The Pharmacist Room

Langkah-langkah perhitungan kebutuhan konsumsi obat


Tahap-tahap metode konsumsi :
1.      Pastikan beberapa kondisi berikut :
a.       Dapatkah diasumsikan pola pengobatan periode yang lalu, baik/rasional?
b.      Apakah suplai obat periode itu cukup dan lancer?
c.       Apakah data stock, distribusi dan penggunaan obat lengkap dan akurat?
d.      Apakah banyak terjadi kecelakaan (obat rusak, tumpah, kadaluarsa) dan kehilangan obat?
e.       Apakah jenis obat yang digunakan sama?

2.      Lakukan estimasi jumlah kunjungan total untuk periode yang akan datang
a.       Hitung kumjungan pasien rawat inap maupun rawat jalan pada periode yang lalu
b.      Lakukan estimasi periode yang akan datang dengan memperhatikan
·         Perubahan populasi daerah cakupan pelayanan, perubahan calup pelayanan
·         Pola morbiditas, kecenderungan perubahan insidensi
·         Penambahan fasilitas perencanaan
3.      Perhitungan
a.       Tentukan metode konsumsi
b.      Hitung pemakaian tiap jenis obat pada periode yang lalu
c.       Koreksi hasil pemakaian tiap jenis obat dalam periode lalu terhadap kecelakaan dan kehilangan obat
d.      Koreksi langkah sebelumnya (koreksi hail pemakaian tiap jenis obat dalam periode lalu terhadap kecelakaan dan kehilangan oabt) terhadap stock out
e.       Lakukan penyesuaian terhadap kesepakatan langkah 1 dan 2
f.       Hitung periode yang akan datang untuk tiap jenis obat


Langkah-langkah perhitungan kebutuhan konsumsi:
1.      Pemakaian rata-rata per bulan tahun 2009
Contoh : metformin tablet 500 mg sebanyak 10.000 tablet/bulan
2.      Pemakaian selama 1 tahun
Conyoh ; metformin tablet 500 mg sebanyak 120.000 tablet/bulan
3.      Stok pengaman
SS = L x CA
SS = jumlah yang dibutuhkan untuk safety stock
L = lead time
CA = konsumsi rata-rata perbulan disesuaikan denagn stock obat
Metformin tablet 500 mg dengan L = 1 bulan, maka :
SS = 1 x 10.000 = 10.000 tablet/bulan
4.      Lead time
Lead time dari metformin tablet 500 mg = 1 bulan
5.      Jumlah kebutuhan obat
Jumlah kebutuhan obat = SS + buffer stock + penggunaan tahun 2009
                                      = 10.000 + 10.000 + 120.000
                                      = 140.000
6.      Sisa stock
Sisa stock metformin tablet 500 mg adalah 5000 tablet
7.      Rencana pengadaan tahun 2010
8.      Rencana pengadaan tahun 2010 = jumlah kebutuhan obat – sisa stock
    = 120.000 – 5000
    = 115.000 atau 1150 dos
Tahap-tahap metode konsumsi :
1.      Menentukan beban penyakit
a.       Tentukan beban penyakit periode yang lalu, perkirakan penyakit yang akan dihadapi pada periode yang akan datang
b.      Lakukan startifikasi/pengelompokan masing-masing jenis, misalnya anak atau dewasa, penyakit ringan, sedang atau berat, utama atau alternative
c.       Tentukan prediksi jumlah kasus tiap penyakit dan perentase (prevalensi) tiap penyakit
2.      Menentukan pedoman pengobatan
a.       Tentukan pengobatan tiap-tiap penyakit, meliputi nama obat, bentuk sediaan, dosis, frekuensi, dan durasi pengobatan
b.      Hitung kebutuhan tiap obat per episode sakit untuk masing-masing kelompok penyakit
3.      Menentukan obat dan jumlahnya
a.       Hitung jumlah kebutuhan tiap obat tiap penyakit
b.      Jumlahkan obat sejenis menurut nama obat, dosis, bentuk sediaan, dan lain-lain

