The Pharmacist Room

Artritis Reumatoid dan Pengobatannya

 Artritis Reumatoid (AR) adalah penyakit autoimun yang penyebabnya belum diketahui dan ditandai oleh sinovitis erosif yang simetris dan pada beberapa kasus disertai keterlibatan jaringan ekstraartikular. Sebagian besar kasus Artitis Reumatoid (AR) kronik mengakibatkan kerusakan sendi yang progresif, kecatatan sampai kematian dini (1)

 Patofisiologi Penyakit

Rheumatoid arthritis adalah penyakit peradangan kronik yang menyebabkan degenerasi jaringan ikat. Peradangan (inflamasi) pada RA terjadi secara terus – menerus terutama pada organ sinovium dan menyebar ke struktur sendi di sekitarnya seperti tulang rawan, kapsul fibrosa sendi, ligament dan tendon. Inflamasi ditandai dengan penimbunan sel darah putih, pengaktifan komplemen, fagositosis ekstensif dan pembentukan jaringan glandular Inflamasi kronik menyebabkan hipertropi dan penebalan pada membrane sinovium sehingga terjadi hambatan aliran darah dan nekrosis sel dan kemudian inflamasi berlanjut. Inflamasi yang terjadi dapat menyebabkan pelepasan berbagai protein sitokin. Protein sitokin memiliki fungsi antara lain memelihara keseimbangan tubuh selama terjadi respon imun, infeksi, kerusakan, perbaikan jaringan, membersihkan jaringan yang telah mati, darah yang membeku dan proses penyembuhan. Jika produksi sitokin meningkat, kelebihan sitokin dapat  menyebabkan kerusakan yang serius pada sendi saat inflamasi RA (6)(7)

Penyebab penyakit rheumatoid arthritis belum diketahui secara pasti, namun faktor predisposisinya adalah mekanisme imunitas (antigen-antibodi), faktor sistem, dan infeksi virus (6).

C.    Epidemiologi Penyakit

Prevalensi RA relatif konstan yaitu berkisar antara 0,5-1% di seluruh dunia. Insidensi dan prevalensi RA bervariasi berdasarkan lokasi geografis dan diantara berbagai grup etnik dalam suatu negara. Misalnya, masyarakat asli Amerika, Yakima, Pima, dan suku-suku Chippewa di Amerika Utara dilaporkan memiliki rasio prevalensi dari berbagai studi sebesar 7%. Prevalensi ini merupakan prevalensi tertinggi di dunia. Beda halnya, dengan studi pada populasi di Afrika dan Asia yang menunjukkan prevalensi lebih rendah sekitar 0,2%-0,4%. Prevalensi RA di India dan di negara barat kurang lebih sama yaitu sekitar 0,75% (8).

Sedangkan, di Jerman sekitar sepertiga orang menderita nyeri sendi kronik mulai dari usia 20 tahun dan juga seperduanya berusia 40 tahun. Satu dari penyebab utama nyeri yang timbul, dengan konsekuensi yang serius, merupakan RA . RA adalah penyakit inflamasi reumatik yang paling sering dengan prevalensi 0,5% sampai 0,8% pada populasi dewasa. Insidensinya meningkat seiring usia, 25 hingga 30 orang dewasa per 100.000 pria dewasa dan 50 hingga 60 per 100.000 wanita dewasa.

Di Cina, Indonesia dan Filipina prevalensinya kurang dari 0,4% baik didaerah urban ataupun rural. Hasil survey yang dilakukan di Jawa Tengah mendapatkan prevalensi RA sebesar 0,2% di daerah rural dan 0,3% di daerah urban. Sedangkan penelitian yang dilakukan di Malang pada penduduk berusai diatas 40 tahun mendapatkan prevalensi RA sebesar 0,5% didaerah kotamadya dan 0,6% didaerah kabupaten. Di poliklinik reumatologi RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta, kasus baru RA merupakan 4,1% dari seluruh kasus baru pada tahun 2000 dan pada periode januari s/d juni 2007 didapatkan sebanyak 203 kasus RA dari jumlah seluruh kunjungan sebanyak 12.346 orang (15,1%). Prevalensi RA lebih banyak ditemukan pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki dengan rasio 3:1 dan dapat terjadi pada semua kelompok umur, dengan angka kejadian tertinggi didapatkan pada dekade keempat dan kelima. Prevalensi RA yang hanya sebesar 1 sampai 2 % diseluruh dunia, pada wanita di atas 50 tahun prevalensinya meningkat hampir 5%. Puncak kejadian RA terjadi pada usia 20-45 tahun. Berdasarkan penelitian para ahli dari universitas Alabama, AS, wanita yang memderita RA mempunyai kemungkintan 60% lebih besar untuk meninggal dibanding yang tidak menderita penyakit tersebut. (8).

 

D.    Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis RA dibagi menjadi 2 kategori yaitu manifestasi artikular

dan manifestasi ekstraartikular. Manifestasi artikular dibagi menjadi 2 kategori,

yaitu gejala inflamasi akibat aktivitas sinovitis yang bersifat reversibel dan gejala akibat kerusakan struktur persendian yang bersifat ireversibel. Sinovitis

merupakan kelainan yang umumnya bersifat reversibel dan dapat diatasi dengan pengobatan medikamentosa atau pengobatan non surgical lainnya Gejala klinis yang berhubungan dengan aktivitas sinovitis adalah kaku pagi hari. Beberapa aspek lain yang berhubungan dengan sendi yaitu :

a.       Vertebrata Servikalis, merupakan segmen yang sering terlibat pada RA. Proses inflamasi ini melibatkan persendian diatrodial yang tidak tampak oleh pemeriksaan. Gejala dini umumnya bermanifestasi sebagai kekakuan pada seluruh segmen leher disertai dengan berkurangnya lingkup gerak sendi secara menyeluruh.

b.      Gelang bahu, pergelangan gelang bahu akan mengurangi lingkup gerak sendi gelang bahu.

c.       Kaki dan pergelangan kaki, keterlibatan persendian metatarsophalangeal (MTP), telonavikularis dan pergelangan kaki merupakan gambaran yang khas pada RA.

d.      Tangan, keterlibatan persendian pergelangan tangan, metacarphophalangeal (MCP), dan proximal inerphalageal (PIP) hampir selalu dijumpai pada RA.

Manifestasi ekstraartikular pada RA meliputi :

a.       Konstitusional, 100% terjadi pada pasien RA dengan ditandai adanya penurunan berat badan, demam >38,30 C, kelelahan dan pada banyak kasus sering terjadi kaheksia (malnutrisi) yang secara umum merefleksi derajat inflamasi dan biasanya mendahului terjadinya gejala awal pada kerusakan sendi.

b.      Nodul, merupakan level tertinggi pada penyakit ini dan terjadi 30 – 40% pada penderita.

c.       Sjogren’s syndrome, terjadi hanya 10% pasien dengan ditandai adanya keratoconjutivitas sicca (dry eyes).

d.      Vaskulitis, hanya terjadi <1% pada penderita dengan penyakit RA yang sudah kronis.

e.       Limfoma, resikonya pada pasien RA mencapai 2–4 kali lebih besar dibandingkan populasi umum. Hal ini disebabkan karena penyebaran B-cell lymphoma secara luas.

 

E.     Penatalaksanan Pengobatan ( Diagnosa, Pengobatan Farmakologi & Non Farmakologi )

1.      Diagnosa (1)

Selama ini diagnosis AR emakai kriteria ACR tahun 1987 dengan sensitivitas 77 % - 95 % dan spesifitas 85% - 98% Tapi kriteria ini mulai dipertanyakan kesahihannya dalam mendiagnosis AR dini sehingga dipandang perlu untuk menyusun kriteria baru yang tingkat kesahihannya lebih baik Saat ini diagnosis AR di Indonesia mengacu pada kriteria diagnosis menurut American College of Rheumatology/European League Against Rheumatism yaitu :

                

Tabel II.1 . Kriteria klasifikasi Arthritis Rheumatoid (1)

 

Kriteria ini ditunjukan untuk pasien baru. Disamping itu, pasien dengan gambaran erosi sendi yang khas AR dengan riwayat penyakit yang cocok untuk kriteria sebelumnya di klasifikasikan sebagai AR. Pasien dengan penyakit yang lama termasuk yang penyakit tidak aktif (dengan atau tanpa pengobatan) yang berdasarkan data – data sebelumnya didiagnosis AR hendaknya tetap diklasifikasikan sebagai AR. Pada pasien dengan skor kurang dari 6 dan tidak diklasifikasikan sebagai AR kondisinya dapat dinilai kembali dan mungkin kriterianya dapat terpenuhi seiring berjalannya waktu. Terkenanya sendi adalah adanya bengkak atau nyeri sendi pada pemeriksaan yang dapat didukung oleh adanya bukti sinovitis secara pencitraan. Sendi DIP, CMC I, dan MTP I tidak termasuk dalam kriteria. Penggolongan distribusi sendi diklasifikasikan berdasarkan lokasi dan jumlah sedni yang terkena, dengan penempatan kedalam kategori yang tertinggi yang dapat dimungkinkan.

·         Sendi besar adalah bahu, siku, lutut, pangkal paha dan pergelangan kaki.

·         Sendi kecil adalah MCP, PIP, MTP II-V, IP ibu jari dan pergelangan tangan. Hasil laboratorium negatif adalah nilai yang kurang atau sama dengan batas atas ambang batas normal;

positif rendah adalah nilai yang lebih tinggi dari batas atas normal tapi sama atau kurang dari 3 kali nilai tersebut; positif tinggi adalah nilai yang lebih tinggi dari 3 kali batas atas. Jika RF hanya diketahui positif atau negatif, maka positif harus dianggap sebagai positif rendah Lamanya sakit adalah keluhan pasien tentang lamanya keluhan atau tanda sinovitis (nyeri, bengkak atau nyeri pada perabaan) Dalam menegakkan diagnosis AR sangatlah penting untuk mengelompokkannya berdasarkan waktu dimana dikatakan recent onset jika sudah menderita kurang dari 2 tahun.

