KETENTUAN UMUM :
Cara
Pelayanan Kefarmasian yang Baik (CPFB) menyangkut seluruh aspek pelayanan
kefarmasian dan bertujuan meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian yang
berorientasi pasien.
|
||
Landasan Umum
|
||
Pelayanan Kefarmasian (Pharmaceutical Care) merupakan
bagian integral dari pelayanan kesehatan yang berorientasi kepada pasien (patient
oriented) dengan tujuan akhir meningkatkan kualitas hidup manusia.
Pelayanan kefarmasian yang bermutu dan berorientasi kepada
pasien tergantung pada sarana, prasarana dan personalia yang terlibat dalam
proses pelayanan tersebut.
Cara Pelayanan Kefarmasian yang Baik (CPFB) mencakup sikap,
perilaku, keterikatan, perhatian, etika, fungsi, pengetahuan, tanggung jawab
dan keterampilan apoteker dalam penyediaan terapi obat yang bertujuan untuk
memperoleh hasil terapi yang optimal terhadap mutu kehidupan
dan kesehatan pasien.
Untuk mendapatkan
pelayanan kefarmasian yang bermutu dan berorientasi pasien, perlu dibuat
Pedoman Cara Pelayanan Kefarmasian yang Baik (CPFB).
Pedoman Cara Pelayanan Kefarmasian yang Baik (CPFB) ini merupakan pedoman yang
bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian yang berorientasi
pasien sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
|
||
Definisi
Dalam pedoman ini, digunakan definisi
sebagai berikut:
|
||
Apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan
penyaluran sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat.
Apoteker adalah sarjana yang lulus pendidikan profesi dan telah mengucapkan
sumpah berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan berhak melakukan
pekerjaan kefarmasian.
Asisten Apoteker adalah orang yang berdasarkan pendidikan dan
peraturan perundangan yang berlaku berhak melakukan pekerjaan kefarmasian
sebagai asisten apoteker.
CPD (Continuing Professional Development) adalah pendidikan
berlanjut bagi tenaga profesi untuk
meningkatkan mutu pelayanan
GPP (Good Pharmacy Practice) adalah
The practice of pharmacy aimed at providing and promoting the best use of
drugs and other health care services and products, by patients
DOWA (Daftar Obat Wajib Apotek) adalah obat keras yang dapat diserahkan oleh
Apoteker kepada pasien di Apotek tanpa resep dokter.
Puskesmas adalah
unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab
menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja.
Pelayanan kefarmasian (Pharmaceutical
Care) adalah bentuk
dan tanggung jawab langsung profesi Apoteker dalam pekerjaan kefarmasian
untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
SIK adalah Surat izin yang dikeluarkan Menkes kepada apoteker
yang telah disumpah untuk
menyelenggarakan pelayanan kefarmasian
SP adalah bukti
tertulis yang diberikan oleh Menteri kepada apoteker yang telah diregistrasi.
SIA adalah Surat
izin dari Menkes melalui Dinas Kesehatan
Kota/Kabupaten kepada Apoteker untuk menyelenggarakan Apotek disuatu tempat
tertentu
Sarana adalah suatu tempat, fasilitas dan peralatan yang secara langsung
terkait dengan pelayanan kefarmasian.
Prasarana adalah tempat, fasilitas dan peralatan yang secara tidak langsung
mendukung pelayanan kefarmasian.
Efek Samping adalah setiap respon obat yang merugikan dan tidak
diharapkan serta terjadi karena penggunaan obat dengan dosis atau takaran
normal.
Resep adalah permintaan tertulis dalam bentuk lembar resep atau
lembar terapi obat dari dokter, dokter gigi dan dokter hewan kepada apoteker untuk
menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita sesuai peraturan perundangan
yang berlaku.
|
||
PEDOMAN CARA PELAYANAN KEFARMASIAN YANG BAIK Part-1
EVALUASI PENGGUNAAN OBAT (EPO)
Deskripsi
Kegiatan
untuk menilai penggunaan obat di fasilitas kesehatan dengan kriteria tertentu
secara terus menerus, terstruktur dan sistematis.
Tujuan
·
Meningkatkan standar penggunaan obat dan terapi obat.