Langkah-langkah perhitungan kebutuhan konsumsi:
  1. Kasus penyakit  à diabetes mellitus
  2. Jumlah setiap kasus periode sebelumnya à1000 kunjungan rawat jalan dan 200 kunjungan rawat inapStandar diagnosa dan terapi
    • Jenis obat yang digunakan
    • Dosis obat yang digunakan
    • Lamanya pengobatan
Data jumlah kasus dan standar pengobatan:
No
Kasus
Jenis obat
Dosis
Frekuensi
durasi
1
Diabetes tipe 1
Humulin
70/30
1x1
1 hari
2
Diabetes tipe 2
Metformin
500 mg
3x1
1 bulan
Glibenklamid
5 mg
3 x1
1 bulan
Hitung jumlah kebutuhan tiap obat per episode sakit untuk masing-masing kelompok penyakit
Hitung jumlah kebutuhan obat untuk tiap penyakit
Jumlahkah obat sejenis menurut nama obat, dosis, bentuk sediaan dll
Pengendalian
1.      Biaya penyimpanan
a.       Biaya penyimpanan : bangunan, penyusutan, biaya operasi, pajak, asuransi : 5%
b.      Biaya penanganan : peralatan, listrik, biaya operasi                                        :  3%
c.       Biaya tenaga kerja                                                                                           :  2%
d.      Biaya investasi : biaya pinjaman, pajak, asuransi persediaan              :  8%
e.       Pencurian, kelalaian                                                                                        :  2%
TOTAL                                                                                                             20%
2.      Biaya pemesanan
a.       Gaji pegawai pemesan
Gaji pegawai                                                      : Rp 2.500.000
Jumlah jam kerja 24 harix 24 jam                       : 168 jam
Gaji pegawai/jam                                                : Rp 14.880,95
Waktu yang diperlukan untuk pemesanan         : 15 menit
Gaji pegawai/pemesanan
15 menit x Rp14.88,95 = Rp 4.90,32                = Rp 5.000
60 menit
b.      Biaya telepon/fax                                               : Rp 25.000
c.       Biaya material                                                    : Rp 15.000
d.      Biaya blanko pemesanan                                    : Rp   5.000
TOTAL                                                              : Rp 50.000
3.      Metformin tablet 500mg
Diketahui :
Cost per order (Co)                       = Rp 50.000
Fraksi biaya pemesanan                 = 20%
Cost of maintenance (Cm)            = 0,2
Jumlah permintaan setahun (S)     =1150
Cost per unit (U)                           = Rp 11.200
Lead time (L)                                = 3 hari
Per kemasan                                  = dos/100 tablet
Perhitungan EOQ dan EOI
EOQ =
         =
       
