier, makrofag alveolar, limfosit bronkial dan neutrofil, Ig G dan Ig A. Penyebaran infeksi terjadi melalui droplet. Organisme bermutiplikasi dalam paru dan jika telah berhasil mengalahkan mekanisme pertahanan paru terjadi pneumonia, kebiasaan merokok juga melemahkan pertahanan lokal karena menekan fungsi silier (Glover and Reed, 2005).

Klasifikasi Pneumonia (PDT Penyakit Paru RSUD Sutomo, 2005)
  1. Berdasarkan klinis dan epidemiologis
a.       Pneumonia komuniti (Community-acquired pneumonia)
b.      Pneumonia nosokomial
c.       Pneumonia aspirasi
d.      Pneumonia pada pasien imunokompromis
  1. Berdasarkan kuman penyebab
a.       Pneumonia tipikal
b.      Pneumonia atipikal
c.       Pneumonia virus
d.      Pneumonia jamur
  1. Berdasarkan prodileksi infeksi
a.       Pneumonia lobaris
b.      Bronkopneumonia
c.       Pneumonia interstisial
Perbedaan gambaran klinis pneumonia atipikal dengan tipikal (PDT, 2005)
Tanda dan gejala
Pneumonia atipikal
Pneumonia tipikal
Onset
Gradual
akut
Suhu
Kurang tinggi
Tinggi, menggigil
Batuk
Nonproduktif
produktif
Dahak
Mukoid
Purulen
Gejala lain
Nyeri kepala, mialgia, sakit tenggorokan
Jarang
Penatalaksanaan Terapi
Prioritas pertama pada pasien dengan pneumonia adalah mengevaluasi fungsi pernapasan dan memeriksa adanya tanda-tanda penyakit sistemik misalnya dehidrasi, sepsis yang mengganggu sirkulasi. Dibutuhkan oksigen atau alat pernapasan mekanis, dan resusitasi cairan terutama dalam keadaan yang lebih berat. Perawatan suportif pada pasien pneumonia termasuk oksigen bila terjadi hipoksia, bronkodilator ketika terjadi bronkospasme, serta pengeluaran cairan bila ada. Terapi pelengkap antara lain cairan, nutrisi, serta pengontrolan demam. Dehidrasi dapat terjadi karena demam, intake makanan kurang, adanya mual muntah. Pemilihan antibiotik memperhatikan perkiraan atau pun hasil tes mikrobiologi, distribusi pada saluran napas, efek samping, serta biaya ( Glover, 2005 )

  

Tabel Terapi Antimikroba Secara Empiris Untuk Pneumonia Pada Dewasa  

Tabel Dosis Antibiotik pada Pnemonia





DAFTAR PUSTAKA



Abramowicz, M., 2005. Handbook of Antimicrobial Therapy, 17th Edition, New York: Treatment Guidelines with updates from  The Medical Letter.

Anonim, 2007. MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, edisi 7 2007/2008, Jakarta: PT InfoMaster, lisensi CMPMedica.

Balkissoon, R., 2003. Current Diagnosis & Treatment in Pulmonary Medicine, USA: McGraw-Hill Companies, Inc.

Bourdet, S.V. and Williams, D.M., 2008. Chronic Obstructive Pulmonary Disease. In: DiPiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., and Posey, L.M. (Eds.), Pharmacotherapy A Pathophysiological Approach, 7th Ed. New York: McGraw-Hill Comp. Inc.

Glover, M. L.; Reed, M. D., 2005. Lower Respiratory Tract Infections-Pneumonia. In Pharmacotherapy A Pathophysiology Approach, 6th Edition, USA : McGraw Hill Companues Inc.

Goldsmith, T.L., Weber, J.J., 2000. Chronic Obstructive Pulmonary Disease. In: Herfindal, E.T. and Gourley, D.R. (Eds.), Textbook of Therapeutics Drug and Disease Management, 7th Edition, Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins.

Lacy, C.F., Armstrong, L., Goldman, M., Lance, L., 2006. Drug Information Handbook, 14th Edition, USA: Lexi-Comp’s.

Mansjoer, A., Suprohaita, Wardhani, W.I., dan Setiowulan, W., 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi Ketiga, Jilid 2, Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

McEvoy, G.K., 2008. AHFS Drug Information, USA: American Soc Health System.