·
Menyempurnakan
pelayanan obat yang diberikan kepada pasien
·
Meningkatkan
efisiensi biaya obat
·
Membantu
perencanaan kebutuhan obat di fasilitas kesehatan
Luaran
·
Penyempurnaan
kebijakan penggunaan obat di fasilitas kesehatan
·
Pedoman
penggunaan terapi obat
Langkah
·
Menetapkan
obat yang akan dievaluasi
·
Merencanakan
disain evaluasi penggunaan obat
·
Mengumpulkan
data
·
Mengolah
data
·
Menganalisis
data
·
Menginterpretasi
data dan menyimpulkan
·
Melaporkan
kepada yang berkepentingan
·
Menyajikan
di hadapan yang berkepentingan
PELAYANAN
FARMASI DI RUMAH (HOME PHARMACY CARE)
Deskripsi
Kegiatan
pelayanan farmasi bagi pasien di rumah yang dilakukan oleh apoteker untuk
pasien yang tidak dapat datang sendiri ke fasilitas kesehatan atau yang
memerlukan bantuan pemantauan kepatuhan penggunaan obat atau ketepatan
penggunaan alat kesehatan tertentu, untuk memastikan kepatuhan pengobatan atau
ketepatan penggunaan alat kesehatan.
Pelayanan ini terutama /khususnya untuk kelompok lansia dan pasien
dengan pengobatan kronis lainnya
Tujuan
·
Membantu
pasien dalam meningkatkan kepatuhan penggunaan obat atau ketepatan penggunaan
alat kesehatan
·
Menunjang
keberhasilan terapi obat
Luaran
·
Peningkatan
kepatuhan pasien terhadap rencana terapi yang ditetapkan oleh dokter
·
Terjaminnya
suplai obat dan alat kesehatan serta penggunaan obat dan alat kesehatan secara
tepat
Langkah
·
Menerima
keluhan dan permintaan pasien yang terkait dengan penggunaan obat/alkes, atau
ketidakmampuan untuk hadir di fasilitas kesehatan
·
Memperoleh
rencana terapi atau atas permintaan dokter untuk melakukan home care
·
Membuat
rencana home care yang didiskusikan bersama dokter dan pasien atau pihak yang
merawat
·
Melaksanakan
home care
·
Memantau
dan mencatat hasil terapi
·
Melaporkan
hasil terapi kepada dokter yang merawat
·
Mendokumetasikan
hasil home care
PEMANTAUAN KADAR OBAT DALAM DARAH
Deskripsi
Melakukan pemeriksaan
kadar obat dalam plasma karena indeks
terapi yang sempit dan atau permintaan dari dokter yang merawat
Tujuan
·
Untuk
penyesuaian dosis obat untuk mencapai efek terapeutik dan menghindari
toksisitas obat
Luaran
·
Tercapainya
dosis individu yang sesuai untuk mencapai efek terapeutik
·
Terdeteksinya
ketidakpatuhan pasien dalam penggunaan obat
·
Terhindarnya
pasien dari toksisitas obat
Langkah
·
Menerima
permintaan pemeriksaan kadar obat dalam darah dari dokter
·
Mengidentifikasi
pasien yang menggunakan obat dengan indeks terapi sempit dan pasien dengan
dugaan ketidakpatuhan
·
Merancang
penjadwalan pengambilan sampel darah sesuai dengan karakteristik obat
·
Menerima
sampel darah yang akan diperiksa kadarnya
·
Melakukan
pemeriksaan
·
Menghitung
dan menetapkan regimen dosis.
·
Merekomendasikan
regimen dosis pada dokter
·
Mendokumentasikan
hasil
PENCATATAN PENGGUNAAN OBAT
PENCATATAN PENGGUNAAN OBAT
Deskripsi
Adalah kegiatan pencatatan yang meliputi data dasar pasien, keluhan pasien, riwayat penggunaan obat, penulis resep, diagnosis, hasil kajian, pemberian obat dan informasi yang diberikan oleh Apoteker.