       = 226,58 = 227
EOI =
         =
     
    = 0,197 tahun = 2,36 bulan = 70,8 hari = 71 hari
Perhitungan ROP
d =
   =

   = 3,15 dos
ROP = 2.d.L
         = 2 x 3,15 x 3
         = 18,9 = 19 dos



COMPOUNDING DAN DISPENSING, KOMUNIKASI DAN KONSELING, ETIKA DAN PERUNDANG-UNDANGAN


Contoh Kasus diskusi

Compounding & Dispensing

1.      Skrining farmasetis
a.     Pasien mengalami kesulitan menelan obat → rekomendasi = obat tablet dibuat menjadi sediaan serbuk
b.      Aturan pakai Lopressor HCT kurang jelas
2.      Skrining klinis
a.       Udem perlu terapi diuretik yang lebih kuat → rekomendasi = HCT diganti diuretik loop (Furosemid) karena ClCr pasien kurang dari 30 ml/menit dengan dosis 40 mg/hari (injeksi 10 mg/ml)
b.  Glucovance (metformin) kontraindikasi dengan CKD (Chronic Renal Disease) → rekomendasi = Glucovance diganti dengan insulin (dosis 75% dosis normal untuk pasien dengan ClCr antara 20-50%) dan digunakan dosis awal 0,15 mg/kgBB. Awalnya digunakan insulin intermediate acting (2 x sehari) atau long acting (1 x sehari)
c.       Dosis dan interval pemberian Sagestam (Gentamisin) terlalu besar → Rekomendasi = Sagestam dosisnya diturunkan menjadi 2 mg/kgBB dengan interval pemberian tiap 2 hari sekali karena ClCr pasien = 25,16 ml/menit
d.  Hipertensi kurang tepat diterapi dengan Lopressor HCT (metoprolol) karena pasien juga menderita DM dan GGK serta PPOK → rekomendasi metoprolol diganti ACEI (kaptopril) dengan dosis 12,5 mg 2 x sehari karena pasien baru pertama kali menggunakan dan pasien tergolong geriatri. Dibuat sediaan pulveres.
e.       PPOK stage III complicated exacerbation belum memperoleh terapi pemeliharaan → rekomendasi = pasien diberi antikolinergik (ipratropium bromida)
f.       Waspada terhadap efek samping obat yang sering terjadi dan segera laporkan apabila terjadi efek-efek samping sebagai berikut :
1.      Gentamisin : mempunyai efek pada ginjal yaitu dapat menurunkan kirens kreatinin (>10 %) dan edema ( 1-10 %)
2.      Metoprolol : hipotensi (1-27 %) dan bradikardi (2-16 %)
3.      HCT (Hidroklorotiazida)  : resiko hipokalemia dan hipotensi ortostatik.
4.      Acetaminophen : meningkatkan Cl asam urat, glukosa, menurunkan Na, bikarbonat, kalsium.
Efek pada renal : Penggunaan kronik dosis berlebih dapat meningkatka nefrotoksik.
Pada obat-obatan baru yang diusulkan yaitu:
·   Kaptopril dapat menyebabkan hiperkalemia (1-11 %), dan batuk kering (20 %)
·   Furosemid dapat menyebabkan hipokalemia.
g.      Saran untuk terapi maintenance PPOK stage 2 ini diberikan Ipratopium Bromida , hendaknya  ditanyakan dulu kepada pasien karena obat ini tidak masuk dalam daftar JAMKESMAS.

Komunikasi & Konseling
A.                Langkah-langkah yang dilakukan dalam konseling :
1.      Senyum, sapa, salam dan perkenalkan diri kepada pasien
2.      Metode yang digunakan : three prime question (dilakukan di awal konseling) dan final verification (dilakukan di akhir konseling)
B.                 Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) :
Konseling secara umum :
a.       Sanmol diminum jika pasien mengalami sakit kepala saja, penggunaannya 1 jam sebelum makan.
b.      Pasien disarankan untuk segera melaporkan kepada dokter atau apoteker jika muncul efek samping dari obat yang digunakan.
c.       Diinformasikan kepada pasien tentang penyimpanan obat yang digunakan (Sanmol, antihipertensi, dan salbutamol inhaler dapat disimpan dalam suhu kamar).
d.      Informasi kepada keluarga pasien tentang kondisi dan terapi yang dijalankan oleh pasien serta pentingnya dukungan psikologis bagi pasien.