Diagnosis Banding

 Pada kasus dengan poliartritis inflamasi selain AR perlu dipertimbangkan diagnosis banding:

1. Spondiloartropati seronegatif, misalnya artritis psoriatik.

2. Artritis gout poliartikular

3. Lupus eritematosus sistemik

4. Artritis reaktif

2.      Pengobatan Farmakologi (1)

a.       Terapi Non-Farmakologis :

1) Edukasi Pasien.

Edukasi pasien meliputi penjelasan mengenai penyakit RA terhadap pasien, bagaimana perjalanan penyakitnya, dan kondisi pasien saat ini. Pasien juga diberitahu tentang resiko dan keuntungan pemberian obat.

2) Diet dan terapi komplementer.

Pengaruh diet tidak berpengaruh terhadap perjalanan penyakit, namun disarankan untuk diet banyak makan sayuran, buah, ikan serta mengurangi konsumsi lemak atau daging merah.

3) Latihan atau program rehabilitasi.

Pada saat terdiagnosis RA direkomendasikan untuk melakukan latihan fisik aerobik. Latihan fisik disesuaikan secara individual berdasarkan kondisi penyakit dan komorbiditas yang ada.

Terapi fisik dengan menggunakan laser kekuatan rendah dan TENS (transcutaneos electrical nerve stimulation), efektif mengurangi nyeri dalam jangka pendek.

Terapi psikologis yang diberikan seperti relaksasi, mengatasi stres, dan memperbaiki pandangan hidup yang positif, dapat membantu pasien RA menyesuaikan hidup dengan kondisi mereka.

b.      Terapi Farmakologis

Tujuan dari pengobatan RA yaitu untuk :

1)      Menghilangkan gejala inflamasi baik lokal maupun sistemik.

2)      Mencegah terjadinya destruksi jaringan.

3)      Mencegah terjadinya deformitas dan memelihara fungsi persendian agar tetap dalam keadaan baik.

4)      Mengembalikan kelainan fungsi organ dan persendian yang terlibat agar dapat menjadi normal kembali.

Terapi RA harus dilakukan sedini mungkin supaya menurunkan angka perburukan penyakit. Beberapa ahli menganjurkan untuk menggunakan pendekatan step down bridge dengan menggunakan kombinasi beberapa jenis DMARD (Disease Modifying Anti Rheumatic Drugs) yang dimulai sejak dini kemudian dihentikan secara bertahap pada saat aktivitas RA sudah dapat terkontrol.

a)      Terapi DMARD

DMARD berfungsi mengurangi kerusakan sendi, mempertahankan integritas dan fungsi sendi serta meningkatkan produktivitas pasien RA. Golongan DMARD yang sering digunakan pada pengobatan RA yaitu MTX (metroteksat), sulfasalazin, leflunomid, klorokuin, siklosporin, azatioprin. DMARD bersifat slow acting yang menghasilkan efek 1-6 bulan pengobatan. Pemberian DMARD dapat diberikan tunggal atau kombinasi. Pada pasien yang tidak respon dengan pengobatan DMARD dengan dosis dan waktu optimal, diberikan pengobatan DMARD tambahan atau diganti dengan jenis DMARD lainnya

Prinsip–prinsip penggunaan DMARD pada pasien RA adalah :

1.      Semua pasien yang terdiagnosa RA sedini mungkin diberikan DMARD kurang lebih 3 bulan pertama setelah mengalami gejala.

2.      Pemilihan jenis DMARD ditentukan atas 3 faktor yaitu, faktor obat yang dilihat dari keefektifitasnya, waktu yang diperlukan obat untuk menghasilkan khasiatnya dan biaya pengobatan. Faktor pasien, yang bisa dilihat dari

kepatuhan pasien, komorbiditas, beratnya penyakit dan kemungkinan prognosisnya. Faktor dokter, dilihat dari kompetensi dalam pemberian obat dan pemantauan obat. Cara memulai dan menghentikan DMARD pada pasien RA yaitu :

1.      Pertimbangkan pengobatan jangka pendek dengan glukokortikoid untuk memperbaiki gejala secara cepat pada pasien yang baru terdiagnosa RA jika belum menerima glukokortikoid sebagai bagian dari terapi kombinasi dengan DMARD.

2.      Pada pasien yang merespon cepat pada terapi kombinasi DMARD dan memberikan hasil yang memuaskan, kurangi dosis obat dengan hati-hati.

3.      Pada pasien yang baru terdiagnosis RA tidak boleh diberikan kombinasi DMARD apabila pasien memiliki riwayat penyakit penyerta, dimulai monoterapi DMARD.

4.      Pada pasien RA yang kondisi penyakitnya sudah stabil, kurangi dosis DMARD dengan hati-hati.

5.      Ketika memulai obat baru untuk memperbaiki pengendalian penyakit pada rejimen pengobatan pasien RA, pertimbangkan mengurangi atau menghentikan obat DMARD yang sudah ada saat penyakit telah dapat dikendalikan.

Jenis DMARD yang digunakan pada pengobatan rheumatoid arthritis adalah:

1)      Metotreksat

Metotreksat saat ini digunakan sebagai lini pertama dalam pengobatan rheumatoid arthritis. Obat ini mampu menghambat produksi sitokin dan menstimulasi pelepasan adenosin. Dosis yang digunakan adalah 7,5-15 mg/minggu. Metotreksat memiliki onset yang cepat, hasilnya dapat dilihat setelah 2-3 minggu terapi. Metotreksat dikontraindikasikan pada ibu hamil, ibu menyusui, pasien dengan gangguan hati kronis dan pasien dengan gangguan ginjal. Penggunaan metotreksat pada usia lanjut perlu di hindari dan dipantau dengan hati-hati karena dapat menurunkan metabolisme, menurunkan fungsi ginjal dan adanya interaksi dengan riwayat penyakit. Pasien juga harus mendapatkan asam folat saat menggunakan metotreksat, karena metotreksat dapat menyebabkan defisiensi asam folat. Efek samping dari obat ini adalah mual, diare, dan muntah.

2)      Sulfasalasin

Sulfasalasin merupakan suatu prodrug yang diubah menjadi obat oleh bakteri di dalam kolon, dimana obat ini metabolitnya diekskresikan lewat urin. Efek antireumatik dapat dilihat setelah 2 bulan. Dosis yang digunakan yaitu 2x500 mg/hari ditingkatkan sampai 3x100 mg.

3)      Hidroksiklorokuin

Hidroksiklorokuin biasa digunakan pada rheumatoid arthritis ringan atau sebagai adjuvant pada kombinasi DMARD untuk penyakit yang lebih progresif. Onset dari obat ini salama 6 minggu. Dosis yang diberikan adalah 6,5 mg/kg bb/hari.

4)      Leflunamid

Leflunamid bekerja menghambat enzim dihidroorotat dehydrogenase sehingga pembelahan sel limfosit T auto menjadi terhambat. Dosis yang digunakan adalah 20 mg/hari.

5)      Siklosporin

Siklosporin bekerja menghambat IL-1 dan IL-2. Dosis yang digunakan adalah 2,5-5 mg/kgbb. Efek samping yang dapa terjadi adalah gagal ginjal. Pengobatan OAINS. OAINS merupakan obat yang mampu menghambat enzim siklooksigenase (COX) sehingga mampu menghambat pembentukan prostaglandin, prostasiklin, dan trombokson, maka OAINS mempunyai sifat analgesik, antipiretik, dan antiinflamasi. Pemakaian OAINS mampu mengurangi kekakuan yang terjadi pada rheumatoid arthritis. Pemberian OAINS pada pasien RA tidak mempengaruhi perjalanan penyakit ataupun mencegah kerusakan sendi. Penggunaan OAINS pada pasien RA harus diberikan dengan dosis efektif serendah mungkin dan dalam waktu sesingkat mungkin. Penggunaan kombinasi OAINS harus dihindari karena tidak akan menambah efektivitas tetapi meningkatkan efek samping

Beberapa OAINS yang sering digunakan dalam terapi rheumatoid arthritis yaitu, diklofenak yang merupakan turunan asam fenilasetat dan merupakan non selektif inhibitor COX, meloxicam merupakan enolkarboksamida yang berkaitan dengan piroxicam dan terbukti menghambat COX-2 daripada COX-1 khususunya dalam penggunaan dosis rendah 7,5 mg/hari, celecoxib dan rofecoxib merupakan

selektif COX-2.

 

c.       Pengobatan Agen Biologik

Penggunaan agen biologik diberikan pada pasien yang tidak menunjukkan respon baik dengan kombinasi DMARD. Penggunaan agen biologik yang baru diharapkan dapat mengontrol penyakit rheumatoid arthritis. Agen biologik merupakan molekul protein hasil rekayasa genetika yang menghambat sitokin proinflamasi TNF-α (infliximab, etanercept, adalimumab) dan IL-1 (anakinra). Obat ini efektif digunakan jika penggunaan DMARD gagal, namun harganya jauh lebih mahal untuk digunakan.