Tujuan
· Memberikan informasi mengenai obat yang digunakan oleh pasien
· Melaksanakan audit penggunaan obat
· Melaksanakan evaluasi penggunaan obat (DUR/DUS)
Luaran
- Terjaminnya keamanan klien
- Tersedianya bukti yang memadai terkait dengan perlindungan hukum terhadap pelayanan profesi
- Tersedianya informasi penggunaan obat oleh pasien yang valid dan terkini.
- Tersedianyan hasil audit penggunaan obat
- Tersedianya laporan evaluasi penggunaan obat
Langkah
- Mencatat data dasar pasien,
- Mencatat keluhan pasien,
- Mencatat riwayat penggunaan obat
- Mencatat penulis resep,
- Mencatat diagnosis,
- Mencatat hasil kajian,
- Mencatat pemberian obat
- Mencatat informasi yang diberikan oleh Apoteker
- Membuat sistem manual/komputerisasi yang memudahkan penelusuran kembali catatan penggunaan obat
- Mendokumentasikan
IDENTIFIKASI, PEMANTAUAN DAN PELAPORAN REAKSI OBAT YANG TIDAK DIKEHENDAKI (ROTD) DAN EFEK SAMPING OBAT ( ESO )
Deskripsi
Adalah aktifitas untuk mengidentifikasi, memantau dan melaporkan reaksi yang tidak dikehendaki termasuk efek samping obat untuk mencegah kejadian yang lebih berisiko dan menghindari terulangnya kejadian.
Tujuan
- Mendapatkan data untuk pelaporan efek samping obat
- Mengurangi kejadian reaksi obat yang tidak dikehendaki
Luaran
- Adanya penilaian dan komunikasi antara manfaat dan risiko terhadap obat yang beredar dalam penyusunan formularium
- Adanya data untuk laporan MESO
- Penurunan angka kejadian risiko penggunaan obat
- Penurunan tingkat keparahan akibat reaksi obat yang tidak diinginkan
Langkah
- Menyiapkan sistem pelaporan MESO
- Menilai riwayat alergi pasien
- Mengidentifikasi obat-obat yang telah diberikan kepada pasien
- Menganalisis kemungkinan terjadinya ADR
- Menginformasikan dan memberikan rekomendasi penanganan ADR kepada dokter
- Memantau dan melaporkan reaksi obat yang tidak dikehendaki termasuk efek samping obat
PEMANTAUAN TERAPI OBAT (PTO) (DRUG USE MONITORING)
Deskripsi
Adalah suatu proses pemantauan terhadap obat yang telah digunakan untuk menilai terapi obat berlangsung secara efektif dan aman sesuai dengan sasaran terapi yang diharapkan.
Tujuan
- Meminimalkan masalah yang berkaitan dengan obat
- Memaksimalkan outcome terapi
Luaran
- Peningkatan kepatuhan pasien
- Kesesuaian penggunaan obat dengan rencana terapi
- Tindak lanjut hasil pemantauan
- Identifikasi dan penyelesaian DRP
- Peningkatan kualitas hidup pasien
Langkah
- Pengumpulan data subjektif dan objektif
- Melakukan penilaian hasil terapi secara objektif
- Merencanakan tindak lanjut dan pemantauan
- Melakukan intervensi
- Melakukan evaluasi
- Melakukan tindak lanjut
RONDE/VISITE
Deskripsi
Merupakan kegiatan kunjungan ke pasien rawat inap secara mandiri atau bersama dokter dan atau tenaga kesehatan lainnya.
Tujuan
- Meningkatkan komunikasi dan kerjasama dengan tenaga kesehatan lain untuk meningkatkan keberhasilan terapi
- Mendapatkan informasi kondisi nyata pasien terkait dengan pelaksanaan rencana terapi secara mandiri maupun bersama tenaga kesehatan lainnya.
- Meningkatkan pemahaman pasien tentang pentingnya pemberian obat yang tepat waktu
- Meningkatkan kepatuhan pasien dalam penggunaan obat
- Meminimalisir pemberian obat yang tidak berkelanjutan
- Menilai dan melaporkan keberhasilan terapi obat
- Mengidentifikasi masalah-masalah yang berkaitan dengan penggunaan obat
Luaran
- Keputusan terapi pasien dilakukan secara komprehensif
- Terjalinnya kerjasama yang baik antar tenaga kesehatan
- Diperolehnya informasi kondisi nyata pasien secara komprehensif
- Optimalisasi terapi pasien
- Peningkatan kepatuhan pasien
- Penurunan DRP
Langkah
- Mendapatkan data pasien dan data respon obat-obat yang digunakan dari catatan medik sebagai persiapan ronde.