Konseling untuk tiap penyakit :
1.      Hipertensi :
a.       Pasien diminta untuk taat terhadap diet rendah garam
Cara : pasien dan keluarganya diberi edukasi mengenai penyakit hipertensi (penyebab dan komplikasinya)
b.      Pasien diminta untuk teratur dalam melakukan aktivitas fisik/olahraga (selama 20-30 menit) setelah keluar rumah sakit
Cara : mengedukasi dan meminta keluarga pasien untuk mengajak pasien melakukan aktivitas fisik 
c.       Pasien diminta untuk menghindari stres
d.      Cara penggunaan kaptopril : diminum 1 jam sebelum makan
2.      PPOK :
a.       Pasien diminta untuk menjaga kebersihan agar infeksinya cepat sembuh
b.      Pasien diminta untuk melakukan latihan pernafasan
c.       Disarankan dan perlu ditekankan kepada pasien untuk menghindari faktor pemicu serangan (asap, produk pestisida, produk aerosol).
d.      Pasien disarankan untuk mengkonsumsi makanan yang cukup mengandung antioksidan (sayur dan buah) untuk membantu menjaga kesehatan paru-paru.
e.       Cara penggunaan inhaler :
1)      Pasien diminta untuk mengeluarkan nafas
2)      Inhaler diletakkan 2 jari didepan mulut
3)      Mulailah bernafas pelan-pelan lewat mulut kemudian tekan inhaler dan hirup inhaler sedalam mungkin secara pelan-pelan
4)      Pasien diminta untuk menahan nafas selama 10 detik. Hal ini bertujuan agar obat banyak yang masuk ke paru-paru.
5)      Jika dokter meresepkan lebih dari 1 puff obat, ulangi prosedur ini mulai dari langkah ke 2 untuk beta agonis kita dapat menunggu 1 menit diantara puff namun hal ini tidak perlu dilakukan bila menggunakan obat lain.
6)      Cuci mulut (kumur-kumur) untuk membantu mengurangi efek samping yang tidak dikehendaki.
3.      Diabetes Mellitus
a.       Melakukan aktivitas fisik selama 20-30 menit per hari
b.      Menghindari peningkatan berat badan (memotivasi pasien untuk menurunkan berat badan)
c.       Meningkatkan makanan berserat dengan indek glikemik rendah seperti sayur-sayuran dan buah-buahan
d.      Menggunakan pemanis non kalori
e.       Edukasi gejala hipoglikemi (pucat, lemas, pusing, gemetar, keringat dingin) dan penanganannya (minum air teh manis)
f.       Pasien diedukasi mengenai penyakit DM dan penyakit penyulit akut maupun kronis dari DM serta cara penanganannya agar penyakit tersebut tidak semakin parah
g.      Edukasi tentang pemeliharaan/perawatan kaki
1)      Pasien tidak boleh berjalan tanpa alas kaki termasuk di pasir
2)      Periksa kaki setiap hari dan laporkan pada dokter apabila ada kulit terkelupas atau daerah kemerahan atau luka
3)      Periksa alas kaki dan benda asing sebelum memakainya
4)      Selalu menjaga kaki dalam keadaan bersih dan mengoleskan lotion pelembab ke kulit yang kering
h.      Edukasi cara penyuntikan insulin
1)      Insulin diberikan dengan suntikan subkutan (dibawah kulit) dengan arah tegak lurus terhadap permukaan kulit
2)      Lokasi penyuntikan antara lain : kedua paha, pantat, perut, lengan. Penyuntikan sebaiknya dilakukan pada tempat yang bergantian
3)      Cara penyimpanan insulin : insulin disimpan pada suhu 2-8ºC bila insulin akan digunakan selama 6 bulan namun insulin dapat disimpan pada suhu kamar bila insulin akan digunakan selama 1 bulan
4.      Gagal Ginjal kronis
a.       Hindari obat-obatan yang bersifat nefrotoksik dan memperberat kerja ginjal
b.      Pasien diminta untuk mengurangi asupan air putih

Etika dan Perundang-undangan
1.      Dalam kasus ini Apoteker mengganti beberapa obat seperti sanmol menjadi paracetamol, sediaan ventolin menjadi salbutamol inhaler, sagestam menjadi gentamisin yang terdapat dalam daftar obat yang dibiayai oleh jamkesmas.
Penggantian tersebut telah disesuaikan dengan pedoman pelaksanaan jamkesmas.
a.       JAMKESMAS adalah program bantuan sosial untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu. Program ini diselenggarakan secara nasional agar terjadi subsidi silang dalam rangka mewujudkan pelayanan kesehatan yang menyeluruh bagi masyarakat miskin.
b.      Pada hakekatnya pelayanan kesehatan terhadap masyarakat miskin menjadi tanggung jawab dan dilaksanakan bersama oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Pemerintah Propinsi/Kabupaten/Kota berkewajiban memberikan kontribusi sehingga menghasilkan pelayanan yang optimal.

Tindakan tersebut dilandasi oleh beberapa peraturan berikut:
a.                   Kode etik kefarmasian
      Bab II pasal 9 tentang kewajiban apoteker terhadap penderita
Seorang Apoteker dalam melakukan pekerjaan kefarmasian harus mengutamakan kepentingan masyarakat dan menghormati hak asazi penderita dan melindungi makhluk hidup insani.”
b.                  PP 51 tahun 2009
1)      Pasal 24 b
Dalam melakukan Pekerjaan Kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan Kefarmasian, Apoteker dapat mengganti obat merek dagang dengan obat generic yang sama komponen aktifnya atau obat merek dagang lain atas persetujuan dokter dan/atau pasien.”