 

d.      Pengobatan Kortikosteroid

Kortikosteroid oral dosis rendah atau sedang dapat digunakan dalam pengobatan rheumatoid arthritis. Kortikosteroid yang biasa digunakan dalam pengobatan RA yaitu prednison dan metilprednisolon. Penatalaksanaan kronis dapat digunakan prednison dosis rendah 5-10 mg/hari untuk pengendalian aktivitas penyakit pada pasien rheumatoid arthritis. Namun, penggunaan terapi prednison dosis rendah beresiko osteoporosis. Glukokortikoid dosis tinggi diperlukan untuk pengobatan ekstraartikular berat pada rheumatoid arthritis. ACR merekomendasikan pencegahan primer osteoporosis akibat glukokortikoid dengan bisphosphonate.

Pasien Diabetes Melitus tidak takut dengan injeksi insulin lagi karena ada insulin inhaler saat ini

 Diabetes melitus merupakan gangguan metabolik kronik yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah. Peningkatan jumlah penderita diabetes secara dramatik menjadi tantangan di bidang kesehatan secara global (Hu, et al., 2016). Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dalam National Diabetes Statistics Report (2017), melaporakan bahwa pada tahun 2015, sekitar 30.3 juta populasi dari semua usia di US menderita penyakit diabetes. Persentase penderita diabetes meningkat dengan bertambahnya usia, 25.2% diantaranya berusia 65 tahun ke atas. Sekitar 5% dari populasi penderita diabetes tergolong ke dalam diabetes tipe 1 (CDC, 2017).

Sebagian besar pasien diabetes diresepkan insulin, dengan alasan karena tubuh mereka tidak mampu memproduksi insulin (diabetes tipe 1) atau insulin yang dihasilkan tidak sensitif (diabetes tipe 2). Sekarang, telah ditemukan sistem penghantaran insulin seperti insulin pumps, analog insulin short-acting dan longacting, serta transplantasi islet Langerhans atau keseluruhan pankreas, tetapi penyakit DM tetap menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang signifikan (Hultstrom, et al., 2014). 

Masalah terkait terapi insulin timbul akibat injeksi berulang setiap hari dan pengambilan sampel darah yang mengakibatkan rasa sakit serta timbul trauma atau kerusakan pada kulit sehingga sulit untuk mencapai rejimen pengobatan yang optimal. Diketahui bahwa mayoritas pasien diabetes tidak percaya diri untuk mengendalikan penyakitnya tersebut dan 1 dari 5 anak penderita diabetes melakukan injeksi yang tidak sesuai (Koryrkowski, et al., 2005). Setiap empat orang pasien diabetes yang diterapi dengan insulin, mengalami kecemasan akibat self injection (Koryrkowski, et al., 2005; Owens, et al 2003). 

Kepatuhan terhadap rejimen pengobatan cenderung lebih tinggi jika prosedurnya sederhana dan tidak menimbulkan rasa sakit (Korytkowski, et al., 2003). Administrasi insulin melalui gastrointestinal dan nasal sejauh ini tidak berhasil, tetapi inhaler insulin baru saja dikembangkan dan disetujui (White, et al., 2005). Namun, karena insulin adalah faktor pertumbuhan yang poten, ada kekhawatiran bahwa deposisi insulin intraalveolar dapat mengganggu fungsi paru, (Woods, et al., 2005; Mandal, 2005). Olehkarena itu, rute lain lebih disukai, yang tidak membahayakan, mengutamakan kenyamanan dan kesehatan pasien diabetes di masa depan. 

INSULIN INHALER

Insulin merupakan makromolekul protein dengan ukuran partikel yang besar dimana tidak mudah diabsorbsi ke dalam alveoli pada paru-paru.  Insulin inhalasi merupakan metode baru untuk pengobatan diabetes. Penggunaan insulin inhalasi merupakan sistem penghantaran insulin yang lebih efektif untuk pengobatan diabetes tipe 1 dan tipe 2 karena insulin inhalasi menggunakan sistem penghantaran insulin melalui sistem pulmonary.

Keuntungan Insulin Inhaler

  • Mudah dan aman dalam penggunaan
  • Onset lebih cepat (15-20 menit)
  • Dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam pengobatan
  • Membantu untuk mengontrol kadar glukosa darah agar optimal
  • Meminimalkan degradasi oleh enzim dan menghindari first-past metabolism. 
  • Menurunkan resiko hipoglikemi
Kerugian Insulin Inhaler

  • Kontraindikasi pada pasien dengan gangguan penyakit paru seperti asthma dan PPOK
  • Dapat menimbulkan reaksi batuk pada saat penggunaan
Apasaja produk insulin inhaler saat ini :

EXUBERA
Sistem insulin inhalasi ini mengandung serbuk insulin dan diformulasi dalam bentuk blister, serbuk insulin terletak pada chamber dari Exubera inhaler. Penggunaan produk ini dengan pemanfaatan teknologi rekombinan DNA.  Insulin dalam blister mengandung dosis 1 mg atau 3 mg insulin dan eksipien natrium sitrat dihidrat (buffer dan stabilizing agent), mannitol (stabilizing dan bulking agent), glisin (buffering agent), dan natrium hidroksida.










AFREZZA

Afrezza merupakan sistem inhalasi yang terdiri dari formulasi serbuk kering insulin rekombinan dan Fumaryl diketopiperazine (FDKP) dengan penambahan eksipien. 










PEMBUATAN INSULIN INHALASI

Teknik Recombinan DNA

Isolasi plasmid dari bakteri e.coli Plasmid yang telah diisolir dipotong pada segmen tertentu menggunakan enzim restriksi endonuklease. DNA yang di isolasi dari sel pankreas dipotong pada suatu segmen untuk mengambil segmen pengkode insulin.  DNA pengkode insulin disambungkan pada plasmid menggunakan bantuan enzim DNA ligase. Hasil berupa kombinasi DNA kode insulin dengan plasmid bakteri yang disebut DNA rekombinan.  DNA rekombinan yang terbentuk disisipkan kembali ke sel bakteri. Bila bakteri E. coli berkembang biak, maka akan dihasilkan koloni bakteri yang memiliki DNA rekombinan.

Pembuatan Serbuk Insulin

Kristal massal insulin  dilarutkan dalam sodium sitrat buffer yang mengandung eksipien (manitol, atau rafinosa) untuk memberikan padatan akhir konsentrasi 7,5 mg / ml dan pH 6,7 ± 0,3 .  Spray dryer dioperasikan dengan suhu inlet antara 110°C sampai 120°C dengan kecepatan 5 ml/menit, suhu yang dihasilkan antara 70°C dan 80°C. Larutan kemudian disaring melalui filter berukuran 0,22 μm dan disemprot ke dalam Buchi Spray Dryer agar membentuk bubuk amorf putih halus. Bubuk yang dihasilkan disimpan dalam wadah tertutup rapat di lingkungan kering.


Cara Evaluasinya bagaimana :
  1. Deteksi insulin menggunakan perangkat HPLC
  2. Dibuat larutan standar dengan melarutkan 5,8 mg insulin bovine dalam 10 HCL 0,01 N. 
  3. Sampel yang mengandung insulin A21, ORP dan HMWP dianalisis pada 0, 30, 90, dan 180 hari setelah produksi serbuk.
  4. Fase diam yang digunakan C18 simetri 300TM (250 x 4.6mm, 5 μm, Waters Corp., Milford, MA, USA). Fase gerak yang digunakan terdiri dari campuran asetonitril dan fase A 74 : 26 v/v
  5. Fase A ini disiapkan dengan melarutkan 28,4 gram natrium sulfat anhidrat dalam 1 L air suling. Ditambahkan 2,7 mg asam fosfat 85% w/v dan disesuaikan PH menjadi 2,3 dengan enatolamin. 
  6. Dideteksi pada panjang gelombang 214 nm. Hasil kuantifikasi insulin harus linear dengan range antara 11 dan 58 μg/ml (R2=0,999). Faktor tailing insulin dengan peak 1,1 dan faktor simetri 1,2.

Test Stabilitas Insulin 
  1. Dry insulin dimasukkan ke dalam vial transparan yang ditutup dengan penutup karet yang kemudian dilapisi dengan aluminium kemudian disimpan pada suhu 25oC dengan Rasio 60%. 
  2. Sampel yang mengandung insulin A21, ORP dan HMWP dianalisis pada 0, 30, 90, dan 180 hari setelah produksi bubuk.
  3. Pengujian stabilitas ini dilakukan sama pada penyimpanan 5oC





Tugas dan Tanggung jawab Apoteker Pengelola Apotek

     

     Apoteker Pengelola Apotek sebagai pengelola apotek memiliki tugas dan tanggung jawab dalam mengelola apotek terutama berkaitan dengan fungsi  apotek sebagai unit pelayanan kesehatan sekaligus sebagai institusi bisnis.