- Memperkirakan masalah yang mungkin terjadi
- Memperkenalkan diri dan menerangkan tujuan kunjungan tersebut kepada pasien
- Menggali informasi terkait dengan keluhan/keberhasilan penggunaan obat
- Memberikan pertimbangan kepada tenaga kesehatan lainnya terkait dengan penggunaan obat
- Membuat catatan mengenai permasalahan dan penyelesaian masalah obat untuk tindak lanjut dalam lembar umpan balik terapi
DISPENSING DALAM PELAYANAN FARMASI KLINIK

Deskripsi
Merupakan kegiatan pelayanan yang dimulai dari tahap penerimaan , validasi, interpretasi, pengkajian dan
memutuskan resep, serta
penyiapkan/peracikan obat, pemberikan label/etiket, penyerahkan obat dengan pemberian
informasi yang memadai.
Tujuan
Menjamin pasien yang tepat menerima obat yang tepat dalam
dosis, bentuk sediaan dan informasi yang tepat.
Luaran
·
Pasien mendapat obat dengan jenis, dosis dan bentuk yang tepat
·
Kemungkinan terjadinya interaksi dapat dihindari/ diminimalisir
·
Kualitas
obat terjamin dalam batas kadaluarsanya
·
Instruksi
yang tepat dan jelas diberikan kepada pasien untuk menjamin penggunaan obat
yang tepat dan aman
·
Pasien
diberikan informasi dasar terkait dengan penggunaan, peringatan, bila ada
kemungkinan efek obat yang tidak dikehendaki, tindakan yang diambil jika
terjadi kejadian yang tidak dikehendaki
Langkah
·
Penerimaan resep
·
Validasi resep
·
Menginterpretasi
·
Mengkaji
dan memutuskan
·
Menyiapkan/meracik
obat, baik dalam bentuk sediaan jadi ataupun sediaan racikan, pencampuran obat
suntik intravena, pencampuran obat sitostatika, pencampuran nutrisi parenteral dan
obat investigasi.
·
Memberikan
label/etiket,
·
Menyerahkan
obat
·
Memberikan
informasi yang memadai.
PELAYANAN SWAMEDIKASI
Deskripsi (disesuaikan dengan pedoman swamedikasi)
Merupakan kegiatan pelayanan yang dimulai dari tahap menilai
kebutuhan pasien/klien untuk swamedikasi, menanggapi gejala/keluhan pasien,
mengkaji, memilihkan, menyiapkan, memberikan label/etiket, menyerahkan obat
dengan memberikan informasi yang memadai.
Tujuan
Menjamin pasien/klien yang tepat menerima obat yang tepat
dalam dosis, bentuk sediaan dan informasi yang tepat.
Luaran :
·
Pasien/klien mendapat obat dengan jenis, dosis dan bentuk yang
tepat
·
Kemungkinan
terjadinya interaksi dapat dihindari/diminimalisir
·
Kualitas
obat terjamin dalam batas kadaluarsanya
·
Instruksi
yang tepat dan jelas diberikan kepada pasien untuk menjamin penggunaan obat
yang tepat dan aman
·
Pasien/klien
diberikan informasi dasar terkait dengan penggunaan, peringatan, bila ada
kemungkinan efek obat yang tidak dikehendaki, tindakan yang diambil jika
terjadi kejadian yang tidak dikehendaki
Langkah
·
Menilai
kebutuhan pasien/klien untuk swamedikasi
·
Menanggapi
gejala/keluhan pasien/klien : menerima keluhan/permintaan obat, mengkaji,
menentukan swamedikasi atau merujuk ke dokter
·
Memilihkan obat
sesuai dengan jenis, dosis dan bentuk yang dibutuhkan pasien/klien
·
Menyiapkan obat sesuai dengan kebutuhan
pasien/klien
·
Memberikan
label/etiket,
·
Menyerahkan
obat
·
Memberikan
informasi yang memadai
KONSELING :
Deskripsi
Merupakan
satu proses yang sistematik untuk mengidentifikasi dan penyelesaian masalah
pasien yang berkaitan dengan pengambilan dan penggunaan obat pasien rawat jalan
dan pasien rawat inap. (Mengacu pada Pedoman Konseling Pelayanan Kefarmasian di
Sarana Kesehatan).