2)      Pasal 8
“Seorang Apoteker harus aktif mengikuti perkembangan peraturan perundang-undangan di Bidang Kesehatan pada umumnya dan di Bidang Farmasi pada khususnya”.
2.      Komunikasi dengan tenaga kesehatan lain dalam rangka memberi rekomendasi maupun informasi
Hal ini berdasarkan pada :
Kode etik kefarmasian Bab IV tentang Kewajiban apoteker/farmasis terhadap sejawat petugas kesehatan lainnya
Pasal 13
“Setiap Apoteker harus mempergunakan setiap kesempatan untuk membangun dan meningkatkan hubungan profesi, saling mempercayai, menghargai dan menghormati SejawatPetugas Kesehatan.”
3.      Pemberian informasi dan konseling pada pasien
Hal ini berdasarkan pada :
a)      PP 51 tahun 2009
Pasal 7
“Seorang Apoteker harus menjadi sumber informasi sesuai dengan profesinya”.
b)  Kode etik kefarmasian
      Bab II pasal 9 tentang kewajiban apoteker terhadap penderita
Seorang Apoteker dalam melakukan pekerjaan kefarmasian harus mengutamakan kepentingan masyarakat dan menghormati hak asazi penderita dan melindungi makhluk hidup insani.”

Daftar Pustaka
Anonim, 2006, Pharmaceutical Care untuk Penyakit Hipertensi, Depkes RI, Jakarta
Anonim, 2006, Pharmaceutical Care untuk Penyakit Diabetes Mellitus, Depkes RI, Jakarta
Dipiro, J.T., Wells, B.G., Schwinghammer, T.L., & Hamilton, C.W., 2006, Pharmacotherapy Handbook, Sixth Edition, The McGraw-Hill Companies Inc, Philadelphia.
Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009 tentang pekerjaan kefarmasian
Pedoman Pelaksanaan Jamkesmas tahun 2008
Semla, T.P., Beizer, J.L., & Higbee, M.D., 2002, Geriatric Dosage Handbook, 7th Edition, Lexi-Comp Inc, Ohio.