Mehta, D.K. (Ed.), 2007. British National Formulary, Edisi 54, London: BMJ Publishing Group Ltd.

Mandell, Lionel A., et al., 2007. Clinical Infectious Diseases : IDSA/ATS Guidelines for CAP in Adults. CID 2007:44 : USA

Pagana, K.D., Pagana, T.J., 2002. Mosby’s Manual of Diagnostic and Laboratory Test, 2nd edition, USA: Mosby, Inc.

Riyanto, B.S. and Hisyam B., 2006. Obstruksi Saluran Pernapasan Akut. In: Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M., dan Setiati, S., Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I, Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Reilly, J.J., Silverman, E.K., Shapiro, S.D., 2008. Chronic Obstructive Pulmonary Disease. In: Harrison’s Principles of Internal Medicine, Edisi Internasional ke-17, USA: McGraw-Hill Medical Publishing Division.

RSUD Dr. Soetomo., 2005. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Penyakit Paru, edisi III. Surabaya

Schwinghammer, T.L., 2009. Chronic Obstructive Lung Disease. In: B.G., Wells, et al (Eds.), Pharmacotherapy Handbook, Edisi ke 7, USA: Mc-Graw Hill Medical Publishing Division.

Stockley’s, S.H., 2008, Drug Interaction, 8th ed., Nottingham : Pharmaceutical Press.

Simon, H.B., 2004. Pulmonary Infections. In: Dale, D.C. (Ed.), Infectious Diseases : The Clinician’s Guides to Diagnosis, Treatment and Prevention, New York: WebMD Professional Publishing.

Tatro, D.S., 2001. Drug Interaction Facts, St. Louis : Facts and Comparisons.

Wilson, L.M., 1992. Pathophysiology : Clinical Concepts of Disease Processes, Edisi keempat, USA: Mosby Year Book, Inc.



INSTALASI LOGISTIK DISTRIBUSI GUDANG FARMASI


Sub Instalasi Logistik Farmasi adalah Sub Instalasi yang berada di bawah Instalasi Farmasi Rumah Sakit yang bertugas untuk perencanaan dan pengadaan, penerimaan, penyimpanan dan pendistribusian barang farmasi ke seluruh unit pelayanan yang membutuhkan.
Sub Instalasi Logistik Farmasi mempunyai tugas melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan barang farmasi, yaitu:     
  1. Perencanaan dan pengadaan
  2.  Penerimaan dan Pemeriksaan Barang
  3. Penyimpanan Barang
  4. Penyaluran Barang
  5. Pelaporan Penggunaan Barang Farmasi
  6. Penghapusan Barang
  7. Dalam kegiatan pengelolaan barang farmasi di IFRS diperlukan panitia tersendiri yang ditunjuk untuk melakukan kegiatan tersebut, yang terdiri dari :
  8. Panitia Pengadaan Barang
  9. Panitia PenerimaanB dan Pemeriksaan Barang
  10. Panitia Penghapusan Barang