Tujuan
·
Meningkatkan
kepatuhan pasien
·
Promosi
kesehatan dan mencegah penyakit
Luaran
·
Tercapainya
kesepahaman terapeutik antara pasien dan Apoteker
·
Tercapainya
efek terapi yang optimal
·
Peningkatan
pemahaman klien terhadap kesehatan dan pencegahan penyakit
Langkah
·
Pengenalan
·
Penilaian
·
Pelaksanaan
·
Verifikasi
·
Kesimpulan
dan penutup
PELAYANAN INFORMASI OBAT :
Deskripsi
Merupakan kegiatan pelayanan yang dilakukan
oleh Apoteker untuk memberikan informasi secara akurat, tidak bias dan terkini
kepada dokter, Aporeker, Perawat, Profesi kesehatan lainnya dan pasien.
(Mengacu pada Pedoman PIO).
Tujuan
·
Memberikan
informasi obat yang akurat, tidak bias secara komersial, terkaji dan terkini.
Luaran
·
Tercapainya
penggunaan obat yang rasional
Langkah
·
Menerima
pertanyaan
·
Mengidentifikasi
penanya
·
Menggali
latar belakang pertanyaan
·
Mencari
dan mengkaji sumber informasi yang sesuai
·
Merumuskan
jawaban
·
Memberikan
jawaban
·
Mendokumentasi
DIARE AKUT DEHIDRASI RINGAN-SEDANG KOMPLIKASI HIPERBILIRUBIN
Definisi
Diare merupakan keadaan
dimana frekuensi defekasi meningkat abnormal dari keadaan biasanya dan biasanya
berupa cairan (Dipiro,2008) atau keluarnya tinja cair > 3 x / 24
jam (Sudarmo, S.M, et al, 2008).
Berdasarkan lama terjadinya, diare dapat dibedakan menjadi (Sudarmo, S.M, et al, 2008).
§ diare akut : berlangsung
paling lama 3 – 5 hari
§ diare berkepanjangan : berlangsung > 7 hari
§ diare kronis : berlangsung > 14 hari
Berbagai
macam hal yang dapat mengakibatkan terjadinya diare antara lain (Dipiro, 2008) :
§
bakteri yang mengeluarkan toksin sehingga
menyebabkan inflamasi,
§ oportunistik
kuman seperti Shigella,
Salmonella, Campylobacter, Staphylococcus, dan Escherichia
coli.
§ efek samping
obat seperti laksatif, antasida yang mengandung magnesium, antibiotik dan
berbagai macam obat yang lain
§ penyakit
endokrin
§ penyakit
neurologik
§
alergi terhadap obat-obat tertentu seperti
II.
Patofisiologi diare
Ketidakseimbangan
pengangkutan air dan elektrolit berperan penting pada patogenesis diare. Hal
ini dapat mengakibatkan terjadinya perubahan absorbsi dan sekresi cairan dan
elektrolit yang dapat meningkatkan terjadinya dehidrasi.
Peningkatan pengeluaran cairan dapat terjadi oleh
karena:
- Sekresi yang
meningkat à terdapat
bahan-bahan yang dapat meningkatkan
atau menurunkan absorpsi dari air dan elektrolit, seperti vasoactive intestinal peptide (VIP) dari tumor
pankreas, lemak yang tak terabsorbsi di steatorrhea, laxatives, hormon (seperti
sekretin), toksin bakteri maupun
garam empedu yang berlebihan
- Osmotik à terjadi sindrom malabsorpsi dan intoleransi lactose atau penggunaan
karbohidrat yang sulit untuk diserap (seperti Lactulose).
- Eksudatif diare à terjadi perubahan absorpsi, sekresi
dan fungsi motilitas di daerah GIT. sehingga terjadi inflamasi pada GIT.