PENGGUNAAN JINTAN HITAM SEBAGAI ANTI HIPERKOLESTEROL


Kolesterol merupakan salah satu komponen dari lemak, dan lemak merupakan salah satu gizi yang diperlukan oleh tubuh disamping zat gizi yang lain. Lemak menjadi salah satu sumber energi yang memiliki kalori paling tinggi dan pada lemak khususnya kolesterol berfungsi untuk membentuk dinding-dinding sel dalam tubuh dan kolesterol juga merupakan bahan utama dari pembentukan hormon steroid.
Lipid plasma yang utama yaitu kolesterol, trigliserida, fosfolipida, dan asam lemak bebas tidak larut dalam cairan plasma. Agar lipid plasma dapat diangkut dalam sirkulasi maka susunan molekul lipid tersebut perlu dimodifikasi, yaitu dalam bentuk lipoprotein yang bersifat larut dalam air. Lipoprotein dibagi menjadi 5 golongan besar yaitu :
1.    Kilomikron
Lipoprotein dengan berat molekul terbesar ini lebih dari 80% komponennya terdiri dari trigliserida dan kurang dari 5 % kolesterol ester. Kilomokron akan membawa trigliserida dari makanan ke jaringan lemak dan otot rangka, juga membawa kolesterol makanan ke hati.
2.    Lipoprotein densitas sangat rendah (VLDL, very low density lipoprotein)
Lipoprotein ini terdiri dari 60% trigliserida (endogen) dan 10-15% kolesterol. VLDL disekresi oleh hati untuk mengangkut trigliserida ke jaringan perifer. Trigliserida VLDL dihidrolisis oleh LPL menghasilkan asam lemak bebas untuk disimpan dalam jaringan adipose dan bahan oksidasi di jantung dan otot skelet.
3.    Lipoprotein densitas sedang (IDL, intermediate density lipoprotein)
IDL ini kurang mengandung trigliserida (30%), lebih banyak kolesterol (20%) dan relatif lebih banyak mengandung apoprotein B dan E. IDL adalah zat perantara yang terjadi sewaktu VLDL dikatabolisme menjadi LDL, tidak terdapat dalam kadar yang besar kecuali bila terjadi hambatan konversi lebih lanjut.
4.    Lipoprotein densitas rendah (LDL, low density lipoprotein)
LDL merupakan lipoprotein pengangkut kolesterol terbesar pada manusia (70% total). Partikel LDL mengandung trigliserida sebanyak 10% dan kolesterol 50%. Jalur utama katabolisme LDL berlangsung lewat receptor-mediate endocytosis di hati dan sel lain. Ester kolesterol dari inti LDL dihidrolisis menghasilkan kolesterol bebas untuk sintesis sel membran dan hormon steroid.
5.    Lipoprotein densitas tinggi (HDL, high density lipoprotein)
HDL merupakan lipoprotein protektif yang menurunkan resiko penyakit jantung koroner. Efek protektifnya diduga karena mengangkut kolesterol dari perifer untuk dimetabolisasi di hati dan menghambat modifikasi oksidatif LDL melalui paraoksonase, suatu protein antioksidan yang berasosiasi dengan HDL (Anonim, 2007).
Secara normal kolesterol dapat diproduksi oleh tubuh sesuai dengan kebutuhan namun dapat meningkat karena makanan yang kita makan mengandung kolesterol. Kolesterol yang berlebihan dapat membuat penumpukan di pembuluh darah dan dapat menimbulkan penyempitan, karena itulah dapat menyebabkan seseorang terserang stroke dan jantung. Kolesterol diangkut oleh lipoprotein menuju sel-sel yang membutuhkan termasuk jantung dan otak, sedangkan kelebihan kolesterol diangkut oleh HDL menuju hati yang kemudian diurai dan masuk ke empedu sebagai asam empedu. LDL memiliki kandungan lemak yang lebih banyak dibandingkan dengan dengan HDL. LDL dianggap lemak yang jahat karena dapat menempel di dinding pembuluh darah sedangkan HDL dianggap lemak yang baik karena ia membawa lemak yang berlebih menuju hati.
Hiperlipidemia didefinisikan sebagai ketinggian dari satu atau lebih dari kolesterol, ester kolesterol, fosfolipid, atau trigliserida. Lipid yang bercampur air, tidak hadir dalam bentuk bebas dalam plasma melainkan bersirkulasi sebagai lipoprotein. Hiperlipidemia dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu
1.    Hiperkolesterolemia : Adanya peningkatan kadar LDL dan kolesterol total
2.    Hipertrigliserida       : Dimana kadar trigliserida meningkat
Hiperkolesterolemia dan hipertrigliserida merupakan faktor resiko bagi atherosklerosis dan akhirnya penyakit jantung koroner khusunya angina dan infark jantung.
            Jinten hitam (Nigella sativa L.) merupakan keluarga Ranunculaceae (Steenis, dkk, 1975 ). Kandungan zat kimia yang terdapat pada jinten hitam antara lain Minyak atsiri 1,5% (terdiri dari 40 – 60% karven, d-limonen, simen, dan terpen-terpen lain), glukosida saponin, glukosida beracun melantin, zat pahit nigelin, nigelon dan thymoquinon (Anonim, 1979). Selain itu kandungan dari biji jinten hitam antara lain oleat (omega 9), linoleat (omega 6), linolenat (omega 3), fitosterol, alkaloid (nigellein dan nigellamin-n-oksida), protein, asam-asam amino (Ahsan, 2007). polisakarida, zat besi, karoten, dan kalsium (Susilo, 2006). Sedangkan zat aktif yang diduga dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah adalah thymoquinon.
Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui apakah Nigella sativa L.  dapat dimanfaatkan sebagai antihiperkolesterol.