Tugas dan tanggung jawab tersebut meliputi berbagai bidang yaitu:

  1. Bidang Pengabdian Profesi
  1. Melakukan penelitian seperlunya terhadap semua jenis obat dan bahan obat yang dibeli secara kualitatif dan kuantitatif.
  2. Mengadakan pengontrolan terhadap bagian pembuatan.
  3. Mengadakan pengontrolan serta pengecekan terhadap pelayanan atas resep yang telah dibuat dan diserahkan kepada pasien.
  4. Memberikan informasi tentang obat pada pasien, dokter, dan sebagainya.
  5. Menyelenggarakan komunikasi dengan mengusahakan segala sesuatunya agar dapat melancarkan hubungan keluar, masalah survei pasar, promosi dan publikasi.
  1. Bidang Administrasi
  1. Memimpin, mengatur, serta mengawasi pekerjaan tata usaha, keuangan, dan perdagangan.
  2. Membuat laporan-laporan keuangan dan surat menyurat.
  3. Mengadakan pengawasan, penggunaan, dan pemeliharaan akte perusahaan.
  1. Bidang Komersial
  1. Merencanakan dan mengatur kebutuhan barang (obat, alat kesehatan, dll) untuk suatu periode tertentu sesuai aturan yang berlaku.
  2. Mengatur dan mengawasi penjualan dalam bentuk resep maupun penjualan bebas, langganan dsb.
  3. Menentukan kalkulasi harga dan kebijakan harga.
  4. Berusaha meningkatkan penjualan.
  5. Memupuk hubungan baik dengan para pelanggan.
  6. Menentukan kepada siapa dapat dilayani kredit atas pembelian obat.
  7. Mengadakan efisiensi dalam segala hal.
  1. Bidang Tanggungjawab dan Wewenang
  1. Internal, bertanggung jawab mengenai segala aktivitas perusahaan kepada PSA. Eksternal bertanggungjawab kepada Departemen Kesehatan.
  2. Memimpin dan menggelola karyawan dalam melakukan pengabdian profesinya.
  3. Mengatur sistem penerimaan pegawai dan sistem penggajian

PEMAHAMAN MASYARAKAT TERHADAP OBAT ANTASIDA

        Antasida adalah sediaan yang mengandung senyawa organik dan dapat meningkatkan kerja lambung atau mempunyai kemampuan menetralkan atau mengurangi keasaman dalam lambung. Senyawa-senyawa ini tidak menetralkan asam lambung secara keseluruhan atau membuat pH lambung menjadi pH 7.0 tetapi menetralkan 90% asam lambung sehingga pH lambung menjadi pH 2.3 atau menetrlkan asam lambung menjadi pH 3.3. Antasida tidak mengurangi volume asam lambung yang disekresikan bahkan dapat meningkatkan sekresi asam lambung. (Garnett, 1990)

         Antasida dapat digunakan sebagai profilaksis maupun terapi. Sebagai profilaksis penggunaan antasida di dalam terapi pendarahan lambung dengan menjaga pH lambung di atas 3.5 serta profilaksis dari stres ulcer. Antasida juga digunakan sebagai terapi gastroesophageal reflux disease (GERD), dispepsia non ulcer, gastritis akut, stres ulcer, pendarahan lambung, ulkus peptikum. Selain itu antasida juga digunakan dalam terapi pengobatan lainnya yang mempengaruhi sistem gastrointestinal. Penyakit lain yang membutuhkan terapi dengan antasida tersebut antara lain adalah kondisi uremia, misal pada pasien diabetes mellitus, lesi pada sistem saraf pusat, trauma, luka bakar (Curling’s ulcer), sepsis, cerebrovascular accident, tumor endokrin yang memproduksi gastrin, dan pada pasien yan mengalami operasi serta mendapat obat yang mengiritasi sistem gastrointestinal antara lain NSAID, kortikosteroid, reserpin, kolsikin, alkohol (Garnett, 1990)

            Antasida sering digunakan oleh masyarakat untuk mengatasi sementara penyakit lambung yang ringan sampai sedang. Penggunaan antasida di masyarakat umumnya mengatasi penyakit maag, dan mereka biasanya menggunakan obat untuk mengurangi kelebihan asam lambung. Hal ini dapat membantu mengurangi keluhan gejala serta mempercepat penyembuhan (karena asam lambung mengiritasi jaringan yang mengalami peradangan). Selain itu, masyarakat menghindari juga beberapa makanan, minuman, maupun penggunaan obat tertentu. Banyak pilihan obat yang dapat digunakan dalam penanganan penyakit maag. Bagi masyarakat pilihan pengobatan juga harus berdasarkan pemeriksaan. Untuk pengobatan sendiri (swamedikasi) hanya bersifat menghilangkan gejala penyakit. Bila gejala penyakit tidak kunjung mereda setelah tiga sampai tujuh hari, mereka mengonsultasikannya kepada dokter.

            Namun bila penggunaan antasida diberikan tanpa adanya manajemen yang benar terhadap antasid itu sendiri, maka usaha pengobatan akan menjadi sia-sia. Masyarakat perlu mengetahui tentang bagaimana mengelola antasid untuk mencapai keberhasilan pengobatan demi menigkatkan kualitas kesehatannya. Gerakan keluarga sadar obat merupakan sebagai salah satu bentuk kepedulian ISFI jawa timur terhadap peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia seutuhnya.

              Program dari GKSO (Gerakan Keluarga Sadar Obat) yang utama saat ini adalah DAGUSIBU, dapatkan, gunakan, simpan dan buang obat dengan benar merupakan salahan satu hal yang paling mendasar dalam dunia kesehatan bidang farmasi. Paling mendasar karena informasi DAGUSIBU merupakan inti permasalahan yang berkaitan dengan obat.

            Motto DAGUSIBU yang berisi mengenai cara mendapatkan, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat dengan benar ini sebenarnya sudah lama diperkenalkan di kalangan Apoteker, hanya saja kurang sosialiasi dan pengenalan kepada masyarakat terutama, kalangan awam akan informasi kesehatan.

Cara mendapatkan obat di tempat yang benar meliputi permasalahan mengenai kehadiran Apotek selama ini masih terdapat di daerah kota. Namun seiring berkembangnya perekonomian dan pengetahuan masyarakat, Apotek yang berdiri kini sudah mulai berkembang dan bertambah banyak denagan kualitas pelayanan yang bervariasi. Persoalan yang sering muncul adalah keahlian dan pengetahuan tentang obat yang dijual dan berikan juga berbeda.

           Masyarakat umumnya kurang mendapatkan edukasi mengenai penggunaan obat yang dikonsumsi dengan benar. Selain itu, fenomena yang ada di masyarakat adalah rasa ingin menolong terhadap tetangga, saudara, ataupun sesama, dengan begitu apabila ada yang memiliki keluhan penyakit yang dianggap sama, obat yang tersisa diberikan sebagai bahan uji coba kalau-kalau cocok. Tindakan tersebut akan berbahaya apabila obat yang diminum tidak cocok, atau memiliki efek samping alergi terhadap daya tahan tubuh kita.

           Penyimpanan obat di tempat yang benar juga merupakan hal yang penting. Selama ini masyarakat kurang memperhatikan cara menyimpan obat yang telah digunakan. Bahkan menyediakan kotak obat juga belum banyak dilakukan oleh masyarakat umumnya di Indonesia. Hal ini yang membahayakan apabila di rumah tersebut terdapat anak-anak. Selain itu, terdapat obat yang harus disimpan dengan perlakuan khusus, misalnya ada obat yang disimpan di suhu ruang (25-300C), ada pula obat yang harus disimpan di dalam lemari es. Semua itu bertujuan untuk menjaga stabilitas obat supaya tetap memberikan efek terapi

          Selain itu, masyarakat diharapkan dapat membuang obat dengan semestinya. Sebelum membuang obat , masyarakat perlu mewaspadai tanggal kadaluarsa obat dan kondisi obat tersebut. Apabila batas kadaluarsa obat tersebut masih panjang, diharapkan masyarakat tetap menyimpan obat tersebut tanpa harus diberikan kepada tetangga, saudara, ataupun orang lain. Seharusnya masyarakat membuang obat yang berlabel maupun terbungkus dalam strip adalah dengan cara membuka seluruh kemasan obat tersebut dan membuang ke tempat sampah dalam kondisi yang sudah tidak bisa dikonsumsi orang lain (dihancurkan)


MODEL PERILAKU DALAM KESEHATAN

Alasan orang terlibat dlm kegiatan medis (Kasl & Cobb):

  1. Utk mencegah penyakit/pemeriksaan kesht pd saat gejala penyakit blm dirasakan (perilaku sehat)
  2. 2Utk mendptkan diagnosis penyakit & tindakan yg diperlukan jika ada gejala penyakit yg dirasakan (perilaku sakit)
  3. 3.Utk mengobati penyakit, jika penyakit tertentu telah dipastikan (peran sakit)

FAKTOR - FAKTOR

  1. Ekonomi
  2. Sosiodemografi
  3. Psikologi sosial
  4. Sosial budaya
  5. Organisasional

Model Suchman

  1. Hipotesis: perilaku/orientasi kesehatan dipengaruhi oleh hubungan sosial/ struktur kelompok dg variasi respon individu thd penyakit & perawatan medis
  2. Pola sosial perilaku sakit, tampak pd cara orang mencari, menemukan & melakukan perawatan medis
  3. 4 faktor perilaku sakit: perilaku; sekuensi; tempat/ ruang lingkup; variasi perilaku selama perawatan medis

Perilaku Sakit

  1. . Mencari pertolongan medis dr berbagai pemberi pelayanan
  2. Fragmentasi perawatan medis disaat menerima pelayanan
  3. Menangguhkan/mengundurkan upaya mencari pertolongan sesuai dg gejala
  4. Membatalkan/menghentikan pengobatan

Sekuensi Peristiwa Medis

  1. Pengalaman dg gejala penyakit
  2. Penilaian thd peran sakit
  3. Kontak dg perawatan medis
  4. Jadi pasien
  5. Sembuh/ masa rehabilitasi

Variasi Perilaku

  1. Variasi perilaku ditentukan struktur sosial kelompok:
  2. Tk komunitas (derajat hub sos diukur dg kuat tdknya rasa kesukuan)
  3. Tk persahabatan (solidaritas persahabatan)
  4. Tk keluarga (orientasi thd tradisi & otoritas)

Ketiganya à Parokialisme (keadaan sosial yg ditandai dg kesukuan yg kuat, solidaritas tinggi, berorientasi pd tradisi & otoritas klg)

Model Hochbaum
(Health Belief Model – HBM)

Hipotesis: orang tdk akan mencari pertolongan medis/pencegahan penyakit, bila mereka kurang mempunyai pengetahuan & motivasi minimal yg relevan dg kesehatan; bila mereka memandang keadaan tdk cukup berbahaya; bila tdk yakin thd keberhasilan intervensi medis; bila melihat adanya kesulitan dlm melaksanakan perilaku kesehatan yg disarankan.