Hal ini dapat ditandai dengan adanya mukus dan darah. pada feces.
- Perubahan motilitas pada usus
(Dipiro, 2008; Sudarmo, S.M,
et al, 2008).
III.
Gejala Klinik dan Komplikasi
Frekuensi
buang air besar bertambah dengan bentuk dan konsistensi yang lain dari biasanya
dapat cair, berlendir, atau berdarah, dapat juga disertai gejala lain,
anoreksia panas, muntah atau kembung. Dapat disertai gejala komplikasi,
gangguan elektrolit, dehidrasi, gangguan gas darah atau asidosis (Sudarmo, S.M, et al, 2008).
IV.
Penatalaksanaan Terapi
1. Resusitasi cairan dan elektroli
sesuai dengan derajat dehidrasi dan kehilangan elektrolitnya
2. Dietetik
Makanan tetap diberikan, ASI
tetap diberikan, formula diencerkan dalam waktu singkat.
3. Pada umumnya tidak diperlukan
antimikrobial
4. Pengobatan problem penyerta
5. Obat-obat diare tidak dianjurkan oleh
karena dapat memperpanjang transit time
sehingga kuman-kuman dan toksin lebih lama berada di usus dan menyulitkan
terapi cairan
HIPERBILIRUBIN
I.
Definisi
Bilirubin merupakan produk akhir dari katabolisme heme dan
bilirubin dihasilkan dari pemecahan hemoglobin sel darah merah. Sumber lain
dari heme termasuk heme yang mengandung
protein, seperti myoglobin, sitokrom, nitric oxide synthase. Bilirubin terdapat
dalam beberapa bentuk didalam darah tetapi sebagian besar terikat pada serum
albumin. Bilirubin unconjugated bebas, dan bentuk-bentuk bilirubin yang lain,
dapat menembus sistem saraf pusat dan menjadi toksik jika kadarnya terlalu
tinggi (Gomela, L.T, 2004). Dikatakan hiperbilirubin bila kadar bilirubin total
lebih dari 12-13 mg% (205-220 µmol/L) (Damanik, S.M, 2008).
Hiperbilirubin pada neonatal dapat dibedakan menjadi
hiperbilirubin unconjugated dan
hiperbilirubin conjugated. Dikatakan
hiperbilirubin unconjugated bila laju produksi bilirubin lebih cepat dari
laju eliminasi bilirubin, yang dapat menyebabkan meningkatnya kadar total serum
bilirubin, dan menimbulkan efek klinis yang disebut jaundice (Gomela, L.T, 2004).
II. Patofisiologi
Menurut Damanik, S.M (2008), peningkatan kadar bilirubin
dapat disebabkan oleh:
a.
Produksi bilirubin yang meningkat
: peningkatan jumlah sel darah merah, penurunan umur sel darh merah,
peningkatan pemecahan sel darah merah.
b.
Penurunan konjugasi bilirubin :
prematurisasi.
c.
Peningkatan reabsorbsi bilirubin
dalam saluran cerna : asfiksia, pemberian ASI yang terlambat, obstruksi saluran
cerna.
d.
Kegagalan ekresi cairan empedu :
sepsis, hepatitis, sindrom kolestatik, atresia biliaris.
Gambar degradasi heme dan
pembentukan bilirubin
(Dennery, P.A, et al, 2001)
III.
Diagnosis
a.
Anamnesis : riwayat ikterus pada
anak sebelumnya, riwayat keluarga anemia dan pembesaran hati dan limpa, riwayat
penggunaan obat selama ibu hamil, riwayat infeksi maternal, riwayat trauma
persalinan, asfiksia.
b.
Pemeriksaan fisik :
Umum : keadaan umum (gangguan nafas, apnea, instabilitas
suhu).
Khusus : dengan cara menekan kulit ringan dengan
menggunakan jari tangan dan dilakukan pada pencahayaan yang memadai.