Perencanaan, Pengadaan, Penerimaan, Pemeriksaan, Penyimpanan, Penyaluran , Pelaporan Penggunaan dan Penghapusan Barang Farmasi
a.    Perencanaan dan Pengadaan
Anggaran yang didapatkan untuk perencanaan dan pengadaan barang farmasi di logistik berasal dari dana APBN untuk barang farmasi non rutin dan APBD untuk obat-obatan habis pakai yang kemudian semua perencanaan dilakukan oleh apoteker  yang bertanggung jawab kepada Pemerintah dan Direktur Rumah Sakit, dengan menggunakan surat pemesanan. Proses perencanaan dilakukan dengan tujuan agar anggaran yang diterima dapat digunakan secara efektif dan efisien. Barang yang akan diterima di logistik meliputi:
1.      Bahan Dasar : bahan dasar merupakan bahan utama yang harus ada di rumah sakit. Barang digunakan untuk orang banyak, tidak perlu peresepan dan biasanya berkaitan langsung dengan tindakan dokter dan perawat.
2.      Barang Farmasi Rutin : barang yang rutin digunakan dan habis sekali pakai; misalnya : alkes (sarung tangan, masker), obat TB, obat untuk karyawan honorer.
3.      Barang Farmasi Non-Rutin : barang yang tidak digunakan untuk sekali pakai dan biasanya pengadaannya dilakukan secara berkala; misalnya : alat kedokteran (ECG, stetoskop, tensimeter) alat perawatan ( sarung tangan, masker, injeksi), gunting, dan lain-lain sebagai inventaris Rumah Sakit.
Pada pelaksanaan anggaran APBD dikeluarkan setiap 1 (satu) tahun sekali, dan direalisasikan setiap 3 (tiga) bulan untuk pembelian barang medis baik yang rutin maupun yang non rutin. Tiap melakukan perencanaan selalu dibentuk panitia perencanaan. Kepala Instalasi Farmasi setiap bulannya memberikan laporan penggunaan barang dan mengajukan usulan permintaan barang. Barang yang diusulkan berdasarkan skala prioritas, yang dirumuskan dengan perhitungan sebagai berikut :
            Jumlah permintaan barang : ( A x 3 ) + B + C – D
            Keterangan :
A        :  Keperluan barang untuk 1 bulan
B        : 1 x A, yaitu untuk 1 bulan masa tunggu, digunakan sebagai cadangan jika barang belum datang
C        : Buffer stock, jika terdapat Kejadian Luar Biasa (KLB), atau permintaan yang meningkat/ keprluan untuk 1 bulan, nilainya sebesar 1 x A
D         : Sisa stok bulan sebelumnya.
Panitia ini selanjutnya membuat laporan perencanaan, tujuannya untuk mengefisinsi anggaran dan menjamin ketepatan penggunaan. Panitia ini juga melakukan penawaran kepada Pihak kedua, dan memilih pihak kedua untuk dapat melaksanakan pengadaan barang. Surat Perintah Kerja (SPK) dibuat oleh pimpinan proyek yang juga bertindak sebagai kuasa pengguna anggaran RSU bertindak atas nama Gubernur Provinsi (pihak pertama), memerintahkan pihak kedua, dalam hal ini adalah pemenang tender/ pabrik yang ditunjuk. Pihak pertama memberikan perintah kepada pihak kedua untuk :
1.     Melaksanakan pengadaan dan pengiriman barang medik sejumlah anggaran yang telah ditetapkan, yang harus diselesaikan
2.     Pihak kedua mengerjakan pengadaan barang dan pengiriman barang medik sesuai nama, jumlah, dan harga yang dilampirkan.
Penentuan pihak ke 2 atau pemegang tender dilakukan melalui beberapa proses yaitu :
1. Lelang
2. Pemilihan
3. Penunjukan langsung

b.   Penerimaan dan Pemeriksaan Barang
1.      Penerimaan di logistik merupakan bagian yang menerima barang farmasi yang dikirim oleh rekanan Rumah Sakit sesuai dengan spesifikasi pada Surat Pesanan (SP) / Surat Perintah Kerja (SPK), yang meliputi:
a.       Jenis/nama, merk, jumlah dan kualitas barang farmasi.
b.      Tanggal kadaluwarsa/ ED minimal 2 tahun kecuali reagen minimal 6 bulan.
2.      Setelah memenuhi syarat, barang farmasi diterima (ditandatangani) oleh ketua Sub Instalasi Logistik Distribusi Gudang Farmasi yang selanjutnya dilakukan penyimpanan sesuai dengan aturan farmasi yang berlaku.
3.      Melakukan pencatatan pada Buku Bukti Barang Masuk (BBBM).
4.      Melakukan pencatatan pada kartu stok barang dan kartu stok meja. Kartu stok meja digunakan untuk mengkonfirmasi penggunaan obat dan alat kesehatan yang diteriama dan dikeluarkan oleh logistic.
Barang yang telah diterima kemudian diperiksa oleh Panitia Pemeriksaan Barang, tujuannnya untuk mengetahui apakah barang yang diterima telah sesuai dengan yang ada pada SPK dan dibuat berita acara pemeriksaan barang. Setelah diperiksa barang yang diterima dibuat berita acara penerimaan barang. Penanggung jawab penerimaan barang medis RSU, yang merupakan seorang Apoteker selanjutnya membuat laporan penerimaan barang, tujuannya :
1.      Sebagai evaluasi
2.      Untuk mengetahui alokasi anggaran yang dipakai
3.      Untuk menentukan perencanaan berikutnya
Setelah pekerjaan pengadaan diselesaikan dilakukan pembeyaran kepada pihak kedua. Selanjutnya barang tersebut diserahkan ke petugas logistik farmasi untuk disimpan
c.    Penyimpanan Barang
Tujuan : menyimpan barang sesuai dengan aturan kebijakan untuk menjamin mutu dan keamanan barang dan proses pendistribusian barang menjadi mudah dan cepat.
a.      Barang yang telah diperiksa dan diterima berada di bawah tanggung jawab bagian logistik
b.     Pelaksana logistik menyimpan dan memuat barang/ jenis barang berupa obat jadi, cairan, alat kesehatan habis pakai, gas medik, disinfektan, reagensia, bahan gigi, bahan baku, dan bahan kimia). Barang tersebut dipisahkan tempat/ ruang untuk sediaan padat, semi padat, cair, bahan yang thermolabil, mudah menguap dan mudah terbakar.
c.      Penyimpanan barang-barang farmasi diatur berdasarkan bentuk sediaan dan kelas terapinya.
d.     Penerimaan atau pengeluaran barang oleh pelaksana logistik berdasarkan pada system First In First Out (FIFO) dan First Expired First Out (FEFO). Sedangkan untuk barang slow moving dibagian depan, dan fast moving dibagian belakang.
e.      Pelaksana mencatat pemasukan barang ke dalam Kartu Stok Barang dan Kartu Stok Meja
f.      Kemudian pelaksana membukukan barang kedalam Buku Bukti Barang Masuk (BBBM)
g.     Petugas administrasi logoistik mengarsipkan berkas berita acara penerimaan barang, SPK, dan Bukti pengiriman barang