Unsur-unsur HBM

  1. Kesiapan melakukan tindakan ditentukan oleh pandangan thd bahaya penyakit tertentu & persepsi thd kemungkinan akibat bila diserang penyakit.
  2. Penilaian thd perilaku esehatan dipandang dr sudut kebaikan & kemanfaatan serta dibandingkan dg perngorban yg dikeluarkan.
  3. “Kunci” melakukan tindakan kesehatan yg tepat hrs bersumber dr internal (gejala penyakit) & eksternal (interaksi interpersonal)

Model S.V. Kasl & S. Cobb

  • Hipotesis: perilaku saat mengalami gejala penyakit dipengaruhi scr lgsg oleh persepsi individu ttg ancaman penyakit & keyakinannya thd nilai manfaat dr suatu tindakan kesht.
  • Model Kasl & Cobb mendukung & mengembangkan model HBM Hochbaum

Model Fabrega
(Decission Making Theoritic)

  • Hipotesis: sakit mrp sesuatu yg telah ditetapkan oleh kebudayaan yg membentuk dasar2 pengambilan keputusan ttg pengobatan medis.
  • Langka2 pengenalan & respon thd penyakit: informasi yg dihargai & dilaksanakan; urutan peristiwa pengambilan keputusan; pengurangan variasi dlm proses & peristiwa medis melalui sturktur yg konstan

4 sistem kesatuan aturan & level pengalaman

  1. Sistem biologis (proses fisiologis & kimiawi)
  2. Sistem sosial (hub dg individu, klp, lembaga)
  3. Sistem fenomenologi (tk kesadaran & pengertian masing2 individu)
  4. Sistem memori (pengalaman sakit disertai sikap & kepercayaan thd kesehatan serta mempengaruhi 3 sistem lainnya)

BENTUK SEDIAAN SUSPENSI


SUSPENSI

A.Suspensiones ( Suspensi )

Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa. Zat yang terdispersi harus halus, tidak boleh cepat mengendap, dan bila digojog perlahan– lahan, endapan harus terdispersi kembali. Dapat di tambahkan zat tambahan untuk menjamin stabilitas suspensi tetapi kekentalan suspensi harus menjamin sediaan mudah di gojog dan di tuang .

Dalam pembuatan suspensi harus diperhatikan beberapa faktor anatara lain sifat partikel terdispersi ( derajat pembasahan partikel ), Zat pembasah, Medium pendispersi serta komponen – komponen formulasi seperti pewarna, pengaroma, pemberi rasa dan pengawet yang digunakan. Suspensi harus dikemas dalam wadah yang memadai di atas cairan sehigga dapat dikocok dan mudah dituang. Pada etiket harus tertera “Kocok dahulu dan di simpan dalam wadah tertutup baik dan disimpan di tempat yang sejuk “.

B. Keuntugan sediaan suspensi antara lain sebagai berikut :

a. Bahan obat tidak larut dapat bekerja sebagai depo, yang dapat memperlambat terlepasnya obat .

b. Beberapa bahan obat tidak stabil jika tersedia dalam bentuk larutan.

c. Obat dalam sediaan suspensi rasanya lebih enak dibandingkan dalam larutan, karena rasa obat yang tergantung kelarutannya.

Kerugian bentuk suspensi antara lain sebagai berikut :

a. Rasa obat dalam larutan lebih jelas.

b. Tidak praktis bila dibandingkan dalam bentuk sediaan lain, misalnya pulveres, tablet, dan kapsul.

c. Rentan terhadap degradasi dan kemungkinan terjadinya reaksi kimia antar kandungan dalam larutan di mana terdapat air sebagai katalisator .

C. Pembasahan Partikel

Dalam pembuatan suspensi, pembasahan partikel dari serbuk yang tidak larut di dalam cairan pembawa adalah langkah yang penting. kadang – kadang adalah sukar mendispersi serbuk, karena adanya udara, lemak dan lain – lain kontaminan .

Serbuk tadi tidak dapat segera dibasahi, walaupun BJ – nya besar mereka mengambang pada permukaan cairan.

Pada serbuk yang halus mudah kemasukan udara dan sukar dibasahi meskipun ditekan di bawah permukaan cairan.

Serbuk dengan sudut kontak ± 90 ْ akan menghasilkan serbuk yang terapung keluar dari cairan. Sedangkan serbuk yang mengambang di bawah cairan mempunyai sudut kontak yang lebih kecil dan bila tenggelam, menunjukkkan tidak adanya sudut kontak .

Serbuk yang sulit dibasahi air , disebut hidrofob , seperti sulfur , carbo adsorben, Magnesii Stearat dan serbuk yang mudah dibasahi air disebut hidropofil seperti toluen , Zincy Oxydi , Magnesii Carbonas .

Dalam pembuatan suspensi penggunaan surfaktan ( wetting agent ) adalah sangat berguna dalam penurunan tegangan antar muka akan menurunkan sudut kontak , pembasahan akan dipermudah.

Gliserin dapat berguna di dalam penggerusan zat yang tidak larut karena akan memindahkan udara diantara partikel – partikel hingga bila ditambahkan air dapat menembus dan membasahi partikel karena lapisan gliserin pada permukaan partikel mudah campur dengan air. Maka itu pendispersian partikel dilakukan dengan menggerus dulu partikel dengan gliserin, propilenglikol, koloid gom baru diencerkan dengan air. ( IMO , 152 )

D. Pada pembuatan Suspensi di kenal 2 macam sistem , yaitu :

a. Sistem Deflokulasi

b. Sistem Flokulasi

Dalam system flokulasi, partikel terflokulasi adalah terikat lemah, cepat mengendap dan mudah tersuspensi kembali dan tidak membentuk cake. Sedangkan pada system Deflokulasi, partikel terdeflokulasi mengendap perlahan – lahan dan akhirnya akan membentuk sendimen dan terjadi agregasi dan selanjutnya cake yang keras dan sukar tersuspensi kembali. ( Farmasetika , 163 )

Cara Pembuatan Suspensi

Suspensi dapat di buat dengan menggunakan 2 metode, yaitu :

1. Metode Dispersi

2. Metode Presipitasi ( Pengendapan ) , metode ini di bagi lagi menjadi 3 macam , yaitu :

  • · Presipitasi dengan pelarut organik
  • · Presipitasi dengan perubahan pH dari media
  • · Presipitasi dengan dokomposisi rangkap

1. Metode Dispersi

Serbuk yang terbagi halus, didispersi didalam cairan pembawa. Umumnya sebagai cairan pembawa adalah air. Dalam formulasi suspensi yang penting adalah partikel – partikel harus terdispersi betul di dalam air, mendispersi serbuk yang tidak larut dalam air, kadang – kadang sukar. Hal ini di sebabkan karena adanya udara, lemak dan lain – lain kontaminan pada permukaan serbuk . ( Farmasetika , 165 )

2. Metode Presipitasi

Dengan pelarut organik dilakukan dengan zat yang tidak larut dalam air,dilarutkan dulu dalam pelarut organik yang dapat dicampur dengan air, lalu ditambahkan air suling dengan kondisi tertentu. Pelarut organik yang digunakan adalah etanol, methanol, propilenglikol dan gliserin. Yang perlu diperhatikan dengan metode ini adalah control ukuran partikel, yaitu terjadinya bentuk polimorf atau hidrat dari kristal. ( Farmasetika , 165 )

Daftar Pustaka

Anief. 1987. Ilmu Meracik Obat. GajahMadaUniversity Press: Yogyakarta.

Anief. Farmasetika . GajahMadaUniversity Press: Yogyakarta.