METODE
Pada artikel ini, data yang digunakan diperoleh dengan cara me-review artikel-artikel elektronik yang berkaitan dengan penggunaan Nigella sativa L. sebagai antihiperkolesterol.
            Data diambil dari beberapa situs ilmiah yang menyediakan artikel-artikel yang terkait seperti Google Scholar, Science Direct, dan Pubmed dengan memasukan kata kunci Nigella sativa, hypercholesterolemia, clinical trial pada kolom search (pencarian).

HASIL DAN PEMBAHASAN
Penyajian Data
Berdasarkan dari beberapa artikel ilmiah yang diperoleh, data yang diperoleh disusun kembali dan ditampilkan dengan cara naratif dalam bentuk tabel berikut:

N0
Judul, Nama Penggarang,  Tahun
Metode
Sampel
Hasil
1.
Effect of dietary supplementation with Nigella sativa L. on serum lipid profile, lipid peroxidation and antioxidant defense system in hyperlipidemic rabbits

Gargari, B.P., Attary, V.E., dkk (2009)
Eksperimental
24 kelinci putih  jantan New zealand
Pada kelompok black seeds
Tingkat TC, LDL.C, HDL.C, TG dan TC/HDL.C secara signifikan menurun
dibandingkan kelompok kontrol

2.
The effect of dietary supplementation of Nigella sativas L. on serum lipid profile in rats
Kocyigit Yukse, Atamer, Y., dkk (2009)







Eksperimental
75 tikus albino galur Wistar
Tikus diberi Nigella sativa dengan dosis 400 mg untuk jangka 1 minggu menunjukan peningkatan yang signifikan dalam HDL. Ada penurunan yang signifikan dalam LDL setelah 1 minggu untuk dosis 400 mg dan 600 mg. dan semua dosis setelah 2 minggu dan 4 minggu untuk 200 mg dan 600 mg jika dibandingkan dengan kelompok control. Ada penurunan yang signifikan dalam tingkat LDL yang tinggi setelah 1 minggu untuk 200 mg, 400 mg, dan 600 mg dan semua dosis untuk 2 dan 4 minggu. Untuk dosis 400 mg selama 2 minggu dan semua dosis selama 4 minggu menyebabkan penurunan yang signifikan pada tingkat trigliserida. Ada penurunan yang signifikan terhadap tingkat kolesterol total pada semua dosis setelah 4 minggu makan Nigella sativa

3.



Effect of Nigella sativa (kalonji) on serum cholesterol of albino rats
Dahri, A.H., Chandiol, A.M., dkk (2005)
Eksperimental
24 tikus albino jantan dan betina

Serum kolesterol total pada kelompok eksperimental meningkat dari 76,9 ± 6,5-117,5 ± 6,65 selama 20 minggu. Serum kolesterol HDL meningkat dari 41,7 ± 4,9-83,42 ± 5,92 selama 20 minggu dibandingkan dg kelompok kontrol. Tingkat kolesterol LDL mengalami penurunan dari 12,7 ± 6,9-8,5 ± 7,8 selama 20 minggu.