d.   Penyaluran Barang
Penyaluran barang dari gudang obat ke Depo Farmasi dikeluarkan berdasarkan SP. Barang dikeluarkan berdasarkan sistem FIFO dan FEFO. Sistem FIFO yaitu barang yang datang lebih dahulu dikeluarkan terlebih dahulu sedangkan sistem FEFO barang yang hampir ED dikeluarkan terlebih dahulu. Bahan dasar dari logistik tidak didistribusikan ke semua depo, melainkan hanya ke beberapa depo antara lain : RI/RJ, OK Sentral, OK IRD, OK Paviliun dan IRNA 1. Pendistribusian bahan dasar ke Sub Depo berdasarkan Surat Permintaan (SP) dari Sub Depo yang melayani bahan dasar. Permintaan barang ke logistik untuk kebutuhan 1 minggu.


Standar Operasional Penyaluran Barang Farmasi
1)      Perbekalan Farmasi Rutin :
Berikut ini Standar Operasional Penyaluran Barang Farmasi Rutin :
a)      Kepala instalasi mengajukan permintaan melalui Surat Permintaan Pengeluaran (SPP) yang diisi lengkap dan ditandatangani.
b)      SP diajukan ke Logistik Farmasi untuk disetujui dan ditandatangani oleh kepala sub unit instalasi logistik farmasi.
c)      Penanggung jawab logistik memeriksa dan menandatangani SP.
d)     Pelaksana logistik dan petugas gudang menyiapkan barang farmasi sesuai dengan SP.
e)      Pelaksana logistik menyerahkan dan menandatangani SP.
f)       Petugas instalasi menerima barang
g)      Barang yang sudah dikeluarkan dicatat pada Buku Bukti Barang Keluar (BBBK).
h)      Tiap kali mengeluarkan barang, dicatat pada kartu barang dan kartu meja.
2)      Perbekalan Farmasi Non Rutin
a)      Masing kepala instalasi mengajukan permintaan barang farmasi non rutin melalui SP yang diisi lengkap dan ditandatangani.
b)      SP diajukan ke seksi Perawatan/Pelayanan Medik/Penunjang Medik yang diketahui dan disetujui/ditandatangani, kemudian diberi kode nomor inventaris.
c)      SP diajukan ke Logistik Farmasi untuk disetujui dan ditandatangani oleh kepala sub unit instalasi logistik farmasi.
d)     Petugas logistik memeriksa dan menadatangai SP.
e)      Petugas instalasi menerima barang
f)       Barang yang sudah dikeluarkan dicatat pada Buku Bukti Barang Keluar (BBBK).
g)      Tiap kali mengeluarkan barang dicatat pada kartu barang dan kartu meja.