PENCEGAHAN PENYAKIT ALZAIMER DENGAN VITAMIN B


Dewasa ini, lebih dari 20 juta orang di seluruh dunia didiagnosa mengidap Alzheimer. Penyakit degeneratif fungsi otak ini ditandai dengan menurunnya kemampuan mengingat dan gerak motorik Para pakar kedokteran sudah sejak lama mengetahui, bahwa seiring dengan semakin lanjutnya usia, volume otak kita juga semakin menciut. Setelah melewati usia 60 tahun, rata-rata volume otak manusia berkurang 0,5 persen per tahunnya. Akan tetapi pada sekelompok manusia, laju penciutan volume otak ini dua kali lebih cepat dari rata-rata. Penderitanya dikategorikan mengidap kondisi yang disebut memburuknya kemampuan kognitif kadar ringan atau istilah medisnya MCI. Perlambat Penciutan Otak Penyakit Alzheimer secara medis tidak dapat disembuhkan. Gejalanya ditandai dengan kehilangan memory kadar ringan serta mengalami kesulitan dengan kemampuan berbahasa. Gejala ini belum tentu merupakan pertanda penyakit Alzheimer. Akan tetapi juga para dokter tidak menutup kemungkinan, ini merupakan gejala awal penyakit ini. Penelitian menunjukan, sekitar 50 persen pengidap MCI kemudian juga berkembang menjadi penderita demensia atau pikun. Kini para peneliti di Universitas Oxford di Inggris meyakini berhasil memperlambat penciutan volume otak dan gejala MCI dengan pemberian vitamin B dosis tinggi. Professor David Smith dari departemen farmakologi Universitas Oxford mengungkapkan, “Ini riset pertama di dunia, untuk menunjukan efek modifikasi pada penyakit dalam pengobatan Alzheimer tahap dini atau tahapan pra-Alzheimer. Uji coba lainnya gagal. Tapi yang ini berfungsi.“ Uji Coba dengan Vitamin B Risetnya relatif kecil, dengan hanya 168 responden yang didiagnosa mengidap gejala kemunduran kognitif ringan-MCI. Mereka kemudian dibagi dua kelompok dengan jumlah yang sama. Separuh responden diberi tablet vitamin B6, B12 dan B9 atau asam folat dosisi tinggi yang harus dikonsumsi setiap hari. Separuh lagi yang disebut kelompok pembanding hanya memperoleh tablet yang tidak mengandung vitamin B atau lazim disebut placebo. Setelah ujicoba selama dua tahun, otak masing-masing peserta riset discanner. Kelompok pembanding yang mendapat pil placebo menunjukan pertanda tegas penciutan volume otak. Akan tetapi, perbedaan penciutannya juga relatif kecil dan tidak mencolok dibanding kelompok yang diberi vitamin B dosis tinggi. Rata-rata perbedaan penciutan volumenya sekitar 30 persen, walaupun ada yang mencapai 50 persen. Laju penciutan volume otak ini tidak lebih buruk dibandingkan dengan para pengidap MCI. John Hough, seorang responden berusia 80 tahun dari kelompok yang diberi vitamin B dosis tinggi, meyakini, ia mengalami perbaikan kondisi. “Saya mungkin mengalami kemunduran, tapi tidak ada yang mempedulikannya. Kita hanya peduli jika mulai membaik lagi. Istri saya menganggap saya membaik, jika itu terminologinya.” Artinya, masih dipertanyakan bagaimana berfungsinya hal tersebut? Sejauh ini diketahui, penciutan volume otak berkaitan dengan kadar substansi tertentu yang ada secara alamiah dalam darah manusia yang disebut homocysteine. Semakin tinggi kadarnya, semakin cepat proses penciutan otak. Vitamin B berfungsi menurunkan kadar homocysteine dan dengan begitu memperlambat kecepatan penciutan otak.  Professor Robin Jacoby yang ikut melakukan riset khasiat vitamin B untuk mengerem kecepatan penciutan volume otak memang merasa puas. Namun ia juga masih berhati-hati dalam menyimpulkan hasilnya. “Kami sekarang ini belum memastikan apakah vitamin tersebut akan dapat mencegah atau menunda perubahan mental dari kepikunan. Kami hanya menunjukkan bahwa menciutnya otak diperlambat.“ Efek Sampingan Tentu saja dalam berbagai penelitian serta ujicoba, terdapat peringatan akan dampak sampingannya. Para pakar kesehatan mengetahui adanya kaitan risiko kesehatan dengan pemberian vitamin B dosis tinggi. Salah satunya adalah gejala seperti hilangnya indra perasa pada kaki dan tangan. Juga terdapat sejumlah indikasi kaitan sebab dan akibat antara pemberian asam folat dengan munculnya kanker. Walaupun begitu prof Jacoby menyebutkan, tidak terdapat bukti yang kuat mengenai keterkaitannya, “Dalam riset kami yang relatif kecil, di sana terdapat fakta, lebih banyak relawan yang terkena kanker di kelompok pembanding. Meskipun kita dapat memperkirakan, sejumlah orang akan mengembangkan kanker pada kelompok umur ini.” Justru penelitian itu meningkatkan peluang bagi vitamin B untuk dapat digunakan sebagai obat pencegah penciutan otak. Pasien dapat mengkonsumsi vitamin B dosis tinggi sebagai langkah preventif. “Jika digunakan secara klinis, pasien akan diukur kadar homocystein-nya. Dan jika dianggap berisiko tinggi, mereka disarankan menggunakannya sebagai pencegahan,“ papar Prof. Jacoby. Namun para peneliti juga mengingatkan, bahwa riset mereka baru berada pada tahapan awal. Mereka hanya dapat menunda proses penciutan otak pada manusia lanjut usia, sebuah proses yang diduga berkaitan dengan penyakit Alzheimer. Dalam penelitian belum dapat dibuktikan, bahwa pemberian vitamin B dosis tinggi dapat mengurangi prevalensi penyakitnya. Penelitian lanjutan akan dilakukan untuk mencapai sasaran tersebut, kata para peneliti penyakit Alzheimer di Universitas Oxford Inggris. Harapan bagi Penderita Gejala Alzheimer Walaupun penelitan pemberian vitamin B dosis tinggi untuk mencegah perkembangan Alzheimer baru memasuki tahapan awal, Andrew Ketteringham dari perhimpunan bagi penyakit Alzheimer menyatakan optimis dan mengharapkan hasil yang lebih nyata, “Jika hal ini ada dampaknya pada gejala pikun, berarti peluangnya adalah kemungkinan menunda munculnya gejala pikun. Jika begitu kasusnya, berarti orang-orang dapat hidup lebih baik dengan kepikunannya. Dan kualitas kehidupan mereka juga meningkat pesat akibat hal itu.“ Memang sejauh ini sejumlah industri farmasi terkemuka terus berusaha menemukan obat-obatan untuk menanggulangi masalah demensia atau menurunnya fungsi otak yang terus meningkat di kalangan warga, seiring dengan juga meningkatnya umur harapan hidup manusia. Jutaan Euro sudah diinvestasikan dalam berbagai proyek penelitian dan pengembangan. Namun hingga kini hasilnya tetap belum memuaskan. Diharapkan penelitian pencegahan Alzheimer dengan pemberian vitamin B dosis tinggi, akan memberikan terobosan yang cukup berarti. Paling tidak untuk mengerem kecepatan munculnya gejala Alzheimer pada manusia lanjut usia, dan dengan demikian dapat memperbaiki kualitas hidup mereka. Stephen Beard/Agus Setiawan Editor: Yuniman Farid

PENGELOLAAN LIMBAH PADAT RUMAH SAKIT UNTUK COVID-19


Pengolahan Limbah Cair dan Padat di Rumah Sakit

 

  1. a.      Pengelolaan Limbah Cair

Limbah cair RS adalah semua limbah cair yang berasal dari RS yang kemungkinan mengandung mikroorganisme, bahan kimia beracun dan radio aktif, oleh karena itu proses pengolahan limbah cair RS merupakan hal yang penting yang harus diperhatikan.

1)      Sumber Limbah Cair

Limbah cair yang dihasilkan di Rumah Sakit sebagian berasal dari unit-unit bangunan yang pada umumnya dari kamar mandi, wastafel, WC, pencuci lantai, pencucian alat makan, sisa sampel air yang semuanya bersumber dari ruang rawat inap, rawat jalan, unit perkantoran, kantin, dapur, laundry, kamar mayat, laboratorium, radiologi, ruang operasi dan ruang bersalin.

Limbah cair yang mengalir dari sumbernya jika tidak ditampung di bak pengolahan maka dapat mencemari lingkungan dan mengganggu pemandangan.

2)      Proses Pengelolaan Limbah Cair

Fungsi dari masing-masing unit IPAL

a)      Bak Pengumpul Awal (Influent Chamber)

Bangunan ini berfungsi untuk mengumpulkan air kotor dari masing-masing gedung dan pengatur aliran air limbah yang akan diolah, selanjutnya ke communitor atau bar screen. Apabila communitor tidak beroperasi, maka aliran air limbah dipindahkan ke bar screen baru ke bak aerasi.

 

b)      Communitor

Unit ini berfungsi untuk memotong-motong benda padat yang terbawa air limbah seperti tinja. Communitor ini dilengkapi dengan pisau-pisau pemotong. Benda-benda seperti benang, kain, plastik dan sebagainya dapat menghambat beroperasinya alat ini.

c)      Bar Screen

Unit ini berfungsi sebagai saringan kasar, seperti kain, kaleng, plastik, kayu yang terbawa air limbah. Bar screen hanya menahan kotoran-kotoran/limbah tersebut yang selanjutnya operator yang harus membersihkan.

d)     Bak Aerasi

Unit ini berupa bak dengan ukuran tertentu yang dilengkapi dengan alat-alat untuk melakukan aerasi, diffuser yang merupakan ujung dari pendistribusian oksigen (udara) dari blower. Bak aerasi ini harus mampu menampung air untuk berkontak dengan udara dengan waktu kontak/detensi yang cukup, serta jumlah udara yang cukup sehingga bakteri aerob mampu untuk menghancurkan zat-zat organic yang terdapat didalam air tersebut.

e)      Bak Clarifier

Unit ini berfungsi untuk mengendapkan gumpalan-gumpalan yang terjadi pada proses aerasi, sehingga akan terjadi pemisahan antara air yang lebih jernih dengan endapannya. Volume bak sedimentasi ini harus mampu memberikan waktu untuk mengendapkan gumpalan tersebut.

 

f)       Bak Klorinasi

Unit ini merupakan bak dengan peralatannya untuk melakukan proses desinfeksi, yaitu membunuh bakteri dengan menggunakan kaporit. Unit ini diletakkan pada posisi akhir setelah air limbah hasil pengolahan akan dibuang ke saluran umum.

g)      Sumpit (saluran)

Unit ini merupakan saluran pengaliran air limbah setelah pengolahan menuju ke saluran umum kota.

 Image

Gambar Proses Pengolahan Limbah Cair

  1. b.      Pengelolaan Limbah Padat

Limbah padat rumah sakit merupakan limbah yang berasal dari hasil kegiatan/aktifitas rumah sakit yang sudah tidak digunakan lagi. Limbah padat ini dapat berupa:

1)      Limbah Medis

Limbah yang langsung dihasilkan dari diagnose dan tindakan terhadap pasien, termasuk bahan medis, pembedahan otopsi dan laboratorium, Misal: perban, infus, plester, sisa jaringan tubuh, dan kantong urine.