Penelitian oleh Gargari, B.P., Attary, V.E., dkk dengan judul “Effect of dietary supplementation with Nigella sativa L. on serum lipid profile, lipid peroxidation and antioxidant defense system in hyperlipidemic rabbits”. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa konsentrasi serum total kolesterol, trigliserida, LDL.C, & MDA adalah menurun secara signifikan dalam kelompok biji jintan hitam ( P<0,05) dibandingkan dengan kelompok kontrol pada akhir studi, tetapi tidak ada perbedaan yang signifikan di tingkat TAS, SOD, dan GPX antara kelompok-kelompok (P>0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa jintan hitam dapat menurunkan profil lipid serum dan tingkat peroksidasi lipid pada kelinci hiperlipidemia.
            Penelitian oleh Kocyigit Yukse, Atamer, Y., dkk yang berjudul “The effect of dietary supplementation of Nigella sativas L. on serum lipid profile in rats dilakukan dengan sebanyak 75 tikus albino Wistar, 60 tikus albino  diantaranya diberi suplemen Nigella sativa dan 15 sebagai kelompok kontrol. Kelompok Nigella sativa dibagi menjadi 4 kelompok utama masing- masing 15 ekor. Empat dosis Nigella sativa digunakan ( 100, 200, 400, dan 600 mg/kg/day). Setiap kelompok dosis dibagi durasi subkelompok 3 dari 5 ekor masing-masing diberi makan benih Nigella sativa untuk 1, 2, 4 minggu. Pada kelompok kontrol dibagi menjadi 3 kelompok utama masing- masing 5 ekor tikus albino. Diperoleh hasil tikus diberi Nigella sativa 400 mg/kg/hari selama 1 minggu menunjukan peningkatan yang signifikan pada HDL-C jika dibandingkan dengan kelompok kontrol (P<0,05). Ada penurunan yang signifikan dalam LDL-C setelah 1 minggu untuk 400, dan 600 mg/kg/hari (P<0,05; P<0,001) dan semua dosis selama 2 minggu (P<0,001) dan setelah 4 minggu untuk 200 dan 600 mg/kg/hari jika dibandingkan dengan kelompok kontrol (P<0,05). Ada penurunan yang signifikan pada tingkat VLDL-C setelah satu minggu untuk 200, 400 dan 600 mg/kg/hari (P<0,001) dan untuk semua dosis setelah 2 dan 4 minggu (P<0,001). Untuk dosis 400 mg/kg/hari selama 2 minggu (P<0,05) dan semua dosis selama 4 minggu menyebabkan penurunan yang signifikan pada tingkat trigliserida (P<0,001). Dibandingkan dengan kelompok kontrol, terjadi penurunan yang signifikan terhadap tingkat kolesterol total pada semua dosis setelah 4 minggu makan Nigella sativa (P<0,05).
            Penelitian yang dilakukan oleh Dahri, A.H., Chandiol, A.M., dkk yang berjudul “Effect of Nigella sativa (kalonji) on serum cholesterol of albino rats” dilakukan dengan 24 tikus albino jantan dan betina, masing-masing 12 ekor diberi nomor dan disimpan sesuai dengan jenis kelaminnya. Sampel darah puasa 12-14 jam di ambil pada kelompok kontrol dan eksperimental pada 2 minggu awal. Sampel lainnya diambil setelah 20 minggu dengan perlakuan yang sama. Dari hasil penelitian diperoleh serum kolesterol total pada kelompok kontrol mengalami kenaikan dari 8,3 ± 3,30-13,96 ± 9,3 dan kolesterol HDL menunjukan peningkatan dari 44,4 ± 6,12-80,45 ± 5,95 serta kolesterol LDL menunjukan peningkatan  dari   8,3 ± 3,30-13,96 ± 9,3 pada 20 minggu. Pada kelompok eksperimental serum kolesterol total meningkat dari 76,9 ± 6,5-117,5 ± 6,65 selama 20 minggu. Serum kolesterol HDL meningkat dari 41,7 ± 4,9-83,42 ± 5,92 selama 20 minggu dibandingkan dengan kelompok kontrol. Tingkat kolesterol LDL mengalami penurunan dari 12,7 ± 6,9-8,5 ± 7,8 selama 20 minggu.

KESIMPULAN
            Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan terhadap Nigella sativa L. menunjukan adanya penurunan yang signifikan pada serum kolesterol LDL dan peningkatan pada serum kolesterol HDL. Sehingga dari hasil penelitian yang diperoleh dapat diketahui bahwa Nigella sativa L. dapat dimanfaatkan sebagai antihiperkolsterol.

DAFTAR PUSTAKA
Dahri, A.H., Chandiol, A.M., Rahoo, A.A., Memon, R.A., 2005, Effect of Nigella sativa (kalonji) on serum cholesterol of albino rats, Department of Pathology, Peoples Medical College, Nawabshah.

Gargari, B.P., Attary, V.E., Rafraf,M., Gorbani, A., 2009, Effect of dietary supplementation with Nigella sativa L. on serum lipid profile, lipid peroxidation and antioxidant defense system in hyperlipidemic rabbits, J. of Med. Plants R., Volume 3 (10), 815-821.

Kocyigit Yukse, Atamer, Y., Uysal, E., 2009, The effect of dietary supplementation of Nigella sativa L. on serum lipid profile in rats, Saudi Med. J., Volume 30 (7), 893-896.