Tujuan penyaluran barang ke Depo Farmasi adalah :
1.         Untuk mendekatkan dan mempercepat pelayanan obat dan alat kesehatan pasien dan keluarga pasien
2.         Mencukupi barang yang tidak tersedia di logistik
3.         Sebagai modal

a.    Pelaporan Penggunaan Barang Farmasi
Penggunaan barang farmasi  yang keluar maupun masuk harus dilaporkan secara rutin. Agar penggunaan barang farmasi bisa dipantau dan terkontrol dengan baik. Oleh karena itu logistik membuat laporan rutin, meliputi:
§  Jenis dan jumlah barang farmasi yang direncanakan dan diadakan.
§  Jenis dan jumlah barang farmasi yang diterima yang baik tidak sesuai dengan spesifikasi.
§  Jenis dan jumlah barang farmasi yang tersedia dan yang digunakan.
§  Jenis dan jumlah barang farmasi yang rusak, kadaluarsa dan hilang.
§  Jenis dan barang farmasi yang diminta depo farmasi atau Instalasi, yang disediakan oleh logistik.

b.   Penghapusan Barang
Penghapusan barang ditujukan untuk barang yang rusak atau kadaluarsa, untuk kemudian dibuat berita acara penghapusan oleh panitia penghapusan barang. Sebelumnya barang yang akan dimusnahkan didata terlebih dahulu, dicatat jumlah dan nilai rupiah, kemudian dilaporkan kepada direktur dan selanjutnya diusulkan kepada Gubernur selaku pihak pertama untuk mendapatkan persetujuan dan kemudian diadakan pengecekan ulang oleh panitia penghapusan barang dan barang siap untuk dimusnahkan. Seluruh barang medik yang akan dimusnahkan akan dibawa ke bagian IPL untuk dimusnahkan menggunakan incinerator.

Ward Floor Stock Service dalam Rumah Sakit


Sistem  distribusi obat yang diterapkan pada setiap rumah sakit berbeda-beda tergantung kondisi dan kebijakan rumah sakit. Pendistribusian obat adalah proses penyerahan obat sejak disiapkan oleh IFRS (Instalasi Farmasi Rumah Sakit) sampai dengan diantarkan ke dokter, perawat atau profesioal pelayanan kesehatan untuk diberikan kepada penderita. Salah satunya adalah Ward Floor Stock (WFS) Service.
Dalam  sistem  distribusi obat lengkap di ruangan, semua obat  yang dibutuhkan penderita tersedia dan ruang penyimpanan obat di ruang tersebut, kecuali obat yang jarang digunakan atau obat yang sangat mahal. Biasanya setiap 1 minggu sekali, IFRS memeriksa persediaan obat di ruangan :

§  Keuntungan :
a.  Obat yang diperlukan penderita segera tersedia
b.  Mengurangi pengembalian obat
c.  Pengurangan penyalinan kembali resep obat
d.  Mengurangi jumlah personel IFRS.

§  Kelemahan :
a.  Kesalahan obat meningkat, karena obat tidak dikaji oleh apoteker
b.  Persediaan obat di unit perawat meningkat
c.  Pencurian obat meningkat
d.  Meningkatnya kerusakan obat
e.  Menambah modal investasi
f.  Meningkatkan kerugian karena kerusakan obat.







Gambar 1. Skema distribusi obat lengkap di ruangan
sampai kepada pasien


Beberapa hal yang dapat disimpulkan mengenai sistem distribusi obat lengkap di ruangan adalah :

§  Pengawasan obat oleh farmasis menjadi sangat berkurang terutama dalam hal penyimpanan obat yang baik, pemberian obat yang benar ke pasien dan sangat memungkinkan untuk terjadinya kerusakan bahkan pencurian obat.
  • Pada sistem ini pekerjaan dan tanggung jawab perawat menjadi lebih besar dalam menangani obat-obatan.
                                                                                                                            
 Beberapa contoh obat yang menjadi emergency stock pada sistem WFS :





 


DAFTAR PUSTAKA

Gadri, A., Pichon, R., Zelger, G.L., 2008, A qualitative systemic analysis of drug dispensing in Swiss hospital wards. Pharm World Sci, 30, p.343 – 352.
Armitstead., J., 2008, Floor Stock Medication Guidelines, university of kentucky hospital chandler medical centre., Department of Pharmacy Policy.