2)      Limbah Umum

Limbah yang dihasilkan dari perkantoran atau dapur seperti kertas dan sisa makanan.

3)      Limbah Benda Tajam

Limbah yang dikategorikan dapat merobek permukaan kulit, misalnya jarum suntik, pecahan ampul atau limbah yang memiliki permukaan/ujung yang tajam.

Pengelolaan limbah rumah sakit merupakan suatu proses dimana limbah yang dihasilkan ditampung, dikumpulkan, diangkut, sampai dengan dikelola ditempat pembuangan atau pemusnahan akhir dengan menggunakan cara yang benar dan memperhatikan aspek kesehatan, ekonomi, pelestarian lingkungan dan kemudahan.

1)      Proses Pengelolaan Limbah Padat

Limbah padat yang dihasilkan dari setiap kegiatan di rumah sakit perlu ditampung dalam suatu tempat dengan cara yang benar, sebab apabila penampungan limbah tidak benar maka akan menjadi tempat bersarangnya serangga terutama lalat.

Limbah biasanya ditampung di tempat produksi limbah untuk waktu beberapa lama. Untuk itu setiap unit disediakan suatu tempat penampungan dengan bentuk  dan ukuran serta jumlah yang sesuai dengan jenis dan jumlah limbah serta kondisi setempat. Sebaiknya limbah medis tidak dibiarkan terlalu lama, minimal dalam 1x24 jam harus sudah dibuang atau berisi 2/3 dari volume tempat limbah.

Menghitung Stok Minimum Obat di Instalasi Farmasi Rumah Sakit atau Apotek


FARMASI RUMAH SAKIT


            Farmasi rumah sakit adalah seluruh aspek kefarmasian yang di lakukan di rumah sakit. Sedangakan instalasi farmasi rumah sakit (IFRS) adalah suatu bagian/ unit/ divisi atau fasilitas dari rumah sakit, tempat penyelenggaraan semua kegiatan kefarmasian untuk keperluan di rumah sakit itu sendiri (JP Siregar, 2004).

            Tugas utama dari IFRS adalah pengelolaan, pengadaan, penyimpanan, penyiapan, peracikan, pelayanan langsung kepada penderita dan pengendalian semua perbekalan farmasi yang digunakan dalam rumah sakit (JP Siregar, 2004).

Lingkup dari IFRS adalah:

  1. Fungsi non klinik (manajerial): meliputi perencanaan, penetapan spesifikasi pemasok, pengadaan, produksi, penyimpanan, pengemasan dan pengemasan kembali, distribusi dan pengendalian semua perbekalan farmasi yang digunakan di rumah sakit
  2. Fungsi klinik: fungsi yang memerlukan interaksi langsung dengan profesi kesehatan lain, meliputi:
    • Pemantauan terapi obat (PTO)
    • Evaluasi penggunaan obat
    • Penanganan bahan sitotoksik
    • Pelayanan di unit perawatan kritis
    •  

    • Pemeliharaan formularium
  • Penelitian
  • Sentra informasi obat
  • Pengendalian infeksi nosokomial
  • Pemantauan dan pelaporan reaksi obat merugikan (ROM), (=ADR: adverse drug reaction)
  • Sistem formularium, panitia farmasi dan terapi
  • Sistem pemantauan kesalahan obat
  • Bulletin terapi obat
  • Program edukasi “in service” bagi apoteker, dokter dan perawat
  • Investigasi obat unit gawat darurat (JP Siregar, 2004)
  1. PENGENDALIAN PERSEDIAAN DAN PENGELOLAAN BARANG

Dalam melaksanakan fungsi manajemen yang berkualitas maka Instalasi Farmasi Rumah Sakit harus menyusun sistem pengendalian persediaan dan pengelolaan barang (obat) secara optimal. Persediaan merupakan harta yang besar jumlahnya, yang diinvestasikan sehingga harus dikelola dengan benar. Pengendalian persediaan yang efektif adalah dengan mengoptimalkan dua tujuan:

  • Memperkecil total investasi pada persediaan
  • Menjual berbagai produk yang benar untuk memenuhi kebutuhan pasien

Tujuan utama pengendallian persediaan:

  • Melindungi dari kerugian
  • Membuat sistem pengadaan atau manufaktur
  • Meminimalkan waktu tunggu
  • Meningkatkan efisiensi transportasi
  • Mengantisipasi fluktuasi permintaan (JP Siregar, 2004)

Secara garis besar agar terkelola dengan baik dapat digunakan siklus manajemen: seleksi, perencanaan dan pengadaan, distribusi dan pemakaian.

Seleksi adalah menetapkan jenis dan jumlah obat sesuai dengan pola penyakit dan kebutuhan pelayanan kesehatan dasar termasuk program kesehatan yang ditetapkan. Dalam kegiatan ini yang bertanggung jawab adalah PFT (Panitia Farmasi dan Terapi) untuk mengidentufikasikan pemilihan terapi, bentuk dan dosis, prioritas obat esensial, menentukan dan memperbaharui standar pengobatan (JP Siregar, 2004).

            Kriteria seleksi obat:

  • Mempunyai rasio manfaat-resiko yang paling menguntungkan penderita
  • Mutu terjamin, termasuk stabilitas dan bioavailabilitas
  • Praktis dalam penyimpanan
  • Praktis dalam penggunaan dan penyerahan
  • Menguntungkan dalam hal kepatuhan dan penerimaan oleh penderita
  • Mempunyai rasio manfaat-biaya yang tertinggi berdasarkan biaya langsung dan tak langsung

Bila terdapat lebih dari satu pilihan yang memiliki efek terapi serupa, pilihan dijatuhkan pada:

  • Obat yang sifatnya paling banyak diketahui berdasarkan data ilmiah
  • Obat yang sifatnya farmakokinetik yang diketahui paling menguntungkan
  • Obat stabilitasnya lebih baik
  • Mudah diperoleh dan sudah dikenal (JP Siregar, 2004).

 

Perencanaan meliputi proses pemilihan jenis dan harga perbekalan farmasi dalam rangka pengadaan. Perencanaan bertujuan untuk :

  • Mendapatkan jenis dan jumlah sesuai kebutuhan dan anggaran (efisiensi keuangan).
  • Menghindari kekurangan dan kelebihan obat.
  • Meningkatkan efektivitas penyimpanan (JP Siregar, 2004).

Metode perencanaan yang biasa digunakan meliputi: metode epidemiologi, metode konsumsi ataupun kombinasi dari keduanya dengan disesuaikan dengan anggaran yang tersedia. Penentuan prioritas obat yang direncanakan berdasarkan:

  • Metode VEN (Vital, Essensial dan Non Essensial)
  • Sistem ABC (Pareto)
  • PUT (Prioritas, Utama, Tambahan) (JP Siregar, 2004).

Pengadaan merupakan proses dalam merealisasikan perencanaan. Prinsip yang digunakan dalam melakukan pengadaan adalah pembelian yang tepat dalam jumlah yang benar dan dengan cara pembelian yang menguntungkan. Tahap-tahap yang perlu dilakukan dalam siklus pengadaan obat:

  • Meninjau jenis obat yang akan dipesan
  • Menentukan jumlah masing-masing obat
  • Meninjau anggaran yang ada kemudian disesuaikan
  • Memilih metode yang paling cocok
  • Memilih supplier yang cocok
  • Membuat surat perjanjian kontrak atau surat pesanan
  • Checking
  • Penerimaan dan pengecekan barang
  • Pembayaran
  • Distribusi obat
  • Pengumpulan data penggunaan obat (JP Siregar, 2004).

Pola kebijakan pengadaan yang sebaiknya dilakukan meliputi:

  1. Dalam jumlah waktu “order lead time” sejumlah minimum persediaan harus ada pada stok (stok minimun persediaan harus ada)
  2. Safety stock dapat digunakan untuk mengurangi biaya yang harus timbul akibat kehabisan stok.
  3. Low average inventory atau rata-rata penyimpanan sediaan yang rendah namun masih dalam batas aman, bisa mengurangi biaya yang hilang akibat penimbunan atau modal mati akibat stok yang berlebihan.
  4. Barang yang bergerak cepat harus dipesan dalam jumlah besar dalam frekuensi yang jarang, sebaliknya barang yang bergerak lambat harus dipesan dalam jumlah kecil pada frekuensi sesuai dengan penggunaan. Pola ini akan mengurangi biaya pengadaan.                         (JP Siregar, 2004).

Agar pelaksanaan pengadaan terus terkontrol dengan baik, maka perlu dilakukan pengendalian pengadaan (Inventory Control) secara rutin. Hal ini bisa dilakukan dengan :

  • Menghitung penggunaan tiap jenis obat dalam periode yang lalu
  • Koreksi terhadap kehilangan
  • Koreksi terhadap stock out (kekurangan stok)
  • Koreksi terhadap safety stock
  • Pertimbangan lead time
  • Koreksi terhadap sisa stok yang ada (JP Siregar, 2004).