Berdasarkan
Kramer dibagi :
|
Derajat ikterus
|
Daerah ikterus
|
Perkiraan kadar bilirubin
|
|
I
|
Kepala
dan leher
|
5,0 mg/dl
|
|
II
|
Sampai
badan atas (diatas umbilikus)
|
9,0 mg/dl
|
|
III
|
Sampai badan
bawah (dibawah umbulikus) hingga tungkai atas (diatas lutut)
|
11,4 mg/dl
|
|
IV
|
Sampai
lengan, tungkai bawah lutut
|
12,4 mg/dl
|
|
V
|
Sampai
telapak tangan dan kaki
|
16,0 mg/dl
|
IV. Penatalaksanaan Terapi
1.
Ikterus yang timbul sebelum 24 jam
pasca kelahiran, tindakan fototerapi dan tindakan transfusi tukar.
2.
Pada usia 25-48 jam pasca
kelahiran, fototerapi dianjurkan bila kadar bilirubin serum total > 12 mg/dl
(170 µmol/L). Bila fototerapi 2 x 24 jam gagal menurunkan kadar bilirubin serum
total < 20 mg/dl, dianjurkan untuk dilakukan tukar transfusi.
3.
Pada usia 49-72 jam pasca
kelahiran, fototerapi dianjurkan bila kadar bilirubin serum total > 15 mg/dl
(260 µmol/L). Bila fototerapi 2 x 24 jam gagal menurunkan kadar bilirubin serum
total < 25 mg/dl, dianjurkan untuk dilakukan tukar transfusi.
4.
Pada usia > 72 jam pasca
kelahiran, fototerapi dianjurkan bila kadar bilirubin serum total > 17 mg/dl
(290 µmol/L). Bila fototerapi 2 x 24 jam gagal menurunkan kadar bilirubin serum
total < 20 mg/dl, dianjurkan untuk dilakukan tukar transfusi.
Contoh Kasus
Telah
datang bayi Nyonya K pada tanggal 12 April 2010. Pasien merupakan rujukan dari
RSI Gondanglegi dengan keluhan diare. Saat datang, bayi berusia 7 hari dengan
berat badan lahir 2600 gram. Pada saat di RSI Gondanglegi pasien mendapat
terapi D10% (10 tpm) dan O2. Kondisi umum saat pasien datang adalah
gerak tangis lemah, nadi 130 x, RR 40 x, suhu 36,9°C dan kuning kr. V. Oleh
dokter, pasien didiagnosis diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang dan
hiperbilirubin indirect. Dari hasil laboratorium didapatkan bahwa pada bayi Ny.
K mengalami trombocitopeniz, perpanjangan nilai PTT dan APTT serta peningkatan
kadar bilirubin total dan bilirubin indirect.
Pada
awal MRS, pasien mendapatkan terapi O2 sebagai terapi sesak yang
dialami pasien. Kondisi sesak pada pasien ditunjukkan dengan meningkatnya nilai
nadi dan RR pada pasien. Infus D10, ½ NS sebagai terapi elektrolit untuk
menjaga hemodinamika cairan tubuh
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2008. British National Formulary, London : BMJ Publishing Group
Ltd, ed 56
Damanik,
S.M., 2008. Hiperbilirubinemia, In: Pedoman
Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak. Edisi III. Surabaya: FKUA.
Dipiro, Joseph T.,
Robert L. Talbert, Gary C., et. al.,
2009. Pharmacotherapy A Pathophysiologic
Approach. Ed 7th , New York : McGraw Hill
Companies Inc.
Gomella, T.L., Cunningham, M.D., Eyal,
F.G., et al., 2004.
Hiperbilirubinemia, In: Neonatology:
Management, Procedures, On-call Problems, Disease, and Drug, 5th
Ed, New York : McGraw Hill Companies
Inc.
Sudarmo,
M.S., Ranuh, R.G., Fardah, A.A., 2008. Diare, In: Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak. Edisi III.
Surabaya: FKUA.
Lacy,
C., amstrong, L. L., Goldman, M. P., Lance, L. L., 2009. Drug Information Handbook 17th
Edition. Canada : Lexi-Comp Inc
Pagana, K.D., and Pagana T.J., 2002. Mosby’s Manual of Diagnostic and Laboratory Test, second edition, USA : Mosby. Inc
Tatro, D.S., 2003. A to Z Drug Fact. San
Fransisco: Facts and Comparisons
Subscribe to:
Posts (Atom)