Distribusi obat atau penyaluran obat di RS juga bisa mempengaruhi dalam hal pengendalian persediaan, jadi dalam distribusi ada 3 aturan penting yang harus dipenuhi yaitu: keamanan, keutuhan dan kecepatan.(Anonim, 1997)

Kebijakan manajemen tentang jumlah material yang harus ada dalam jangka waktu tertentu harus diterjemahkan sebagai pengendalian terus-menerus untuk memperoleh hasil yang optimal. Jumlah material harus tidak terlalu besar karena jumlah yang terlalu berlebihan tentunya dapat merugikan karena kadaluarsa. Penjadwalan penerimaan serta proses penggunaan material tersebut harus lancar. Faktor biaya juga harus menjadi perhatian, stok yang terlalu besar atau kecil dapat meningkatkan biaya yang tidak diinginkan, sehingga suatu keadaan seimbang harus terpelihara setiap waktu. Dalam proses pengendalian, diperlukan adanya dokumentasi ataupun pencatatan jumlah dan jenis obat yang ada, agar jumlah barang yang ada bisa terus dipantau dengan baik. Pencatatan stok yang tepat dan akurat sangat penting dalam mewujudkan pengelolaan obat yang baik. Pencatatan tersebut merupakan sumber data yang bisa digunakan untuk memperhitungkan kebutuhan. Pencatatan yang kurang baik akan menghasilkan perhitungan yang tidak tepat yang bisa menyebabkan stok kurang maupun stok kadaluarsa. .(Anonim, 1997)

Alasan yang utama melakukan pengelolaan sistem pengadaan obat adalah untuk memastikan ketersediaan tiap obat setiap waktu. Hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen pengendalian persediaan adalah tingkat pelayanan dan safety stocks. Yang dimaksud dengan tingkat pelayanan adalah ukuran penyediaan barang dari gudang, dalam hal ini safety stocks merupakan faktor yang penting. Semakin tinggi tingkat safety stock di gudang maka dapat dikatakan bahwa tingkat pelayanannya semakin bagus. Namun semakin tinggi safety stocks maka akan terjadi peningkatkan biaya penyimpanan. Metode dasar dalam menentukan safety stocks adalah dengan mengalikan waktu tunggu (lead time) dengan rata-rata penggunaan obat selama 1 bulan, namun penyesuaian perlu dilakukan untuk menanggulangi variasi penggunaan obat dan pola lead time yang kadang berubah-ubah. .(Anonim, 1997)

Sistem pengendalian persediaan yang ideal dapat diwujudkan ketika pergerakan stok obat terjadi secara optimal, dimana level penyimpanan diperkecil, konsumsi atau penggunaan obat lancar dan pengiriman obat oleh supplier tepat waktu. Namun hal ini sangat jarang ditemukan. Untuk mewujudkan hal itu perlu dilakukan perhitungan terhadap jumlah barang yang akan dipesan. Perhitungan yang digunakan cukup sederhana yaitu stok minimum-maksimum yang berdasarkan penggunaan barang. Dalam hal ini perlu diperhatikan beberapa hal antara lain:

  1. Average Monthly Consumption (rata-rata penggunaan barang dalam sebulan)
  2. Supplier Lead Time (waktu menunggu kiriman barang dari supplier)
  3. Safety Stocks (stok yang harus ada untuk mencegah kekurangan stok/stocks out)
  4. Reorder Level/ Minimum Stocks Level (tingkat persediaan minimal dimana pada saat stok mencapai nilai ini maka harus diadakan pemesanan stok kembali)
  5. Maximum Stocks Level (stok yang perlu disediakan untuk memenuhi permintaan sampai periode pemesanan berikutnya). .(Anonim, 1997)

Walaupun perhitungan sudah dilakukan, namun perlu juga dilakukan penyesuaian pemesanan barang untuk menghadapi permintaan obat musiman, perubahan yang tidak diharapkan dalam penggunaan obat ataupun perubahan harga obat, dan kemampuan dalam menyimpan persediaan obat. .(Anonim, 1997)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

            Perhitungan persediaan maksimal dan persediaan minimal didasarkan pada jumlah penggunaan obat rata-rata atau dikenal dengan metode “ The Average Monthly Consumption (AMC) “. Dalam tugas ini digunakan data persediaan rata-rata tiap bulan Instalasi Farmasi Rumah Sakit Kanker “Dharmais” berdasarkan data penggunaan obat dalam empat bulan terakhir.

Average Monthly Consumption      =          Jumlah obat yang terjual dalam 4 bulan

                                                                                                      4

Kemudian jumlah rata-rata penggunaan obat tiap bulan dikonversikan menjadi rata-rata penggunaan obat  untuk tiap 2 minggu  (The Average of Two Week Consumption).

Average of Two Week Consumption          =          Average Monthly Consumption

                                                                                                            2

Setelah mendapatkan jumlah rata-rata penggunaan obat dalam 2 minggu (14 hari), maka dihitung safety  stock. Perhitungan tersebut berdasarkan waktu safety stock yaitu 3 hari yaitu:

Safety stock  =   3/14    x   Average of Two Week Consumption

                      =   0,214   x   Average of Two Week Consumption

Setelah mendapatkan jumlah safety stock dicari buffer stock/minimal stock level dari waktu safety stock (3 hari) ditambah lead time atau waktu barang datang setelah pemesanan (2 hari) dibagi 14 hari kemudian di kalikan pemakaian rata-rata obat tersebut selama 2 minggu, yaitu:

Buffer Stock/Minimal Stock Level =   5/14     x   Average of Two Week Consumption

                                                           =    0,357  x   Average of Two Week Consumption

Untuk Maximum Stock Level , perhitungannya berdasarkan minimum stock level ditambah order interval stock dalam kurun waktu tertentu. Order interval stock adalah jarak dalam waktu pemesanan yaitu 14 hari, Maximum Stock Level = Tingkat Persediaan Maksimal

Maximum Stock Level = Tingkat Persediaan Maksimal

                                      =      19/14  x   Average of Two Week Consumption

                                      =     1,357   x   Average of Two Week Consumption

Kemudian data stok minimum dan maksimum yang telah diperoleh ditulis pada kartu stok, sehingga bisa digunakan oleh personil gudang untuk melakukan perencanaan dan pengadaan barang.

 

PEMBAHASAN

 

            Tugas ini disusun untuk menghitung stok minimum dan stok maksimum yang bisa digunakan untuk merancang sistem pengadaan obat di sebuah instalasi farmasi. Stok minimum bisa dihitung dengan menggunakan data rata-rata penggunaan obat selama 2 minggu dikalikan dengan lead time dan safety stock. Stok maksimum dihitung berdasarkan stok  minimum   ditambah order interval stock dalam kurun waktu tertentu.

            Dengan data-data tersebut maka bisa ditentukan bahwa pada saat suatu obat mencapai nilai stok minimum, maka harus dilakukan pemesanan agar tidak terjadi kekurangan obat. Nilai stok maksimum merupakan batas terbesar sejumlah obat harus dipesan, jika pemesanan obat melebihi stok maksimum maka bisa terjadi kelebihan stok, atau stok mati. Selain stok minimum dan maksimum, dihitung juga nilai safety stock dimana safety stok merupakan stok yang harusnya masih ada sebagai cadangan pada saat menunggu obat datang pada saat memesan, sehingga tidak terjadi kekosongan obat

12

            Metode ini diharapkan bisa digunakan sebagai acuan dalam hal pengadaan barang secara terjadwal. Dengan adanya perhitungan stok minimum dan maksimum maka kita bisa memperkirakan kapan waktunya untuk memesan dan berapa jumlah maksimum obat yang harus dipesan. Data-data ini harus secara terus-menerus diperbaharui, karena kemungkinan pola konsumsi dan lead time akan selalu berubah untuk masing-masing jenis obat. Jika perhitungan dilakukan secara manual maka diperlukan waktu dan tenaga khusus yang menangani hal ini, sehingga yang paling praktis dan mudah adalah menggunakan software komputer yang bisa secara otomatis memperbarui jumlah stok minimum dan maksimum obat. Penggolongan jenis obat pada sistem komputer gudang yang digunakan di Instalasi Farmasi RSKD, juga harus diperbaharui karena masih banyak ditemukan item –item obat yang tidak sesuai dengan jenis penggolongan obat.

            Instalasi Farmasi Rumah Sakit Kanker “Dharmais” saat ini sedang membenahi sistem pengadaan dengan menggunakan stok minimal dan stok maksimal yang ada di gudang farmasi sebagai upaya agar pengadaan obat sesuai dengan kebutuhan, sehingga  kebutuhan obat akan terpenuhi, sesuai dengan kebutuhan Rumah Sakit Kanker “Dharmais” dan diharapkan dengan sistem ini akan meningkatkan mutu pelayanan Rumah Sakit Kanker “Dharmais” dalam pelayanan obat.


 

  1. KESIMPULAN
    1. Sistem pengendalian persediaan bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan menghitung stok minimum dan maksimum yang digunakan sebagai acuan dalam melakukan pengadaan..
    2. Stok minimum dan maksimum harus diperhitungkan untuk setiap item obat, karena pola konsumsi untuk beberapa jenis obat memang berbeda-beda.
    3. Dengan sistem ini maka bisa diketahui gambaran pemakaian obat yang secara langsung mempengaruhi pengadaan obat yang ada.
  2. SARAN
    1. Diperlukan perbaikan terhadap penggolongan jenis obat dalam sistem komputer yang ada di gudang, agar memudahkan dalam melakukan pengamatan penggunaan obat.
    2. Perlu adanya sistem komputerisasi dalam melakukan review terhadap jenis obat agar pelayanannya bisa lebih baik.
    3. Perhitungan yang dilakukan harus terus diperbaharui agar bisa menjamin ketepatan pelayanan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

       
     
 
14
 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim, 2006, Bahan Kuliah Farmasi Rumah Sakit I,  Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta.

 

Anonim, 2006, Bahan Kuliah Farmasi Rumah Sakit II,  Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta.

 

Siregar, Charles J.P. dan Amalia, Lia, 2003, Farmasi Rumah Sakit Teori dan Penerapan, EGC, Jakarta.

 

Wolff, James A., 1997, Managing Drug Supply, Kumarian press, United States of America.